Mati Gaya Bertemu

Sebenarnya saya selalu ingin berbagi setiap kali menemukan ilmu baru di bidang yang saya tekuni. Mereka bilang apa yang saya pelajari saat ini sangat ‘mulia’, karena tidak banyak yang berminat dan butuh kesabaran luar biasa untuk menjalaninya. Dengan alasan itulah saya merasa perlu untuk membagi pandangan saya tentang dunia ini, bahkan sampai disebut mengajar ‘anak-anak surga’ oleh beberapa orang.

Lupakan sejenak masa lalu saya yang menyedihkan, karena bahkan rasanya menyebut ‘masa-lalu’ saja membuat semua kenangan tiba-tiba pedih di hati saya. Setidaknya disibukkan dengan observasi sebagai mahasiswa PLB mengajarkan saya banyak hal, mengajarkan saya bersyukur, mengajarkan saya bernapas lebih lega atas kenangan pilu dari masa lalu.

Jadi intinya, mungkin ada yang liat foto di timeline fb atau di instagram saya yang isinya saya dan anak-anak seperti di atas. Kalau temen-temen lihat secara kasat mata, mereka sama sekali tidak berbeda dengan anak seusianya. Iya nggak? Jujur saya juga kaget ketika datang ke sebuah SLB, yang entah kenapa rasanya jauh syekaaaleeehhh, lalu masuk ke kelas , dan…

“Apa ini kelas reguler?”

Saya kira kami salah kelas. Mereka jelas tidak seperti anak-anak dengan Down Syndrome yang langsung bisa teridentifikasi saat bertemu. Mereka jelas ‘biasa’ dan sedikit pun tidak berbeda dengan kami. Hanya saja jumlah mereka terbilang sedikit, kelas 5 SD 4 orang dan kelas 6 SD dua orang. Hingga tiba-tiba mereka berkomunikasi satu sama lain dan.. yaa, mereka menggunakan bahasa isyarat.

Seandainya bahasa asing, mungkin sudah buru-buru kami buka hp dan mencari maksud mereka dalam bahasa Indonesia. Tapi ini bahasa isyarat bruh, bahkan coba divideo sekali pun saya yakin tukang terjemahnya tidak ada di dunia maya -dan semoga suatu ketika ada ya. Satu-satunya kata yang kami bisa adalah “Nama..siapa..?”. Kata ini mudah, karena kami hanya perlu menggunakan jari telunjuk dan jari tengah pada dua tangan, lalu menyilangkan satu sama lain –untuk nama. Sedangkan untuk siapanya tinggal jempol tangan kanan mencolek bawah dagu. Biasanya pakai “kamu”, tapi biar singkat aja.

Dan jujur, rasanya kami salah bertanya. Karena ternyata anak dengan hambatan pendengaran yang sudah kelas 5 SD punya kemampuan bahasa isyarat yang amat sangat handal, apalagi dengan hanya huruf. Akhirnya, kami cuma melongo karena bingung mereka bilang apa saking cepetnya. Minta tolong supaya diperlambat, mereka juga bingung. Hingga akhirnya, ada seorang anak perempuan yang paham dan bersedia memperlambat penyebutan huruf-huruf dalam namanya dengan isyarat jari. Kami sendiri masih tertatih menyebut nama, mengeja z-a-h-r-a dengan sangat lambat. Kebetulan teman sekelompok saya namanya ada yang zahra juga, jadi dengan mudah bilang ‘sama’, “Nama..sama..” sambil  jempol dan kelingiking digerang-gerakkan.

Kami akhirnya senyum-senyum sendiri karena mereka satu-satu berusaha mengulang nama kami. Karena tema observasinya memang berkomunikasi dengan anak yang memiliki hambatan pendengaran, jadilah komunikasi kami hancur. Mau menggunakan metode bahasa ibu malah jadi pusing sendiri. Bertanya rumah, mereka menunjuk peta. Mereka bertanya rumah, kami malah bingung menjelaskan. Minta nomer telpon, seorang anak justru menuliskan “Oppo Neo” di buku saya. Hingga akhirnya mereka mengalah, membongkar meja guru untuk mengambil rapot berhubung sedang istirahat.

