Awaiting

Awaiting-p1Since it seems like I don’t have lots of things to do these days, I tried to watch a movie.

Based on a true story. 2014 short movie.

Ada satu movie Korea yang baru saja saya tonton. Ah, mungkin tidak cukup dikatakan movie karna sebenarnya ia hanya sebuah film pendek berdurasi kurang dari 30 menit. Tetapi mungkin karena ceritanya yang sangat menyentuh, sehingga film pendek ini ditayangkan di Hongkong International Film Festival dan juga Busan International Film Festival. Setahu saya keduanya adalah film festival yang cukup terkenal di dunia. Beberapa film pendek terbaik Indonesia juga pernah diputar di sana.

Judulnya “Awaiting”, namun judul Koreanya adalah “Minwoo sii oneun nal”, Hari di Mana Minwoo Datang. Film pendek ini menceritakan tentang seorang wanita bernama Yeonhee. Bagian unik dari cerita ini adalah cara menyajikan sosok Yeonhee yang sebenarnya berusia lebih dari 80 tahun, dalam seseorang yang masih muda yaitu Moon Chaewon. Well, yah saya tahu dia adalah salah seorang aktris Korea yang terkenal dengan aktingnya yang memukau. Setidaknya saya benar-benar merasa perasaan Yeonhee yang diperankan oleh mbak ini.

Yeonhee hidup dalam kesehariannya yang terus diulang, dengan jadwal yang sudah tersusun sedemikian rupa. Setiap harinya Yeonhee akan menerima telepon seorang perempuan bernama Sara, dari Amerika. Lalu beliau mulai merapikan tempat tidur mandi, sikat gigi, menyapu rumah, menyiram bunga, memasak, dan menunggu seseorang datang.

Di deretan foto-foto yang ada, terlihat foto Yeonhee dengan seorang laki-laki yang sepertinya adalah suaminya, diperankan oleh Go Soo. Sedangkan foto lainnya adalah foto seorang nenek-nenek dengan seorang wanita muda yang sepertinya adalah anaknya.

Sebelum memulai hari Yeonhee harus meminum pil. Setelah meminumnya, setidaknya Yeonhee harus mengingat satu kejadian. Jika ia meminumnya 6 kali sehari, maka setidaknya ia dapat mengingat 6 kejadian dalam sehari dan menuliskanya pada kertas yang selalu ia bawa ke mana-mana.

Sosok wanita ini terperangkap pada sebuah nama bernama Minwoo. Bahkan saat ke tempat makan yang menyediakan makanan Pyongyang (ibukota Korea Utara), Yeonhee selalu mengingat bagaimana Minwoo pasti merindukan masakan daerah mereka. Suatu saat, jika Minwoo datang, aku pasti akan membawanya ke sini.

Beliau lalu mengikuti kelas senam yang diikuti oleh nenek-nenek, namun hanya Yeonhee saja dan instrukturnya yang terlihat muda. Walaupun demikian, gerakannya memang terlihat kurang terkoordinasi. Lalu Yeonhee akan mengikuti kelas menyusun balok, hampir seperti anak-anak, dengan seorang nenek dan diinstruksikan oleh seorang dokter muda. Lalu beliau akan ke pasar, membeli ikan, membeli bunga dan duduk di pinggir jalan sambil memikirkan apa yang telah dilakukannya seharian. Yeonhee mulai menulis satu persatu lalu terakhir Minwoo.

Penyakitku semakin parah. Jika demikian, apakah aku juga akan melupakan Minwoo dari ingatanku?

Yeonhee ikut pulang dengan seorang bapak-bapak. Yeonhee berterimakasih karena sudah bersedia mengantarkan setiap kali beliau butuh tumpangan. Kemudian si bapak mulai menyinggung soal Minwoo, bagaimana seharusnya Yeonhee bisa saja menitipkan apa yang ingin dibelinya, dan akan diantarkan oleh bapak tadi ke rumah Yeonhee. Atau bisa saja membeli makanan masak. Namun Yeonhee, dengan senyumnya berkata,

“Minwoo pasti kelelahan dan lapar akhir-akhir ini. Dia tidak bisa memakan masakan siapa saja. Dia hanya bisa memakan masakanku. Aku harus menyiapkannya sebelum dia datang,” dan bapak tadi hanya melihat kasihan kepada sosok Yeonhee.

Yeonhee akan pulang dan memasak, lalu menunggu Minwoo datang. Keadaan utara dan selatan sedang tegang, ia berjanji jika Minwoo datang, ia tidak akan membiarkanya melewati perbatasan lagi. Beliau menunggu bahkan sampai teridur. Yeonhee bermimpi Minwoo pulang ke rumah, namun saat dipeluk justru darah keluar dari punggung Minwoo (yang masih tidak diketahui siapa). Setelah dua kali bermimpi, seperti ditumpuk mimpinya, barulah Yeonhee terbangun. Hari sudah pagi, dan di meja masih ada makanan yang ditutup dengan tudung makanan atau apa saya lupa namanya.

Suatu pagi dua orang datang, menyatakan bahwa besok pagi mereka akan membawa Yeonhee ke Pyongyang. Yeonhee seakan bingung dan tidak mengerti apa yang tengah dibicarakan. Kemudian salah satu dari mereka menyebutkan nama Minwoo.

“Kim Minwoo. Anda tahu Kim Minwoo kan? Beliau masih hidup. Kami akan menjemputmu besok pagi jam 6,”

Yeonhee kemudian membaca sebuah surat yang menunjukkan bahwa Kim Minwoo yang berusia 86 tahun telah diketahui identitas aslinya dan masih hidup. Beliau kemudian mendapatkan telepon dari Sara, menyebutkan bahwa penantian beliau selama 60 tahun akhirnya sampai.

