Mati Gaya Bertemu

Sebenarnya saya selalu ingin berbagi setiap kali menemukan ilmu baru di bidang yang saya tekuni. Mereka bilang apa yang saya pelajari saat ini sangat ‘mulia’, karena tidak banyak yang berminat dan butuh kesabaran luar biasa untuk menjalaninya. Dengan alasan itulah saya merasa perlu untuk membagi pandangan saya tentang dunia ini, bahkan sampai disebut mengajar ‘anak-anak surga’ oleh beberapa orang.

Lupakan sejenak masa lalu saya yang menyedihkan, karena bahkan rasanya menyebut ‘masa-lalu’ saja membuat semua kenangan tiba-tiba pedih di hati saya. Setidaknya disibukkan dengan observasi sebagai mahasiswa PLB mengajarkan saya banyak hal, mengajarkan saya bersyukur, mengajarkan saya bernapas lebih lega atas kenangan pilu dari masa lalu.

Jadi intinya, mungkin ada yang liat foto di timeline fb atau di instagram saya yang isinya saya dan anak-anak seperti di atas. Kalau temen-temen lihat secara kasat mata, mereka sama sekali tidak berbeda dengan anak seusianya. Iya nggak? Jujur saya juga kaget ketika datang ke sebuah SLB, yang entah kenapa rasanya jauh syekaaaleeehhh, lalu masuk ke kelas , dan…

“Apa ini kelas reguler?”

Saya kira kami salah kelas. Mereka jelas tidak seperti anak-anak dengan Down Syndrome yang langsung bisa teridentifikasi saat bertemu. Mereka jelas ‘biasa’ dan sedikit pun tidak berbeda dengan kami. Hanya saja jumlah mereka terbilang sedikit, kelas 5 SD 4 orang dan kelas 6 SD dua orang. Hingga tiba-tiba mereka berkomunikasi satu sama lain dan.. yaa, mereka menggunakan bahasa isyarat.

Seandainya bahasa asing, mungkin sudah buru-buru kami buka hp dan mencari maksud mereka dalam bahasa Indonesia. Tapi ini bahasa isyarat bruh, bahkan coba divideo sekali pun saya yakin tukang terjemahnya tidak ada di dunia maya -dan semoga suatu ketika ada ya. Satu-satunya kata yang kami bisa adalah “Nama..siapa..?”. Kata ini mudah, karena kami hanya perlu menggunakan jari telunjuk dan jari tengah pada dua tangan, lalu menyilangkan satu sama lain –untuk nama. Sedangkan untuk siapanya tinggal jempol tangan kanan mencolek bawah dagu. Biasanya pakai “kamu”, tapi biar singkat aja.

Dan jujur, rasanya kami salah bertanya. Karena ternyata anak dengan hambatan pendengaran yang sudah kelas 5 SD punya kemampuan bahasa isyarat yang amat sangat handal, apalagi dengan hanya huruf. Akhirnya, kami cuma melongo karena bingung mereka bilang apa saking cepetnya. Minta tolong supaya diperlambat, mereka juga bingung. Hingga akhirnya, ada seorang anak perempuan yang paham dan bersedia memperlambat penyebutan huruf-huruf dalam namanya dengan isyarat jari. Kami sendiri masih tertatih menyebut nama, mengeja z-a-h-r-a dengan sangat lambat. Kebetulan teman sekelompok saya namanya ada yang zahra juga, jadi dengan mudah bilang ‘sama’, “Nama..sama..” sambil  jempol dan kelingiking digerang-gerakkan.

Kami akhirnya senyum-senyum sendiri karena mereka satu-satu berusaha mengulang nama kami. Karena tema observasinya memang berkomunikasi dengan anak yang memiliki hambatan pendengaran, jadilah komunikasi kami hancur. Mau menggunakan metode bahasa ibu malah jadi pusing sendiri. Bertanya rumah, mereka menunjuk peta. Mereka bertanya rumah, kami malah bingung menjelaskan. Minta nomer telpon, seorang anak justru menuliskan “Oppo Neo” di buku saya. Hingga akhirnya mereka mengalah, membongkar meja guru untuk mengambil rapot berhubung sedang istirahat.