Pada akhirnya kami memang bingung. Teman saya, Ani, tiba-tiba nyeletuk “Oh, gini ya rasanya mati gaya. Sumpah aku ga tau harus bilang apa dan gimana lagi,”

Salah satu bagian lucunya adalah ketika teman kami, Ganis, berusaha menjelaskan bahwa rumahnya ada di belakang bandara. Karena tidak ada yang tahu bahasa isyaratnya bandara, akhirnya Ganis berusaha membuat isyarat dengan pesawat terbang, di belakang, dengan isyarat paling sederhana yang ia bisa. Kami mencoba membantu dan anak-anak berusaha mengulang, tetapi…lahh..entah mereka paham atau tidak.

Di hari kedua hanya saya dan Ani yang datang ke SLB tersebut. Kebetulan anak-anak sedang kelas menggambar dan mewarnai. Sedikit-sedikit mereka berusaha menjelaskan gambar mereka, “Ini saya, R, Ramadan,” setidaknya mungkin itu maksudnya. Kami tertawa bersama, bercanda bersama, tersenyum melihat seorang anak perempuan berbicara dengan temannya, menunjuk seorang anak laki-laki, membuat sebuah hati di depan dadanya, dan menggambarkan seakan hati itu patah. Heheheh, ini ngga ngarang lho, saya lihat beneran.

Mungkin memang kesulitan terbesarnya adalah mereka jarang mengeluarkan suara. Tapi ini juga tergantung anaknya masih memiliki sisa pendengaran atau tidak. Sementara anak-anak yang kami temui sudah tergolong berat, hampir tidak ada pendengaran yang tersisa. Karena itu mereka jarang membuka mulut, walaupun jelas sebenarnya pita suara mereka tidak bermasalah. Perlu dicatat bahwa anak yang kehilangan pendengaran tidak selalu bisu, biasanya kesulitan dalam menyebutkan sebuah kata hanya karena mereka tidak sempat melalui masa pemerolehan bahasa sat bayi. Intinya, mereka tidak pernah sempat meniru bagaimana cara orang lain mengeluarkan suara dan menyebutkan kata. Karena memang dari lahir hidup kita penuh dengan proses meniru dari orang lain.

Keluar dari SLB tadi, tiba-tiba saya menjadi bisu. Bahkan sepanjang di kelas rasanya saya hemat suara, Ani juga. Hanya sekali dua kali dalam dua jam kami di sana suara kami keluar, saat berbicara satu sama lain, dan saat berbicara dengan wali kelas.

Oh, satu hal yang penting diketahui adalah bahwa mereka anak yang cerdas. Bahkan tugas mereka ditulis dengan tulisan bersambung atau tulisan indah. Mereka mengerti angka, bisa menggambar, dan tentunya tidak malas seperti yang banyak orang bicarakan.

Tentunya kami belajar banyak. Ada satu dua hal yang membuat kami merasa bahwa memang ada banyak jenis orang di dunia ini, dan semuanya berbeda. Kita beruntung karena masih bisa mendengar, dan seharusnya bersyukur serta menggunakan telinga untuk hal-hal yang baik saja. Anak-anak yang kami temui juga beruntung, memiliki orang tua yang sadar akan pendidikan anak dan tidak menyembunyikan mereka di rumah karena malu. Bayangkan jika mereka hanya dikurung di rumah, atau lebih parahnya tidak mampu untuk pergi sekolah. Padahal kecuali sekolah swasta, hampir semua anak yang sekolah di SLB diberi beasiswa khusus untuk sekolah.

Pertemuan kedua dengan anak-anak yang memiliki hambatan dalam mendengar. Kami senang, dan semoga mereka juga senang. Lain kali mungkin teman-teman bisa berusaha bertemu anak-anak dengan hambatan pendengaran, berusaha berkomunikasi dengan mereka, dan tertawa mendapati diri sendiri tiba-tiba mati gaya. Bingung harus berkata atau bagaimana.

Pada akhirnya kami mengucapkan terima kasih, dan sedikit mereka membuka mulut, “sama-sama”.