“Ingat Yeonhee, namanya Minwoo, dia adalah suami pertamamu. Cinta ayahku bertepuk sebelah tangan tetapi ia malah meninggalkan kita lebih cepat. Di kepalamu hanya ada Minwoo sehingga kau melupakan ayah dan aku. Aku sampai hampir tuli karena kau menyebutnya setiap hari. Namun akhirnya kau dapat menemuinya besok, penantianmu selama 60 tahun tidak sia-sia,”

“Kau tidak perlu bertanya siapa namanya. Catat apa yang ingin kau katakan dan jangan kaku. Aku yakin dia pun merindukanmu. Seandaiknya aku adalah anaknya, kau pasti akan lebih menyukaiku. Seandainya aku terlihat seperti Minwoo pasti kau akan lebih mencintaiku,”

Pada titik ini saya paham Sara adalah anak Yeonhee, namun memanggil ibunya dengan namanya. Sara adalah anak dari pernikahan kedua Yeonhee. Namun demikian, di pikiran Yeonhee hanya ada Minwoo dan ialah yang menyebabkan Yeonhee tidak tinggal dengan Sara serta tidak pernah meninggalkan rumah yang ditempatinya.

Setelah itu berubahlah wajah Moon Chaewon menjadi nenek Son Sook saat melihat ke cermin, bahwa itulah gambaran dirinya sebenarnya. Setelah banyak memasak akhirnya beliau berada di dalam sebuah bus sebagai Yeonhee muda yang bergantian dengan Yeonhee 60 tahun kemudian. Ia berusaha tersenyum mengingat akan bertemu dengan Minwoo lagi.

Namun dua orang yang sebelumnya datang ke rumah Yeonhee mengatakan, bahwa setelah bernegosiasi dengan tentara Pyongyang mereka memutuskan pertemuan keluarga hari itu tidak dapat dilakukan. Lalu terlihat banyak nenek dan kakek di dalam bus yang menangis. Yeonhee tidak dapat menerima sehingga meminta turun dan pintu bus dibukakan.

Yeonhee berjalan menuju tentara yang menjaga perbatasan. Sambil membawa bekal makanan di tangannya ia berkata, “Tidak bisakah kalian membiarkan aku saja masuk? aAu harus menyerahkan ini kepada Minwoo. Aku hanya akan mengantarkan ikan dan sup ini. Bisakah? Atau setidaknya tolong ambil ini dan serahkan kepada Minwoo. Aku mohon, serahkan ini kepada Minwoo,”

Tentara yang melihat Yeonhee terlihat merasa kasihan. Dua orang sebelumnya berusaha untuk mencegah dan mengatakan bahwa lain kali mereka akan membiarkannya masuk. Bekal yang dibawa Yeonhee tumpah. Ia dipaksa untuk kembali masuk ke dalam bus. Yeonhee berusaha untuk tetap memaksa namun tidak cukup memiliki kekuatan.

Ada banyak bus di belakang bus Yeonhee. Pertemuan keluarga kedua negara kali itu batal. Setidaknya saat itu ada sekitar 70.000 orang Korea yang salah diletakkan di Pyongyang yang masih hidup. Diperkirakan dalam lima tahun jumlah mereka akan berkurang sampai 30.000.

Di akhir cerita diperlihatkan bagaimana Minwoo mengambil topi dan berangkat dari rumah. Ia bilang akan kembali pada hari Sabtu, Yeonhee tidak perlu menunggu lama. Yeonhee berusaha mengantar Minwoo sambil berjalan, lalu disuruh masuk ke rumah.

“Aku akan pergi dan kembali nanti,” ucapnya saat itu.

Selesai.

Wah, sebenarnya filmnya hanya 26 menit tapi saya menulisnya sepanjang jalan kenangan. Hahaha. Walau tanpa menonton filmnya secara lengkap, pertama kali melihat adegan di perbatasan saya menangis. Setidaknya itulah yang dirasakan masyarakat Korea setelah perang terjadi beberapa tahun yang lalu.

Tidak perlu lah ya saya menyebutkan keadaan di Palestina, Suriah, Iran, Iraq, dan negara-negara Timur Tengah atau negara lain yang sedang dalam keadaan genting karena peperangan. Walau saya yakin, ceritanya akan jauh lebih sedih dan saya akan menangis siang malam karena tidak sanggup dengan kesedihan tanpa akhir masyarakat di sana.

Saya belajar bahwa peperangan hanya akan membuat lebih banyak orang menderita. Seakan merasakan apa yang dirasakan Yeonhee, menanti seseorang yang entah meninggal atau masih hidup selama 60 tahun. Ah, cinta seperti apa yang membuat seseorang dapat menunggu selama itu?

Berat sekali rasanya jika harus seperti Yeonhee, terkurung dalam bayangan masa lalu tentang cinta dan suami pertamanya. Bahkan tidak tergerak dengan suami kedua yang melahirkan anak bernama Sara. Melakukan hal yang sama setiap hari, memikirkan hal yang sama setiap hari, Minwoo, hanya Minwoo. Lalu ketika memiliki kemungkinan untuk bertemu, tetapi justru…

Ah, dalam keadaan demikian ingin sekalinya menyalahkan seseorang. Tapi siapa? Pemerintah? Bahkan seujung jari menghilangkan kesedihan pun tidak mungkin.

Walaupun demikian mungkin kisah cinta seperti ini akan sulit ditemukan jaman sekarang. Cinta sejati. Cinta selamanya. Well, yah walaupun ngga romantis-romantis banget, tapi lumayanlah untuk meningkatkan rasa cinta pada pasangan *duh. Pasangan hidup ya, bukan pasangan sementara aka pacar. Ha.

Yang ngga suka film mellow yang usah nonton. Cautionnya itu aja sih. Dan susah dicari sebenernya.

 

Rantau, 23.43

Am I searching for you?

Saya dan Dosen Penyandang Tunanetra

Since I’m doing this, at least I need to do my best right here.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat bingung dengan diri saya sendiri. Entah soal program studi yang saya pilih saat ini ternyata jauh melenceng dari minat atau bakat saya, atau memang diri saya yang butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan program studi ini.

PLB, Pendidikan Luar Biasa.

Suatu ketika HIMA PLB FKIP UNLAM, seperti yang pernah saya posting di facebook mengenai Hari Disabilitas Internasional, kami menyelenggarakan kegiatan jalan santai. Semoga suatu saat nanti saya bisa berbagi lebih soal jalan santai kemarin. Pada hari berikutnya, dengan rekomendasi dari ketua prodi untuk menyenggarakan sebuah kuliah umum untuk semua mahasiswa PLB, baik yang reguler atau pun proyek.