Pada akhirnya kami memang bingung. Teman saya, Ani, tiba-tiba nyeletuk “Oh, gini ya rasanya mati gaya. Sumpah aku ga tau harus bilang apa dan gimana lagi,”

Salah satu bagian lucunya adalah ketika teman kami, Ganis, berusaha menjelaskan bahwa rumahnya ada di belakang bandara. Karena tidak ada yang tahu bahasa isyaratnya bandara, akhirnya Ganis berusaha membuat isyarat dengan pesawat terbang, di belakang, dengan isyarat paling sederhana yang ia bisa. Kami mencoba membantu dan anak-anak berusaha mengulang, tetapi…lahh..entah mereka paham atau tidak.

Di hari kedua hanya saya dan Ani yang datang ke SLB tersebut. Kebetulan anak-anak sedang kelas menggambar dan mewarnai. Sedikit-sedikit mereka berusaha menjelaskan gambar mereka, “Ini saya, R, Ramadan,” setidaknya mungkin itu maksudnya. Kami tertawa bersama, bercanda bersama, tersenyum melihat seorang anak perempuan berbicara dengan temannya, menunjuk seorang anak laki-laki, membuat sebuah hati di depan dadanya, dan menggambarkan seakan hati itu patah. Heheheh, ini ngga ngarang lho, saya lihat beneran.

Mungkin memang kesulitan terbesarnya adalah mereka jarang mengeluarkan suara. Tapi ini juga tergantung anaknya masih memiliki sisa pendengaran atau tidak. Sementara anak-anak yang kami temui sudah tergolong berat, hampir tidak ada pendengaran yang tersisa. Karena itu mereka jarang membuka mulut, walaupun jelas sebenarnya pita suara mereka tidak bermasalah. Perlu dicatat bahwa anak yang kehilangan pendengaran tidak selalu bisu, biasanya kesulitan dalam menyebutkan sebuah kata hanya karena mereka tidak sempat melalui masa pemerolehan bahasa sat bayi. Intinya, mereka tidak pernah sempat meniru bagaimana cara orang lain mengeluarkan suara dan menyebutkan kata. Karena memang dari lahir hidup kita penuh dengan proses meniru dari orang lain.

Keluar dari SLB tadi, tiba-tiba saya menjadi bisu. Bahkan sepanjang di kelas rasanya saya hemat suara, Ani juga. Hanya sekali dua kali dalam dua jam kami di sana suara kami keluar, saat berbicara satu sama lain, dan saat berbicara dengan wali kelas.

Oh, satu hal yang penting diketahui adalah bahwa mereka anak yang cerdas. Bahkan tugas mereka ditulis dengan tulisan bersambung atau tulisan indah. Mereka mengerti angka, bisa menggambar, dan tentunya tidak malas seperti yang banyak orang bicarakan.

Tentunya kami belajar banyak. Ada satu dua hal yang membuat kami merasa bahwa memang ada banyak jenis orang di dunia ini, dan semuanya berbeda. Kita beruntung karena masih bisa mendengar, dan seharusnya bersyukur serta menggunakan telinga untuk hal-hal yang baik saja. Anak-anak yang kami temui juga beruntung, memiliki orang tua yang sadar akan pendidikan anak dan tidak menyembunyikan mereka di rumah karena malu. Bayangkan jika mereka hanya dikurung di rumah, atau lebih parahnya tidak mampu untuk pergi sekolah. Padahal kecuali sekolah swasta, hampir semua anak yang sekolah di SLB diberi beasiswa khusus untuk sekolah.

Pertemuan kedua dengan anak-anak yang memiliki hambatan dalam mendengar. Kami senang, dan semoga mereka juga senang. Lain kali mungkin teman-teman bisa berusaha bertemu anak-anak dengan hambatan pendengaran, berusaha berkomunikasi dengan mereka, dan tertawa mendapati diri sendiri tiba-tiba mati gaya. Bingung harus berkata atau bagaimana.

Pada akhirnya kami mengucapkan terima kasih, dan sedikit mereka membuka mulut, “sama-sama”.

Ah ya, beberapa hari yang lalu saya bertemu anak dengan hambatan intelektual, mudahnya memang IQ mereka di bawah rata-rata. Orang-orang biasa melabel mereka dengan ‘tunagrahita’, walau saya selalu membenci label.

