Ano Hana: The Flower We Saw That Day

 

Hari ke-8 Ramadhan, maaf tulisan saya bukan tentang Ramadhan atau sebagainya.

Kira-kira setahun yang lalu, seorang teman SMA yang tahu kalau saya sempat ngegandrungin anime tiba-tiba ngechat saya, “Zah, lu masih suka nonton anime ga?” katanya. Well yah, sejujurnya sejak SMA saya jarang banget nonton anime. Tapi, hitung-hitung nostalgia masa kecil dan sebenernya masih belasan koleksi anime yang belum sempat saya tonton, saya menanggapi dengan bahagia pertanyaan ini. Walau akhirnya menjerumuskan saya pada tangis sepanjang animenya berjalan, hehehe.

Pertama, makasih banget buat temen saya yang ngasih tau anime ini (kalo lu baca tulisan ini, pasti lu sadar sendiri, wkwkkw). Gue terbuka dengan anime macam gini bro, hehehe.

anohana-opening-1.jpgAno Hana bercerita tentang 6 orang anak sekitar umur 7 tahun. Mereka berteman dengan baik, bermain bersama, bahkan semacam punya markas di tengah hutan. Sampai suatu ketika, karena konflik yang benar-benar sangat kecil, salah satu di antara mereka meninggal. Meninggal bukan karena konfliknya, tetapi karena jatuh ke sungai di hutan setelah konflik terjadi. Alhasil, lima orang yang tertinggal justru saling menjauh satu sama lain. 7 tahun kemudian, teman mereka yang meninggal ini tiba-tiba muncul di rumah salah seorang yang masih hidup. Bingung ketemu bingung, ternyata ada sesuatu yang harus dicapai dengan kembalinya ia di tengah-tengah mereka. Oh, cerita ini lebih fokus ke mereka yang sudah besar, bukan yang tini-wini-bitinya kok.

Ringkasnya gitu, tapi aslinya lebih dong. Walaupun air mata berkucur tiada habis saat nontonnya, paling ngga anime dan live-actionnya membuat saya lebih banyak merenung soal kehidupan. Soal teman, soal keluarga, kematian, dan kehidupan yang banyak teka-tekinya. Kadang saya berpikir berapa banyak teman baik yang menyayangi saya seperti tokoh utama yang meninggal di cerita Ano Hana ini. Lebih lagi, setidaknya saya tahu betapa kematian seseorang mungkin menyisakan luka tak terhapus untuk orang-orang di sekitarnya.

Anime, manga, atau live-action yang hampir ga ada bedanya kecuali castnya yang rada aneh ini recommend banget buat yang kangen mewek, hehe. Lebih asik animenya sih. Genrenya mungkin ngga romantis, tapi walaupun cuma sedikit, lewat anime ini saya pribadi jadi lebih memaknai artinya pertemanan walau saya ga punya temen masa kecil. Temen saya yang ngerekomendasiin ini ke saya bilang dia nangis lho, padahal dia cowok (duh maafin gue). Nah waktu saya tanya beberapa temen di kampus yang juga suka anime (walau mereka cuma ber4), ternyata satu dari mereka yang cowok juga nangis saking sedihnya. Oh, serial ini juga terkenal banget kok di Jepang, hehehe. OSTnya sesuatu banget, bikin kangen temen-temen masa sekolah.

Yap, sekian. Lain kali pingin banget nulis review manga lain yang akhirnya saya baca, padahal selama kuliah hampir ga pernah nengok komik lagi.

Oh, ade saya ngga nangis waktu nonton ini, padahal dia cewek. Katanya, “Aku rada ngga ngerti kak, dikasih subtitle bahasa Inggris.” Yah, kasian. Tapi dia bilang ceritanya bagus kok, sampe rela nonton sendirian. Bukan tipe penonton tunggal soalnya ni anak.

Insya Allah ngga rugi nontonnya, selama Anda tidak menganggap demikian. Oke?

Banjarmasin, 13 Juni 2016

Aku, Kita, dan Masa Lalu yang Pernah Ada

Waa, orang tua saya dateng dari Arab Saudi Alhamdulillah~~~

Walau jadi kurir juga akhirnya bolak-balik pasar 4-5 kali karena katanya saya lebih tau pasar di Rantau di banding 6 anggota keluarga yang lain, haha.