Ah ya, saya tidak tahu soal prodi atau jurusan lain, tetapi PLB memiliki kelas proyek yang diisi oleh guru-guru yang mendapatkan beasiswa untuk mengajar sebagai GPK atau Guru Pendamping Khusus.

7 Desember 2015, seorang Professor dari UPI datang ke kampus kami. Beliau adalah narasumber utama kami, Bapak Didi Tarsidi. Sejujurnya saya lupa title beliau, tetapi beliau adalah dosennya dosen-dosen kami di PLB. Jadi saya yakin beliau telah melampaui sekian jenjang pendidikan untuk menjadi diri beliau saat ini.

Kami terperangah.

Saya belum pernah bertemu seseorang penyandang disabilitas yang memang benar-benar sukses dan mandiri dalam hidupnya. Karena itu saya cukup terpana, terkejut, terharu, dan bahagia melihat beliau dengan kacamata hitamdan tongkat masuk ke Aula PLB. Sebelumnya saya akan minta maaf pada Bapak Didi Taridi jika kemudian ada kata-kata saya yang meninggung beliau.

Beliau tunanetra sudah hampir 50 tahun, dengan kehilangan penglihatan sempurna atau totally blindness. Pak Didi menyatakan bahwa beliau masih ingat warna merah, warna biru langit, wajah ayahnya, wajah ibunya, karena beliau kehilangan kemampuan melihatnya sejak berumur 5 tahun. Beliau terkena penyakit campak dan terlambat dibawa ke rumah sakit karena hidup di kampung. Bagian menyedihkannya adalah ibu beliau merasa bersalah karena justru membawa beliau keliling dukun, bidan, mantri atau apa pun di kampung, bukan segera langsung membawa beliau ke rumah sakit.

Setelah beliau sembuh dari penyakit campaknya, Pak Didi dikirim ke sebuah sekolah berasrama yang memberikan pelayanan lebih untuk penyandang disabilitas. Setelah sekian tahun, Pak Didi tidak pernah dijenguk oleh orang tuanya karena dianggap beliau telah menjadi milik negara sehingga tidak boleh dikunjungi oleh orang tua. Walau sebenarnya tidak demikian, hanya salah paham.

Baik, singkat cerita Pak Didi banyak mengisahkan bagaimana beliau menjadi guru Bahasa Indonesia untuk orang asing, usaha beliau meminta untuk dibacakan buku oleh orang lain, dan aksesibilitas yang sangat terbatas saat itu. Beliau hidup dalam keterbatasan tanpa membutuhkan rasa kasihan dari orang lain. Meskipun sesekali beliau tetap menghargai pemberian orang lain, karena mungkin mereka ingin beramal atau sekedar membantu.

Saya sempat meneteskan air mata sementara beliau bercerita tentang bagaimana teknologi sangat amat membantu beliau. Seorang kakak tingkat kami justru menangis sekali ketika mendapatkan kesempatan untuk memberikan pertanyaan kepada beliau. Keadaannya cukup mengharukan, karena nama beliau sering disebut-sebut oleh dosen-dosen kami dan saat itu adalah kali pertama kami bertemu dengan beliau.

Pak Didi juga menunjukkan bagaimana cara beliau menggunakan laptop, handphone, dan cara mudah membaca angka yang tertera pada uang atau membaca buku. Semuanya mudah saat ini, dan beliau sudah sangat banyak membantu menerjemahkan buku-buku asing yang sangat berguna bagi dunia PLB.

“Bagi seorang tunanetra sangat normal untuk belajar hidup sebagaimana orang pada umumnya.”

Penyandang tunanetra bukan berarti tidak mandiri, namun mereka mempunyai cara sendiri untuk mengurus diri. Mereka adalah orang normal di tempat mereka biasa tinggal, belajar, beraktivitas, namun adalah seorang yang sangat membutuhkan bantuan di tempat yang baru. Tidak semua tunanetra butuh untuk dituntun di tempat yang “biasa” untuk mereka, namun membantu adalah kewajiban kita di tempat yang belum pernah mereka kunjungi.

Alat elektronik sudah banyak yang diciptakan untuk mengakomodasi kebutuhan mereka, walaupun masih banyak fasilitas yang berlu dimodifikasi agar “akses”untuk mereka. Mereka bisa menggunakan laptop, handphone, reading box, atau alat lain, namun jalan raya masih banyak yang belum menyediakan akses untuk mereka.

Saya belajar banyak dari Pak Didi. Ketabahan, kesabaran, ketekunan, sehingga beliau menjadi seseorang yang sangat menjadi panutan di dunia. Beliau adalah pejuang hak-hak disabilitas, sekaligus penyandang disabilitas itu sendiri.

Menjadi kecil saya berhadapan dengan beliau. 20 tahun hidup dengan mata awas belum banyak yang bisa saya lakukan untuk masyarakat. Tidak lalu saya merasa yakin bisa menebar manfaat dengan menjalani sisa hidup sebagai penyandang tunanetra. Ya ngga gitu juga sih.

Bapak Didi Tarsidi adalah contoh pasti seseorang yang dapat melampaui keterbatasannya menjadi seseorang yang amat berharga bagi banyak orang. Jika banyak orang masih merasa terbatas dengan apa yang ia miliki saat ini, mengeluh akan keadaan, setidaknya kita bisa menengok beliau. Seterbatas apa pun keadaan kita, adalah pasti Allah menyertakan keleluasaan di belakangnya.

Pak Didi Tarsidi membuka mata kami untuk melihat lebih luas, bahwa ada banyak hal yang masih bisa kita lakukan dengan keterbatasan yang kita miliki. Bukan mengeluh atas keadaan, tapi melampaui keadaan jauh di depannya, mengusahakan lebih baik, menjadi pribadi yang lebih sempurna, mengusahakan segala peluang yang ada.

Siapa tau jodoh datang karena semua usaha yang telah dilakukan untuk menjadikan diri lebih baik. Wakakak, semoga ya.

