Menjadi 20 (1)

 

201

Oke, sebelumnya, umur saya belum 20. Menjelang 20 tepatnya. 7 Agustus nanti baru 20, kali aja ada yang rajin ngasih hadiah. Lah, promosi jadinya.

There is this thing, I’m having lots of worry these days.

Ngapain hidup?

Buat apa hidup?

Mau jadi apa hidup?

Selama ini ngapain aja hidup?

WHY AM I ALIVE?

Bingung.

Hal ini lebih parah lagi kalau ngeliat temen sendiri udah sukses memenangkan sebuah kejuaraan. Atau pergi ke suatu negara untuk mewakili Indonesia dalam suatu ajang. Konteksnya mungkin bukan soal mereka menang, dapat uang, dapat penghargaan, bisa keluar negeri. Bukan, bukan itu tentunya. Tetapi lebih kepada kagum, karena mereka telah menemukan ‘minat’ dan juga mungkin sebenarnya adalah ‘bakat’ mereka.

Tapi kata teman baik saya bingung itu tanda berpikir. Yang ngga baik itu kalau sudah tidak peduli.

Ah ya..

Berpikir, saya terlalu banyak berpikir akhir-akhir ini.

Suatu ketika saya mengendarai motor menuju sebuah toko buku favorit saya. Seperti biasa, hobi saya membeli buku memang harus dipenuhi setiap bulan. Atau setidaknya ketika sedang bosan, membaca buku-buku walau hanya sinopsisnya membantu saya menghilangkan pikiran yang terlalu mumet. Lalu di jalan saya melewati seseorang yang membawa gerobak sampah. Tiba-tiba motor saya berjalan lambat. 40 km/jam. 30 km/jam. 20 km/jam. Kadang malah berhenti.

Merenung.

Seberapa penting saya membaca buku sampai ‘harus’ saya beli bukunya?

Kalau sudah dibeli dan dibaca, lalu untuk apa?

Tidakkah bapak itu lebih butuh uang yang saya punya untuk beli buku?

Lalu untuk apa saya beli buku?

Walaupun saya lelah bertanya pada diri sendiri, pada akhirnya saya melanjutkan perjalanan ke toko buku tersebut. Hati saya mungkin tenang karena berhasil membeli buku yang saya incar. Tetapi hati saya yang lain perih, kenapa saya harus beli buku?

Lalu akhirnya saya cuma duduk-duduk bingung di rumah.

Tapi tak apa, mungkin diri saya sedang mencari jawaban atas banyak hal yang tiba-tiba jadi pertanyaan seperti di atas. Pada dasarnya semua orang mungkin berpikiran tidak jauh berbeda dengan apa yang saya pikirkan. Lebih banyak merenung membuat saya lebih merencanakan banyak hal. Terutama saat belanja.

Ya, saat mengeluarkan uang yang masih di’ulurkan’ oleh orang tua saya.

Banjarmasin, when night is too dark to see anylight.

22.26

Advertisements