Ah ya, beberapa hari yang lalu saya bertemu anak dengan hambatan intelektual, mudahnya memang IQ mereka di bawah rata-rata. Orang-orang biasa melabel mereka dengan ‘tunagrahita’, walau saya selalu membenci label.

Banjarmasin, malam 24 Maret 2016

Wah, lusa harus ke SLB lagiii.

Advertisements

Bertemu Anak dengan ASD

autism

Enter a caption

Autism Spectrum Disorder.

Sejujurnya saya lagi sedih karena ditinggal Ummi balik ke Riyadh 1 April kemarin, tapi karena habis itu jalan ke SLB di Martapura, lumayan lah sedihnya hilang sedikit. Saya tidak berniat nulis sebenarnya, kecuali waktu tiba-tiba kemarin ngeliat beberapa orang memasang pp tentang memperingati Hari Kesadaran Autis Sedunia.

Kebetulan, selama 3 minggu saya dan teman-teman bolak-balik Martapura-Banjarmasin cuma buat ke SLB di sana. Dan kebetulan lagi, saya bertemu dua orang anak dengan Autism Spectrum Disorder yang kurang lebih kelihatan banget lah Autisnya. Dan lagi kebetulan, dua-duanya sempet nempel banget sama saya entah kenapa. Dibanding empat teman saya yang disibukkan dengan adik-adik yang mereka observasi, dua anak tadi sepertinya rada hobi ngerecokin saya yang lagi observasi anak dengan hambatan intelektual.

Saya pinginnya, habis baca ini temen-temen tahu bagaimana anak dengan Autis itu sebenarnya. Walaupun mereka berbeda, ada satu hal yang membuat mereka sama. Masalahnya, yang sering saya dengar adalah mereka terlihat punya dunia sendiri. Tidak salah memang, karena memang dari beberapa anak dengan Autis, mereka banyak yang sulit untuk keluar dari dunia yang mereka pahami sendiri. Kadang mereka disebut alien, karena bahasa mereka yang aneh misalnya. Pernah juga sampai dikira dukun, karena beberapa dari mereka biasa melakukan satu ritual yang berulang setiap kali bertemu sesuatu.

Saya bukan expert ya, jadi apa yang saya tulis hanya berdasarkan pengalaman saya selama berada di prodi PLB 2 tahun ini. Semua nama anak dalam tulisan ini adalah samaran.

DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-5) menjelaskan bahwa ASD memiliki karakteristik dengan kurangnya komunikasi sosial dan interaksi sosial. Selain itu, mereka juga memiliki bentuk yang berulang dan terbatas dari kebiasaan, minat, dan aktivitas. Nah kalau yang saya pelajari di kelas, intinya anak dengan ASD ini punya tiga hambatan: komunikasi, interaksi, dan perilaku. Hambatan komunikasi merujuk kepada sulitnya mereka berkomunikasi dengan orang lain, baik memahami atau menyampaikan sesuatu. Sementara hambatan interaksi lebih kepada kebiasaan mereka menyendiri, dan yang paling umum adalah mereka sulit untuk melakukan kontak mata. Terakhir, hambatan perilaku biasanya terlihat dari perilaku mereka yang repetitif, mengulang, seperti flapping (mengepakkan tangan) atau mengucapkan hal yang sama dalam beberapa waktu.

Mungkin teman-teman pernah mendengar tantrum, sebuah kondisi yang sering terjadi pada anak dengan Autis. Sebetulnya saya belum pernah bertemu anak yang sedang tantrum, tapi saya mendengar cerita dari beberapa guru di sekolah. Seorang anak pernah memukul gurunya saat sedang tantrum, bahkan pensil pernah dia tusukkan ke tangan gurunya. Tembus? Entah ya, saya juga tidak tahu kelanjutannya bagaimana. Untuk alasannya, secara medis mungkin teman-teman di kedokteran yang lebih ahli menjelaskan. Tetapi ini bisa terjadi tiba-tiba, misalnya anaknya sedang lelah atau frustasi banget karena sulit menyampaikan apa yang dia inginkan.