Saya berharap bisa bertemu Pak Didi lagi, sehingga bisa bertanya lebih banyak tentang beliau.

Berhubung kemarin saya divisi acara yang tidak sempat foto dengan beliau, saya sertakan foto yang saya ambil dari salah satu situs di internet saja ya. Ini adalah foto beliau dengan salah satu kakak tingkat saya di PLB.

Ka Elysa maafin gue make foto lu Kak.

12356476_1712203432342480_1570140994_n

Di akhir tulisan saya merasa lebih baik mengingat 6 dan 7 Desember tahun lalu. Saat ini mungkin saya tengah ragu dengan apa yang saya lakukan, mengapa saya memilih kuliah di prodi ini, mengapa saya memilih menjadi guru, dan segala mengapa yang muncul di kepala saya. Mungkin ini hanya esensi menjadi pemuda, merasa bingung harus menjadi apa untuk melakukan apa atau sebaliknya. Setidaknya saya punya waktu berusaha lebih baik di jalan ini, menjadi seseorang yang pernah dengan berapi-api memotivasi masa lalu saya.

Untuk teman-teman yang juga tengah merasa bimbang dengan hidupnya. SEMANGAT‼P

Salam Luar Biasa!

*maafkan jika typo membludak

 

Kakek dengan Kursi Roda itu

Kakek

Suatu ketika saya pulang dari menjenguk adik saya di Al Falah Banjarbaru. Seperti biasa, saya melewati Jalan Gatot menuju rumah sepupu, karena saya anggap lebih singkat dan padat, biar jadi kalimat yang efektif. Lah apa sih.

Jika melewati jalan di mana saya pernah nyium aspal tempo hari, sebenarnya saya deg deg ples aneh. Karena takut jatuh lagi. Sekitar 3 meter dari tempat kecelakaan saya dulu, saya melewati seorang kakek di kursi roda. Beliau menjalankan kuris roda entah dengan kaki, atau dengan tangan yang memutar roda di samping kanan-kiri beliau. Sepeda motor yang saya kendarai masih lumayan lambat karena takut jatuh lagi di belokan. Setelah memperhatikan beliau dari kaca spion, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti di tanah yang tidak di aspal di kiri jalan.

Saya berlari ke arah kakek tadi,

Kai pian handak ke mana?” tanya saya dalam Bahasa Banjar, mau ke mana Kek?

“Ke sana,” tunjuk kakek tersebut ke arah jalan lurus di depan kami. Samar-samar saya mendengar azan Isya. Saya pikir beliau ingin ke Masjid, tapi tengok kanan-kiri tidak ada masjid di sekitar kami.

Ulun antarakan Kai lah,” kata saya, biar saya antarkan, Kek.

Nah, kada usah, kada usah. Tarima kasih banar, tapi kada usah,” jawab beliau, tidak usah, tidak usah. Terima kasih banyak tapi tidak usah.

Saya terdiam sesaat sampil beliau tetap menolak untuk di antarkan. Beliau terus menolak dengan alasan beliau kuat saja. Saya tetap membujuk agar beliau bisa sampai lebih cepat, tetapi beliau tetap menolak.

Ayuha kai ai, ulun tarus lah,” akhirnya saya mengalah, ya sudah Kek, saya terus ya.

Kakek tersebut berterima kasih kembali dan saya berlari menuju motor saya. Sebenarnya saya ingin melihat kakek tersebut lewat di samping saya sebelum berangkat, tetapi sepertinya justru beliau yang menunggu agar saya pergi terlebih dahulu. Akhirnya saya memutuskan melewati jembatan lebih dulu.

Sambil melanjutkan perjalanan ke rumah, saya terus berpikir mengapa kakek tadi tidak ingin saya antar. Mungkin beliau tidak ingin merasa dikasihani, karena seringnya orang membantu karena kasihan. Tapi tidak ada yang salah dari rasa kasihan menurut saya, karena itu berarti seseorang masih mempunyai hati yang baik dan naluri untuk mebantu.

Lalu saya ingat perkataan asisten dosen yang mengajar Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus saat semester 1 dulu, bahwa jika kita melihat seorang anak tertatih berjalan sambil berpegang pada pagar tidak perlu kita membantu mereka karena merasa kasihan. Jika kita melihat seorang anak berusaha keras naik tangga karena kakinya lemah, tidak tidak harus membantu sesakit apa pun hati kita melihatnya. Karena itu bagian dari mereka belajar untuk mandiri. Jika kita terus membantu, mereka tidak akan mandiri sampai kapan pun.

Saya pikir mungkin kakek tadi demikian. Sudah merasa mampu dan tidak perlu bantuan dari siapa pun untuk menuju ke suatu tempat.

Namun saya ingat lagi Abi yang pernah saya temui setelah sholat Isya dulu. Pernah saya menawarkan beliau untuk naik ke motor yang saya bawa, tapi beliau menolak, hingga akhirnya saya pulang ke rumah sendiri. Saya pikir, mungkin tidak hanya langkah menuju masjid yang dihitung pahalanya, tapi juga saat pulang dari masjid. Tapi sayangnya saya sotoy, jadi mohon diabaikan.

Kakek yang saya temui mengenakan sarung dan kopiah saat itu sehingga saya beranggapan beliau ingin sholat. Pikir saya, beliau ingin memaknai setiap usaha yang beliau lakukan untuk mendorong kursi rodanya sendiri ke masjid. Pasti ada pahala berlipat ganda di baliknya. Hingga pada akhirnya saya mengalah, pasti beliau tidak ingin kehilangan pahala dari usaha yang beliau lakukan karena bantuan yang saya tawarkan.

Namun tidak lalu saya orang baik hanya karena ingin membantu seorang kakek. Setidaknya naluri PLB saya tergerak, namun tanpa mempertimbangkan perasaan di kakek tadi. Beliau mengajarkan saya untuk menghargai setiap usaha orang membangun dirinya sendiri. Bahwa tidak semua usaha, harus dengan bantuan orang lain. Karena walau sendiri, ada banyak hal yang masih bisa dilakukan.

Semoga beliau sehat dan selalu kuat mendorong kursi rodanya.

Sampai jumpa lagi Kakek.

