Abi Bagi Saya

Ada banyak hal yang mungkin baru saja saya20150816_182518 sadari setelah sering kali terpisah dengan orang tua. Salah satunya adalah punggung penuh arti abi, ayah saya tercinta. Setiap anak dengan ayah yang ditemuinya hampir setiap hari, walau tidak seharian, pasti memiliki persepsi dan pandangan berbeda mengenai sosok yang -umumnya- menjadi punggung tulang keluarga. Terutama mungkin saya, karena di keluarga kami hanya abi yang mencarikan nafkah untuk 6 anggota keluarga lainnya selain beliau.

Dalam keadaan apa pun, memang seharusnya kita bersyukur memiliki ayah yang punggungnya dapat kita tatap setiap hari. Melihat beliau berangkat kerja, bertaruh pengharapan pada hari yang akan memberikan sedikit bantuan untuk keluarga. Tempo hari, saat masih SD di Jakarta, saya biasa melihat punggung abi yang mengantarkan saya ke sekolah naik sepeda motor. Dilanjut punggung beliau yang menyetir mobil saat mengantar saya dan adik-adik ke sekolah saat di Riyadh. Saat masih kecil, tentunya saya punya banyak protes tentang abcdefg kepada orang tua, namun saat itu saya tahu saya beruntung. Saya masih punya ayah yang bisa dilihat punggung penuh kerja kerasnya setiap hari.

Jujur, setelah beberapa teman, orang dekat, keluarga, satu per satu ayahnya dipanggil oleh Allah SWT, saya banyak merenung. Bagaimana jika suatu saat abi dipanggil oleh Allah SWT? Seberapa siap saya, sebagai sulung, mendukung keluarga kami menuju apa yang pernah diharapkan oleh beliau? Bagaimana pun abi bukan milik kami, beliau hanyalah sosok di mana kami sebagai anak dititipkan. Beliau adalah hamba Allah dan suatu saat pasti akan kembali kepada-Nya.

Abi kami adalah semacam tipe-tipe ayah baik yang pernah ada di drama, hehe. Tipikal ayah humoris yang hampir selalu menyempatkan diri untuk berkumpul dan bercanda dengan anak-anaknya walaupun sejenak sebelum berangkat ke kantor dan sekilas menjelang tidur. Saya pikir bukan hanya abi kami, tetapi juga ayah beberapa saudara dan teman yang setelah 20 tahun menjadi anak beliau, saya baru sadar akan sikap beliau yang amat mencintai anak-anaknya. Abi kami adalah sosok yang ketika telah memulai perdebatan dengan ummi, akan lebih dulu tertawa agar tidak terlalu serius dan memulai pertengkaran. Kami hampir tidak akan melewati satu hari tanpa tersenyum atas lelucon abi, walau hanya dalam 40 hari, dari 365 atau 366 hari yang kami miliki.

Setelah semakin memahami karakter abi, saya melirik 3 adik laki-laki saya sambil berdo’a, semoga mereka juga menjadi ayah yang penyayang seperti abi memperlakukan mereka, terutama si bungsu. Semakin jauh, saya malah membayangkan beberapa sepupu laki-laki dan teman-teman laki-laki saya, membayangkan mereka menjadi ayah seperti apa nanti. Akankah mereka menjadi ayah yang perhatiannya ditunjukkan atau cool cool banget seperti seorang ayah yang saya tahu, hehehe.

Setidaknya saya yakin, ketika seorang ayah masih bersedia untuk menafkahi dan memutuskan untuk memenuhi kewajibannya untuk keluarga, maka sang ayah masih menyayangi keluarganya. Karena saya pribadi juga pernah menemui keluarga yang ayahnya sama sekali tidak mau memberikan nafkah untuk anak-anaknya sehingga biaya kuliah anak dan lain-lain menjadi tanggung jawab ibu. Padahal sang ayah adalah pegawai negeri dengan jabatan dan penghasilan yang lumayan.

Karena itu, saya hanya ingin mengajak untuk bersyukur. Yang ayahnya masih ada dan menyayangi sepenuh hati. Yang ayahnya sudah kembali ke sisi Allah, namun menyisakan kenangan sangat indah untuk dapat dilupakan karena kebaikan hati beliau. Yang ayahnya masih ada, namun mungkin hanya tidak tahu cara terbaik untuk menunjukkan kasih sayangnya pada anak-anaknya.

Saya ingin bersyukur, menyadari betapa Allah telah menitipkan saya dan adik-adik pada abi yang luar biasa perjuangannya sehingga si bungsu tidak lagi merasakan kekurangan susu untuk pertumbuhannya seperti awal-awal saya lahir ke dunia sebagai sulung. Alhamdulillah.

Saya ingin, terutama juga teman-teman yang terkadang masih sulit mencari kebaikan ayahnya, untuk me-list lagi apa yang telah dilakukan oleh ayah untuk mereka. Betapa bagi saya, tidak terhitung dan tak terbalas. Bahkan hal kecil seperti saat saya bangun tidur, lalu abi akan menarik dua tangan saya agar saya benar-benar terbangun. Atau seperti kemarin, abi membangunkan saya dan Aisyah dengan memukulkan guling ke arah kami sambil tertawa karena kami sudah tidur terlalu lama. Simple, tapi saya tahu saya bahagia. Walau bahagia itu sendiri tidak tahu bagaimana saya mendifinisikannya.

Ah yIMG_20150817_045505a, saya dan orang tua memang tinggal berjauhan. Saya di Banjarmasin, 3 adik di pondok,
sementara yang bungsu ikut orang tua di Riyadh, dan otomatis kami amat sangat jarang bertemu. Komunikasi hanya dilakukan lewat Line atau Whatsapp –bukan iklan–. Jika secara langsung, saya juga tidak pernah benar-benar bisa mengungkapkan betapa berterimakasihnya saya pada orang tua. Namun, lewat pesan saya pernah menulis terima-kasih ,yang sangat panjang seperti koran, kepada abi. Atas banyak hal tentunya. Lalu di akhir, beliau hanya menjawab, “Abi juga sayang ummi dan anak-anak abi,” dan saya menangis.

Ketika ada sesuatu yang mengganjal di kepala saya tentang orang tua, apalagi karena mereka sangat jauh, biasanya saya tidak akan mampu menyimpannya. Karena itu terkadang saya kembali mengirimkan koran pendek kepada orang tua, hehehe. Kita tidak pernah tahu sampai mana umur kita, apalagi dengan jarak yang jauh sehingga kehawatiran apa pun berlipat ganda jadinya. Setidaknya saya tidak ingin menyesal, bahwa jika Allah memanggil abi nanti, setidaknya beliau tahu perjuangan beliau tidak akan pernah sia-sia dan kasih sayang beliau dengan sadar kami nikmati. Dan kalau pun jika saya yang dipanggil Allah lebih dulu, saya sudah menyampaikan apa pun yang ingin saya ucapkan pada abi, pahlawan keluarga kami. Itu saja.

Rantau, 1-2 Juli 2016

Advertisements