Saya pikir awalnya, anak dengan Autis adalah pribadi yang berbahaya karena sering tantrum. Ternyata tidak, mereka sebenarnya pribadi yang baik, yang tenang saat bertemu. Anak yang menusuk tangan gurunya dengan persil di atas, waktu saya dan teman-teman termui di kelas sebenarnya dia baik. “Halo ka,” katanya setelah diminta oleh Guru Bantu Khusus (GBK)nya menyapa kami. Terlihat si anak tadi sedang menggambar kotak dengan bantuan penggaris di buku gambar, yang ternyata hampir dari awal sampai akhir hanya kotak yang terlihat. Padahal teman-teman sekelasnya sedang mengerjakan tugas LKS di meja masing-masing. Tapi si anak tadi bahkan tidak menatap kami, dan langsung kembali menggambar kotak yang sama setelah menengok ke arah kami sesaat. Satu yang kami pahami saat itu, kontak mata sulit, perilaku dan minat yang berulang.

Di saat yang lain, kami melakukan asesmen, semacam cara menghimpun informasi potensi dan hambatan anak luar biasa. Kebetulan tugas kelompok kami adalah melakukan asesmen kepada anak dengan Autis. Jadilah kami bertemu seorang anak tampan kelas 2 SD yang sangat pendiam, Jo. Tapi dia bisa melakukan kontak mata dengan sangat baik. Sedikit banyak dia mengerti apa yang kami minta, mengikuti apa yang kami lakukan, bisa membaca dan mengenal warna dengan baik. Ah ya, hanya saja Jo sangat pendiam. Bahkan selama 2 jam kami bertemu, hanya satu-dua kata yang muncul dari mulutnya. Satu hal yang membekas di ingatan saya saat itu, anak ini ternyata sensitif dengan es. Saat teman saya, Aulia Zahra, mengeluarkan es dari kantongnya untuk memastikan apakah indera perasanya, atau kulitnya berfungsi dengan baik, Jo justru langsung lari ke luar ruangan. GBK yang mendampinginya sampai harus lari untuk mengejarnya. Butuh lebih dari 15 menit sampai Jo akhirnya mau masuk ke ruangan lagi. Teman saya sampai harus membuang esnya dan asesmen tentang persepsi indera perasa kami sampai pada kesimpulan bahwa Jo mungkin memiliki trauma dengan es. Ternyata memang Jo tidak pernah diperboehkan orangtuanya untuk minum air es dan entah apa yang membuatnya sampai harus lari saat mendengar kata ‘es’.

Seminggu yang lalu, di Martapura saya bertemu dengan Li, anak perempuan yang lucu. Neneknya menjelaskan kepada saya bahwa Li adalah anak yang diperaktif berdasarkan penuturan dokter. Saat bertemu dengannya, saya pikir Li memang hiperaktif karena hampir tidak bisa diam. Saya mungkin tidak berhak untuk menyebutkan hal ini, tetapi perilaku Li amat sangat berulang saat bertemu dengan saya. Berdasarkan yang saya pelajari ya, anak dengan hiperaktif umumnya tetap dapat melakukan kontak mata, dan mendengar dengan baik saat namanya dipanggil. Hanya saja mereka sulit fokus dan mudah terdistraksi. Tetapi Li berbeda, saya berusaha memanggilnya beberapa kali tetapi dia tidak menoleh. Saya memintanya untuk senam seperti yang lain, Li justru mengganggu temannya. Satu hal yang membuat saya merasa Li memiliki ASD adalah pertanyaannya yang berulang.

Saat itu memang anak-anak sedang senam. Sementara anak-anak dengan tunarungu bahkan mengikuti guru di depan untuk senam, Li tidak. Dia asik berputar di belakang, sampai akhirnya saya menghampirinya dan memintanya untuk senam. Kebetulan hari itu, kelompok kami terdiri dari 4 orang perempuan dan 1 orang laki-laki. Awalnya, saat melihat teman saya yang laki-laki, Li bertanya “Ka, itu Bapak siapa?”, “Bapak Aldy, saya jawab.” Sekali. “Kaa, kita jalan-jalan sii naah,” ajaknya dalam bahasa Banjar. Saya bilang kita sedang senam, senam dulu baru jalan. Sekali dia mengajak saya berputar di tempat, Li kembali bertanya hal yang sama, “Ka, itu Bapak siapa?” dan saya kembali menjawabnya. Saya pikir mungkin ingatan Li kurang baik, sehingga harus bertanya hal yang sama dalam waktu berdekatan.