Rumah Sepupu, Banjarmasin, Hujan, Mau pulkam

 

Mencari diri

Saya terduduk di bagian belakang ruangan mencari sesuatu yang benar-benar milik saya, sesuatu yang ingin saya lakukan.
Masa depan, mengapa begitu rumit untuk dirumuskan, setidaknya bagi saya. Terduduk lamaaa di kamar tanpa berbuat apa pun menjadi sesuatu yang kini lebih banyak dilakukan. Mungkin karena liburan, tapi entah. Dunia membuat segalanya berputar.
Saya jadi paham mengapa beberapa pemuda memilih narkoba dan miras jika melihat keadaan saya saat ini. Oh, bukan berarti saya ingin mendekatinya. Tapi cukup paham mengapa seakan tak ada hal yang cukup menyenangkan untuk dilakukan, tidak ada bakat, tidak ada harapan.
Walau saya tidak separah itu, Alhamdulillah.

Mencari diri.
Seakan jauh dan tak kan bertemu, kau kucari.
Walau kini aku bangkit dan menjadi diri lain sesaat. Agar jalan yang ‘pernah’ kupilih dan menjadi jelmaan palsu masa depan tanpa beban.
Aku mencari dirimu, diriku sendiri.
Bahkan dalam lelah yang aku ciptakan tanpa tau ada apa, dalam rebah yang entah kapan berpulang.

Di Rantau

Hidup ini memang sulit ditebak.

Saya yang dulu bermimpi menjadi seorang dokter dan ternyata terjebak di dunia pendidikan, justru belajar pediatri dan anatomi fisiologi genetika di semester ketiga ini.

Abi, yang 10 tahun ini tidak pernah berpisah dengan ummi dalam waktu yg lama, kini sedang bertahan sendiri di perantauan.

Ummi, yang saya pikir dulu tidak akan pernah menyentuh elektronik ternyata sekarang aktif di Line dan WA.

Tiga adik kecil yang kerap bertengkar tempo hari sampai lari-larian ke kamar mandi, sekarang tengah bersekolah di pesantren ketiganya.

Dan bungsu, yang saya ingat persisi perjuangan ummi melahirkannya, tengah duduk di depan laptop melihat video Angry Bird, setelah lelah membaca dan tertidur sebelum saya datang.

Dunia ini, terlalu sulit untuk ditebak. Dan manusia, selamanya tidak akan pernah berharap kesengsaraan datang menimpanya. Sayang, terkadang sengsara itu sendiri hanya bentuk dari ketidakbersyukuran kita terhadap sesuatu. Tempat tinggal, rezeki, studi, pasangan, anak, dosen, teman, dan lainnya.

Saya merenungi banyak hal yang terjadi dalam keluarga kami beberapa bulan terakhir. Di luar semua itu, tentunya saya tidak pernah benar-benar ikut campur dan paham terhadap keadaan sebenarnya. Pendengar, pengamat, dan peneliti murahan saja saya. Dan semua itu hanya untuk pelajaran diri saya pribadi.

Kadang saya ingin, betapa sebelum semua masalah menjadi lebih besar, setiap orang berusaha berpikir mengapa masalah itu terjadi. Wlaau pada akhirnya, mencari alasan mengapa semua itu terjadi tidak menjadikan masalah itu selesai.

Ada banyak hal yang terjadi dan saya hanya ingin kita, saya tentunya, lebih belajar dari banyak kesalahan yang pernah ada, yang pernah kita perbuat.

Rantau, pulang kampung dengan cerita baru.

Diary Mahasiswa

Assalamu’alaikum, teman-teman tercinta.
Bukan maksud zahra menyulitkan semuanya, tapi sepertinya zahra juga mulai kesulitan kalau ada yang bertanya masalah tugas kita yang datang bertubi-tubi tiap minggunya. Jadi maaf banget kalau ada dari temen-temen yang nanya ke zahra lewat bbm atau line terus ga zahra bales. Karena sebenarnya zahra sering bingung.

Oke siip, tugas minggu ini:

Senin (13 April), tugas PKN membuat soal. Setiap kelompok membuat 10 soal, digabung penyaji dan pembahas. Kalau bisa dikomunikasikan, jadinya 5-5 ya. Minggu depannya, 20 April, kita midtes PKN.

Selasa (14 April) mid Autis. Materinya dari presentasi 1-6. Sebenernya ini materinya bisa minta di khairul.

Rabu (15 April) Presentasi ATN, terutama siap-siap buat kelompok 4-6 dst. Kemungkinan 3 kelompok itu yang bakalan presentasi.
Jangan lupa laporan presentasi permainan hiperaktif, dikumpul tgl 15 juga setau zahra. Bentuknya mungkin lebih ke instrumen yang dipakai, gimana jalan presentasi, kekurangan kelebihannya, apa yang perlu diperbaiki dst.

Kamis (16 April) ISBD pelajari tentang Manusia, Keseragaman dan Kesetaraan. Oke, minggu ini kumpulin materi aja. Bukan dikumpulin sih, dipelajari. Minggu depannya tgl 23 sudah ngumpulkan laporan observasi. Contohnya, di dunia ini banyak agama dll dsb.

Untuk psikologi pendidikan ga ada tugas kayaknya.

Oke siip, ini update minggu ini.
Semangat mengerjakan tugas semuanya……:):):)👍👍👍

Diary Fans

Hal Aneh Tentang Kpop

Saya adalah salah satu pecinta Korea, tanpa mengabaikan cinta saya terhadap Indonesia. Atas dasar kecintaan saya terhadap multikultural yang ada di dunia ini, saya menganggap banyak hal di belahan bumi lainnya luar biasa, termasuk Korea.

Kali ini saya akan bercerita atas kegemaran saya terhadap musik Korea. Ini lucu, setidaknya bagi saya. Kpop-lovers tentunya mengerti perasaan saya. Ketika kemarin Baekhyun, salah satu personal EXO (boyband asal Korea), diumumkan.. eh, maksud saya diberitakan berpacaran dengan Taeyeon, personal SNSD (girlband asal Korea). Saya minta maaf sekali untuk pembaca yang tidak mengerti hal ini. Intinya, saya hanya ingin mengungkapkan perasaan saya soal berita kemarin.

