Lapindo Bisa Jadi Project Ara?

Saya rada ngaco bikin judulnya, tapi kira-kira itu yang ada di pikiran saya ketika pertama kali terpikir untuk membuat tulisan ini. Mungkin terkesan promosi karena memang saya membawa sebuah nama yang, walau masih asing, saya mengenalnya beberapa waktu yang lalu dari grup jaman MAN dahulu.

Jika bertanya mengapa saya banyak memposting akhir-akhir ini, karena saya merasa perlu membagi apa yang saya miliki. Walaupun tidak lebih dari catatan agar suatu saat bisa saya tatap kembali untuk bangun dari mimpi jangka panjang saya.

Akhir-akhir ini karena memang liburan panjang jadi saya menyempatkan diri untuk menengok televisi. Berhubung saya biasa terpaku dengan laptop selama kuliah berjalan, saya beranikan untuk menengok televisi saat ini. Ternyata banyak yang saya dapatkan, selain sinetron yang belakangan ini saya ikuti dan drama Korea yang tiba-tiba muncul di televisi daerah, saya juga menemukan sebuah berita yang mengupas lumpur Lapindo dan juga Ara, seorang pemudi dengan pemikiran luar biasa.

Berita tentang lumpur Lapindo saya dapatkan sangat terlambat, mengingat saya menghabiskan masa kecil saya di luar negeri sejak tahun 2005. Setelah kembali ke Indonesia tahun 2010, baru saya mengetahui berita tentang lumpur yang muncul dan bahkan dianggap sebagai bencana alam. Tetapi saya tidak membicarakan tentang bagaimana lumpurnya bisa keluar karena saya bukan orang geografi apalagi geologi. Semoga tidak ada yang membaca ini karena mencari sumber tentang lumpur Lapindo ya.

Kenyataan bahwa perusahaan yang sama akan melakukan pengeboran di tempat yang berjarak sekitar 2,5 km dari semburan lumpur lapindo yang ada saat ini memang sangat memberatkan hati. Saya jadi ikut menangis melihat seorang korban yang sedih karena telah 10 tahun kehilangan rumahnya akibat lumpur Lapindo.  Melihat beliau, saya merasa bahwa negeri ini masih butuh banyak tangan untuk tersingsing lengannya. Mungkin masa saya dan teman-teman yang lain sudah hampir datang.

Belum ada yang bisa memastikan bahwa pengeboran yang akan dilakukan kemudian tidak akan mengulang insiden yang sama dengan lumpur Lapindo. Tetapi perusahaan tersebut telah mengantongi izin dari pemerintah pusat maupun daerah sehingga merasa berhak untuk melakukan pengeboran. Selain itu, pemerintah juga –seperti yang saya lihat dari wawancara di tv- bersikeras untuk melanjutkan pengeboran padahal masyarakat banyak sekali yang melakukan penolakan. Satu hal yang saya catat dari orang nomor 2 negeri ini adalah, “Pemerintah menalangi perusahaan untuk mengganti kerugian. Untuk membayarnya, perusahaan butuh uang. Dari mana mereka akan mendapatkan uang jika tidak dengan melakukan pengeboran?”. Mungkin perkataan beliau tidak persis demikian tapi ini mernarik.

Saya mengambil kesimpulan memang belum ada yang bisa memastikan apakah pengeboran akan dilanjutkan atau tidak, walaupun Menteri ESDM meyakinkan bahwaproses menuju pengeboran masih jauh.

Oke, itu satu.

Saya mengganti channel yang saya tonton, tiba-tiba muncul seorang gadis cantik yang saya kenal lewat grup, Ara. Maafkan karena saya lupa nama lengkapnya, setidaknya dia lebih muda umurnya daripada saya. Pertama kalinya saya melihat dia di televisi, gadis yang terkenal dengan Moo’s Projectnya dalam membangun kampung yang ditinggalinya. Sosoknya sangat menginspirasi karena masih muda dan memiliki pemikiran yang luar biasa. Bahkan host dalam program itu saja memuji kecerdasan Ara.

Ara memaparkan bahwa saat ini travel and learning menjadi fokusnya. Ia belajar kepada banyak orang, namun langsung memikirkan apa yang dapat ia berikan kepada orang lain dengan pengetahuan yang telah diperolehnya. Contoh simpelnya tadi begini, Ara belajar jazz dari Trio Lestari, lalu Ara akan langsung memikirkan membuat sebuah charity jazz concert untuk membersihkan sungai. Waw, luar biasa bukan? Saya juga kagum, hehe.

Seorang host bertanya, dapat dari mana semua orang yang akan berperan dalam project tersebut? Ara menjawab, “Jika murid siap, maka guru akan datang.”

Waw, saya mah apa Ra.

Sebelumnya saya sempat merasa kecil, kecil, kecil, kecill sekali, jika mendengar cerita tentang seorang pemuda atau pemudi sukses seperti Ara. Tapi otak saya kini berpikir sebaliknya, seharusnya saya kagum dan bangga dengan adanya orang-orang seperti Ara dan saudara-saudarinya di negeri ini. Orang tua Ara pasti hebat sekali sehingga membawa tiga anaknya menjadi pribadi yang mandiri. Boleh dong Ara, ortunya dibagi-bagi. Bukan dibagi beneran sih, dibagi ilmunya maksudnya. Siapa tau menginspirasi pasangan-pasangan muda ataupun yang tidak lagi muda di negeri ini. Iya kan ya?

As my fond of Ara grow, I came to think: what if Ara tried to make a project for people who are the victims of Lapindo?

Itu yang saya pikir. I mean, she has lots of ideas in her head. So, I hope someday she would think a lot about people in this country, especially victims of Lapindo’s mud. Am I said it right? Oh idk.

Saya pikir tidak semua orang memang seberuntung Ara memiliki orang tua luar biasa sehingga anaknya tumbuh dengan sangat cerdas. Tetapi lebih beruntung lagi kita, jika orang tua Ara mau membantu orang tua lain di negeri ini dalam mendidik anak-anaknya. Akan sangat lebih baik lagi, jika Ara mengajak beberapa pemuda-pemudi di negeri ini untuk belajar sepertinya. Menjadikan mereka teman dan belajar bersama Ara.

Tapi itu hanya mimpi.

Untuk saat ini mimpi. Saya sangat berharap bisa bertemu Ara dan bersama teman pemuda-pemudi Indonesia lain merumuskan masa depan terbaik untuk negeri ini. Mungkin di lauhul mahfuzh sudah tercatatat akan menjadi seperti apa Indonesia di masa depan, tetapi bukankah Allah berfirman bahwa tidak akan Allah merubah suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengusahakannya?

“Selama tidak ada pajak mimpi, maka bermimpilah sepuasnya,” kata Ara.

“Tetapi jangan bermimpi terus. Mulailah dari hal kecil. The first one is the hardest, but it’s the most important step,” ujar Raisa malam tadi.

Banjarmasin, past midnight 00.50

I want to think about you, but give up. It’s better to think about this nation’s people, so I can grow stronger to get hurt later.