Tiga kali. Lima kali. Delapan kali. Sepuluh kali. Saya mulai bingung. Bahkan setelah senam selesai dan saya sedang mendorong kursi roda seorang anak, Li kembali menghampiri saya dan bertanya hal yang sama, “Ka, itu Bapak siapa?” dan saya tetap menjawab hal yang sama. Saya sudah mengelilingi sekolah saat istirahat sampai Li datang lagi kepada saya dan bertanya dengan pertanyaan yang sama. 13 kali, 15 kali, saya mulai bingung. Aldy yang ditanya sejak tadi hanya senyum-senyum tidak jelas melihatnya. Repetitif. Rasanya saya ditanya dan menjawab lebih dari 20 pertanyaan yang sama hari itu: “Ka, itu Bapak siapa?”, “Bapak Aldy.” Ternyata Li memiliki seorang kakak laki-laki seumuran kami, ujar neneknya. Karena itu mungkin Li bertanya hal yang sama berkali-kali. Ah ya, Li juga hampir tidak bisa melakukan kontak mata. Dia bertanya kepada saya, tetapi Li justru melihat ke arah lain.

Saya sudah terlalu banyak menulis. Hehe.

Terkhir, An, anak laki-laki dengan Autis kelas 5 SD. An baik sebenarnya, hanya saja seperti yang lain, dia repetitif sekali. Saya mengajaknya berfoto bersama, sekali. Lalu dia meminta untuk difoto sendiri. Dua kali. Tiga kali. Lima kali. Sampai akhirnya dia pulang. Banyak sekali foto An di hape saya, hehe. Keesokan harinya An menjadi anak yang paling sulit diminta untuk berbaris saat pramuka. Tetapi An anak yang menyenangkan, memanggil kami dengan sebutan “Ibu.” Geks.

Oh ya, memang ada anak dengan Autism yang punya kepintaran luar biasa, disebut anak dengan Asperger’s Syndrome, tapi saya belum pernah bertemu dengan mereka. Lain kali kalau saya bertemu dengan mereka, Insya Allah saya share lagi.

Intinya memang mereka memiliki hambatan yang sulit untuk dicegah. Tidak ada yang bisa disalahkan akan perilaku Autis mereka. Terkadang saya merasa putus asa dengan prodi saya, berpikir bahwa sebenarnya tidak ada yang bisa saya lakukan untuk mengembalikan anak-anak ini seperti anak “normal” menurut kebanyakan orang. Walau pada akhirnya manjadi normal tidaklah terlalu penting, karena semua manusia pasti akan mati. Saya hanya berharap, semoga apa yang dikatakan dosen-dosen saya benar bahwa seiring usia mereka bertambah, pola pikir mereka pun akan jauh lebih baik. Dan hal ini, tidak lain harus didukung oleh lingkungan anak termasuk sekolah.

Saya jadi teringat penuturan seorang Ibu dari anak dengan hambatan intelektual, “Saya cuma pingin Zahra, supaya anak saya mandiri. Bahkan saya ngga bisa berpikir bagaimana dia nantinya kalau saya meninggal,” dan detik itu, saya sangat ingin menangis.

Oh ya, menurut saya, menjadikan kata “Autis” sebagai ejekan di antara temen-temen yang sebenarnya tidak punya ciri-ciri Autis itu tidak benar. Ini konyol, karena bahkan untuk anak Autis sendiri, saya yakin mereka tidak pernah ingin terlahir demikian. Awalnya saya santai saja dengan ejekan yang beberapa kali saya dengar ini, tetapi ternyata menyakitkan setelah menyelam ke dunia PLB. Bayangkan jika orang tua si anak mendengar, sungguh tidak manusiawi sekali.

 

Banjarmasin, 3 April 2016

Siang, di rumah rada ribut.