Ketika mendengar berita ini saya bahagia. Sebagai salah satu fans Baekhyun, jelas saya harus merasa bahagia. Bagaimana tidak? Seorang artis yang saya idolakan menemukan pujaan hatinya, berpacaran pula. Bagi saya, toh dia bukan orang Islam, jadi tidak masalah. Oke, itu adalah reaksi spontan yang saya miliki. Pastinya, saya harus ikut berbahagia. Ini baru ketika saya membaca tulisan headline-news di salah satu situs tentang Korea. Ketika saya mulai membaca berita, kecewa ternyata saya. Dengan semua pikiran bahagia yang saya miliki, ternyata saya tidak cukup kuat untuk ikut berbahagia. Continue reading

Diary Mahasiswa

Percayalah, Allah Tidak Akan Membuat Kecewa

Bagi saya, menjadi salah satu dari ribuan alumni Insan Cendekia adalah suatu anugerah. Sesuatu yang hanya sebatas angan bagi saya delapan tahun yang lalu.

*

Saya masih kelas lima SD ketika pertama kali mendengar nama Insan Cendekia. Tidak banyak yang saya ketahui saat itu. Saya hanya mengerti bahwa sekolah itu adalah sekolah yang bagus dari segi agama dan ilmu pengetahuan umumnya. Sekolah yang dibangun oleh Pak Habibie untuk menciptakan generasi masa depan yang menguasai IMTAQ dan IPTEK.

Keluarga saya tinggal di dalam sebuah flat besar dengan keluarga lain. Flat tersebut dibagi dua sehingga keluarga saya menempati dua buah ruangan untuk enam orang: orang tua dan saya empat bersaudara. Seorang kakak kelas dari keluarga yang tinggal bersama kami memutuskan untuk pulang ke Indonesia setelah menyelesaikan SMPnya di Sekolah Indonesia Riyadh, Saudi Arabia. Kakak tersebut berkeinginan untuk melanjutkan sekolahnya ke IC. Banyak pengetahuan tentang IC saya dapat dari kakak tersebut. Dari beberapa pembicaraan kakak dengan beberapa orang, saya mengerti sekali bahwa IC adalah sekolah yang luar biasa.

Terbersit di dalam hati saya untuk menyusul kakak tersebut nanti, lima tahun yang akan datang. Hal ini saya utarakan ketika mengantar kakak tersebut ke bandara. Ayah saya setuju, beliau meminta saya untuk belajar yang rajin agar dapat melanjutkan ke sana. Banyak sekali saingan bahkan ketika itu, lima tahun sebelum saya juga ikut bersaing. Kakak tersebut pasti sangat ingin masuk ke IC sehingga memutuskan untuk berpisah dengan keluarga.

Kabar kurang baiknya adalah kakak tersebut tidak diterima dengan alasan tidak berasal dari pondok pesantren. Isu yang beredar adalah mayoritas yang diterima adalah alumni pondok pesantren, anak-anak yang memiliki surat keterangan pernah tinggal di asrama.

Orang tua saya mencatat baik alasan kakak tersebut tidak diterima. Dengan beasiswa yang ditawarkan, orang tua sangat ingin saya sekolah di tempat yang baik tanpa harus membayar mahal. Keluarga saya bukan keluarga yang mempu membiayai sekolah anaknya jika SPPnya mencapai satu juta setiap bulan. Saya memiliki tiga adik saat itu yang juga membutuhkan biaya untuk menempuh sekolah.

Saya menyelesaikan SD di Sekolah Indonesia Riyadh. Sejak saat itu saya selalu mengatakan kepada siapa pun yang saya temui bahwa saya ingin masuk IC, sekolah yang dibangun oleh Pak Habibie. Berpikir bahwa semua orang mendukung, saya menjadi sangat bersemangat. Orang tua mengusulkan untuk masuk ke pondok pesantren selepas SD. Saat itu ibu saya belum memiliki keinginan untuk pulang ke Indonesia. Kami baru tinggal di Saudi Arabia kurang lebih tiga tahun. Akhirnya, orang tua memutuskan agar saya pulang ke Indonesia pertengahan kelas dua SMP. Saya menurut. Perpisahan yang amat menyedihkan bagi saya saat itu. Semua teman perempuan menangisi kepergian saya. Guru-guru saya yang sangat baik mendoakan saya dan berharap saya tetap mengontak teman-teman di Riyadh. Saya pasti sangat merindukan mereka.

Saya pulang ke Indonesia bersama ayah dan adik perempuan saya. Ibu dan tiga adik laki-laki saya akan tetap tinggal di Riyadh. Ayah dan adik hanya akan menemani saya di Indonesia selama dua minggu. Pukulan bagi saya untuk benar-benar berpisah dengan keluarga. Saya menangis ketika ayah mengajak saya mengantar barang ke rumah baru saya yaitu asrama. Ketika pertama datang ke sekolah itu saya sempat pusing karena duduk di sepeda motor selama lima belas menit. Saudi Arabia tidak menggunakan sepeda motor sebagai kendaraan umum. Transprtation lag? Padahal saya hanya lima tahun kurang pergi dari Indonesia.

Setidaknya saya senang karena lingkungan sekolah dipernuhi oleh tumbuhan, mulai pohon karet, pohon kelapa sampai rumput dan hutan. Saya sempat parno dan merekam hutan-hutan di pinggir jalan selama perjalanan dari bandara Syamsudin Noor di Banjarmasin sampai ke kota tempat saya tinggal, Rantau. Saya tidak tahu Indonesia seindah ini. Mungkin Jakarta berbeda, tetapi Kalimantan adalah daerah yang sangat indah. Terkagum-kagum saya, mengingat Saudi Arabia adalah negeri yang penuh padang pasir, yang jika dilihat dari atas pesawat hanya berwarna cokelat. Lain dengan pulau Kalimantan yang terlihat hijau dari atas. Hari-hari saya pasti akan menyenangkan. Tetapi inilah Kalimantan Selatan. Kota saya apalagi, belum semaju kota Banjarmasin pastinya. Saya mengeluhkan pelajaran yang sama sekali berbeda dengan di Sekolah Indonesia Riyadh. Ingin sekali saya pulang, tetapi keinginan masuk IC menahan saya. Orang tua kembali mengingatkan tujuan saya pulang ke Indonesia. Saya tersadar dari kebingungan.

Kasihan melihat saya seakan-akan terbelakang karena sekolah di kampung, ayah saya menawarkan saya kembali ke Saudi Arabia sebagai murid titipan selama tiga bulan. Saya baru tinggal di Indonesia selama sepuluh bulan. Orang tua dan empat adik kembali ke Indonesia untuk merayakan lebaran bersama di Indonesia. Tawaran dari ayah saya sanggupi. Saya harus mengejar ketertinggalan dari teman-teman di Saudi Arabia. Bagi saya saat itu, bekal saya tidak akan cukup jika saya mengandalkan belajar di kelas selama di kampung. Sekolah Indonesia Riyadh (SIR) mempunyai jadwal belajar yang lebih disiplin dibanding sekolah saya di kampung. Mungkin karena pondok pesantren saya memiliki MTs swasta sehingga belajar kami belum maksimal. Saya juga tidak bisa memungkiri bahwa MTs saya adalah MTs terbaik di kota itu. Tetapi saya masih merasa kurang.

Saya tetap menjadi murid kesayangan guru saya ketika kembali ke SIR. Teman-teman pun senang karena saya kembali. Saya ikuti pula bimbingan belajar setiap sore dan baru pulang ke rumah menjelang maghrib. Saat itu keluarga saya sudah pindah ke rumah yang jarak tempuhnya kurang lebih satu jam dari sekolah. Sampai di rumah pastinya sudah dalam keadaan menyedihkan. Bayang-bayang tentang IC menghantui sehingga saya tidak bisa hanya tenang di rumah. Saya berusaha belajar sebisa saya, tetap berusaha menjadi yang terbaik di kelas. Guru-guru masih terus menyemangati saya hingga pada waktunya saya harus kembali lagi ke Indonesia.

*

Saya merasa lebih siap saat itu. Kembali ke Indonesia berarti mulai mencari lebih lanjut cara mendaftar ke IC. Orang tua membantu doa karena tidak bisa membantu dalam banyak hal. Saya melakukan semuanya sendiri. Karena saya tinggal di asrama dan di rumah hanya ada kakek, saya pikir banyak kesulitan yang harus dilalui saat itu. Beruntung saya karena guru-guru di MTs mendukung keinginan saya untuk sekolah di IC. Beliau-beliau merasa bangga karena baru kali ini ada alumni MTs yang ingin melanjutkan ke luar Kalimantan. Wakil Kepala Madrasah juga mempersilakan saya untuk menggunakan komputer sekolah dan printer jika saya butuh mencetak surat keterangan apa pun. MTs kami tidak memiliki internet. Saya gunakan waktu pulang ke rumah setiap dua minggu sekali untuk ke warnet, mencari tahu tentang IC, mencari dokumen yang harus saya lengkapi. Bersyukur sekali saya karena seorang kakak sepupu tinggal di Jakarta sehingga bisa membantu untuk mengirimkan formulir pendaftaran yang tidak bisa saya cetak di sekolah. Kakak tersebut pula yang membantu saya untuk mengirimkan semua berkas pendaftaran saya ke IC.

Ketika berpikir dengan siapa harus pergi ke tempat tesnya nanti, oeang tua memberikan satu usulan. Bagaimana jika mengajak teman-teman di MTs untuk mendaftar ke IC bersama. Jadilah saya berpromosi kepada teman-teman yang memiliki posisi yang cukup baik di sekolah. Akhirnya enam orang teman saya menyusul ikut mendaftakan diri ke IC. Dengan nilai yang baik, saya pikir teman-teman juga berhak untuk sekolah di tempat yang jauh lebih baik. Setelah semua berkas terkumpul, saya kembali meminta kakak sepupu untuk mengirimkan berkas langsung ke IC. Alhamdulillah kami semua lulus seleksi berkas. Kami juga mendapatkan surat undangan untuk melakukan tes tertulis yang terletak di salah satu MAN di ibu kota. Hal ini jauh lebih baik. Guru Bahasa Indonesia bersedia menyetir mobil yang kami sewa, guru PKn juga ikut menemani kami ke Banjarmasin. Menjelang tes tertulis, saya berusaha untuk belajar meskipun rasanya kepala sudah hampir meledak. Saya tidak suka belajar terus-menerus, apalagi setelah Ujian Akhir Nasional telah berlalu.

Saya sempat menyesal karena malam sebelum tes tertulis saya dan teman-teman justru jalan-jalan ke mall dan makan di luar. Padahal mungkin lebih baik jika kami belajar. Ketika pulang ke wisma tempat kami menginap, gerbangnya sudah tertutup. Tepaksa akhirnya salah satu dari kami memanjat untuk meminta kunci kepada pemilik wisma di dalam. Saya ingat sekali rasa takut yang mampir ketika mencari pintu gerbang samping dalam kegelapan malam. Malam di Kalimantan cukup menyeramkan bagi saya. Teman-teman saya yang laki-laki justru tidak tidur untuk menyambut hari tes. Pagi sebelu tes pun kami tidak dapat menemukan penjual makanan. Ketika teman-teman menemukan makanan untuk sarapan, saya sudah gemetaran sehingga tidak sanggup untuk makan. Jadilah saya tes tanpa sarapan. Menganga smulut saya ketika melihat soal psikotes. Sungguh, saya tidak pernah mengerjakan soal seperti itu. Waktu yang diberikan cukup singkat sehingga mungkin saya terburu-buru mengerjakannya. Waktu istirahat tiba dan guru bahasa Indonesia saya terlihat khawatir kalau saya pingsan kerena tidak sarapan. Singkatnya waktu istirahat memaksa saya dan teman-teman untuk melakukan semuanya dengan cepat. Kami harus solat zuhur dan saya juga harus makan. Tes tertulis baru selesai sore hari. Itu pun sudah dipenuhi dengan rasa kantuk karena bingung dan tidak mengerti dengan soal yang diberikan. Setelah solat maghrib akhirnya kami pulang diantarkan ke rumah masing-masing dan saya ke asrama.

Waktu berjalan begitu lambat bagi saya saat itu. Rasa pesimis selalu muncul ketika mengingat bertapa saya tidak bisa mengerjakan soal-soal tes dengan baik. Terkadang rasa menyesal muncul. Di samping rasa pesimis yang saya dan teman-teman miliki, guru-guru tetap menyemangati saya. Saya pikir bahwa saya cukup berani dengan tidak mendaftar ke SMA manapun saat itu. Saat-saat sebelum pengumuman saya lalui dengan berdoa sepenuh hati kepada Allah SWT. Orang tua juga selalu menyemangati setiap kali menelpon dari Riyadh. Terkadang ayah juga menawarkan saya untuk kembali jika IC tidak menerima. Mungkin saya telah menyediakan cukup kesabaran untuk tidak merasa sakit hati jika tidak diterima.

Bagi saya saat itu yang penting adalah berdoa. Saya gantungkan semua harapan kepada yang Mahakuasa. Saya sungguh amat sangat ingin sekolah di IC. Saya butuh beasiswa di IC. Saya ingin mendapatkan pendidikan yang jauh lebih baik. Saya berdoa di setiap sujud terakhir solat, berharap bahwa IC adalah yang terbaik untuk saya. Ibadah-ibadah yang sempat absen ketika hidup di asrama coba saya bangun kembali. Saya masih tidak bisa solat tahajud. Akhirnya saya mencoba konsisten solat dhuha dan solat hajat. Ketika kakek saya puasa sunah Senin dan Kamis, saya juga ikut. Betapa saya merasa tidak ada lagi yang saya harapkan kecuali bisa sekolah di IC. Saya mencoba merubah doa. Harapan saya adalah bisa sekolah di mana saya bisa meringankan beban orang tua, di mana pun itu. Selalu saya selipkan doa diakhir bahwa IClah yang Allah pilihkan. Orang tua dan guru-guru serta keluarga juga menyemangati. Saya sempat terharu, tidak menyangka dukungan orang-orang tercinta begitu besar.

Ketika hari pengumuman, saya masih di rumah dan melakukan rutinitas seperti biasa. Setelah solat dhuha, saya berencana untuk pergi ke warnet melihat hasilnya. Pengumannya masih terbuka sehingga siapa pun bisa melihatnya. Kakek saya sudah bertanya sejak pagi tentang hasilnya. Saya katakan bahwa saya belum tahu. Seorang teman dari Kalimantan Timur yang saya temui ketika tes kemarin mengirimkan pesan selamat karena saya diterima. Bingung saya. Nama saya panjang dengan hanya satu kata. Tidak percaya, saya tanya apakah dia tahu nama lengkap saya. Dia tahu, FATHIMATUZZAHRA, demikian ia tulis. Saya bersyukur tiada henti. Kakek yang baru selesai mencuci baju bertanya ada apa. Saya diterima. Kakek juga ikut senang. Satu lagi cucunya akan merantau untuk belajar. Sujud syukur saya di kamar, menangis. Betapa saya menyadari bahwa pertolongan Allah itu ada dan nyata. Tidak ada sedikit pun kebohongan di dalamnya. Saya masih menangis ketika mengabari orang tua. Di balik bahagia yang ayah saya rasakan, beliau meminta saya untuk mengecek berkas yang harus saya kumpulkan lagi. Saya menurut dan mengucapkan terima kasih banyak kepada orang tua.

Hari-hari selanjutnya adalah persiapan menyambut kehidupan baru saya di IC. Allah Mahatahu dan tidak pernah melesat memberikan apa yang hambaNya pinta. Saya amat menyadari hal itu dan bertekad untuk melakukan semuanya sebaik usaha saya untuk masuk ke IC. Sedikit pun saya tidak pernah menyesali kehidupan di IC dan selalu bersyukur atas apa yang saya dapatkan.

Kini saya adalah alumni dan telah diterima di jurusan Pendidikan Luar Biasa di FKIP UNLAM, Kalimantan Selatan. Kembalinya saya ke Kalimantan tidak lain adalah permintaan orang tua. Sisi positifnya pastilah kemungkinan untuk membangun Kalimantan Selatan yang masih memiliki banyak kekurangan. Allah tidak pernah salah menempatkan hambaNya dalam suatu posisi. Jika tidak baik, pastilah ada jalan yang jauh lebih baik. Meyakini bahwa semuanya hanya milik Allah dan menggantungkan harapan hanya kepada Allah adalah jalan terbaik yang saya miliki selama hidup saya.

Ketika kita mengharapkan sesuatu, carilah alasan tepat mengapa menginginkannya. Jika baik, Allah pasti mengabulkannya. Masuk ke IC adalah keputusan Allah. Tidak ada satu manusia pun yang dapat memberikan kita jalan kecuali Tuhan yang Mahabesar. Percayalah, jika bukan IC pun, jalan yang lebih baik pasti terbuka lebar untuk kita semua. Semangat!

Banjarmasin, 4 Juni 2014

Diary Kakak

Tentang Siklus Bulanan dan Adik Kecil

Anak kecil selalu menyenangkan untuk diperhatikan. Di masa emasnya, selalu ada kelucuan yang tidak bisa ditebak oleh orang dewasa. Begitu juga adik bungsu laki-laki, adik Shaleh yang baru berumur lima tahun.

Keluarga saya selalu memiliki waktu untuk berbincang satu sama lain. Paling sering adalah setelah shalat dan wirid, sebelum memulai aktifitas masing-masing. Tadi malam, setelah saya kembali dari berwudhu sebelum tarawih, ada berita bahwa salah satu jaliyat (pusat dakwah) yang ada di Riyadh akan mengadakan umrah gratis. Alhamdulillah. Setelah belasan hari di Riyadh, akhirnya ada kesempatan untuk melihat Ka’bah lagi. Saya, Ummi, Adik Aisyah, dan Adik Shaleh yang ada di rumah tahu berita tersebut lebih dulu. Ini karena Abi dan dua adik laki-laki masih shalat tarawih di masjid. Continue reading