Banjarmasin, malam 24 Maret 2016

Wah, lusa harus ke SLB lagiii.

Koinaka

Beberapa minggu yang lalu, saya sempat sangat kehilangan arah untuk menghabiskan waktu liburan di rumah. Apalagi kalau segala pekerjaan rumah sudah rampung, jadilah hasil-hasil downloadan dari jaman kapan dibuka dan dicek lagi. Akhirnya, saya ingat kisah cinta segitiga yang sempet bikin baper tempo hari walau kisahnya hanya saya skip-skip ga jelas. Jadi inilah, Koinaka.

Drama ini berkisah tentang dua orang teman masa kecil yang terus bersama hingga SMA di Toyama, Serizawa Akari dan Miura Aoi. Awalnya memang kisah sekilas soal persahabatan mereka hingga seorang siswa pindahan dari Tokyo datang bernama Aoi Shota. Prolog dari drama ini sedikit unik, karena diperlihatkan Akari sedang menunggu mempelai pria di depan altar gereja sampai seseorang masuk dan berkatan, “Aoi-san datang terlambat ya?”. Intinya, prolog ini membuat kita bertanya-tanya karena dua pemeran laki-laki di drama ini memiliki nama ‘Aoi’.

Meskipun sejujurnya saya kurang suka dengan akting Tsubasa Honda sebagai Akari di sini, tapi mau tidak mau saya tenggelam juga dengan kisah segitiga dari Koinaka ini. Mungkin poin bapernya terletak pada bagaimana Miura Aoi dan Akari berusaha memperbaiki hubungan persahabatan mereka yang sempat putus selama 7 tahun, karena Akari menghilang tanpa kabar. Lalu kemudian tiba-tiba ia hadir di depan sahabatnya, bersama Aoi Shota yang mengumumkan bahwa mereka berdua telah berpacaran selama sekian tahun. Oh sebenarnya mungkin peran Nomura Shuhei di sini sebagai penikung, tapi jujur saya paling jatuh cinta sama dia di sini dibanding ke pemeran utamanya, Fukushi Sota.

Hal yang juga jadi poin plus buat saya adalah bagaimana Akari dan Miura Aoi berusaha keras untuk mencapai mimpi mereka masing-masing. Aoi Shota di sini dikisahkan sudah mapan dengan pekerjaannya sebagai dokter yang membuatnya lebih siap untuk bersama Akari daripada Miura. Selain mereka bertiga, ada salah seorang teman mereka yang berusaha memperbaiki hubungan aneh di antara mereka dan juga seorang adik dari Miura, teman-teman satu kantor Miura dan juga seorang teman Akari.

Terdapat konflik keluarga pada Akari, sementara konflik ini diperburuk sedikit oleh tingkah Shota yang sebenarnya menginginkan kebahagiaan untuk Akari. Dan di banyak sisi, kedua laki-laki ini memang memiliki poin plus dan minusnya masing-masing, jadi mau ngga mau kalau saya jadi Akari juga bingung harus milih yang mana, hehehe. Saya pribadi senang dengan konflik pekerjaan Miura sebagai rookie dalam bidang arsitektur yang sudah jadi mimpinya sejak kecil. Kelelahan, habis ide, konflik kantor, bahkan konflik dengan mantan pacarnya. Intinya, bikin baper semuanya walau saya hanya satu dua kali menangis.

Ketika sampai di akhir episode, saya juga tidak bisa memutuskan sebaiknya Akari dengan siapa atau bagaimana, tetapi kedua-duanya adalah pilihan yang baik. Mungkin klasik, tapi saya selalu jatuh cinta dengan drama atau movie yang mengakhiri kisah dengan kedua pemeran utama menikah seperti drama ini, entah dengan siapa. Selain itu, ada banyak shoot kembang api yang cantik karena musim panas menjadi salah satu topik dalam drama ini.

Pelajarannya, “Jika kita mencintai seseorang, akan lebih baik kita mengatakannya. Jujur padanya saat ini, akan lebih baik daripada menyesalinya di kemudian hari. Penting juga untuk memilih seorang pendamping hidup yang akan selalu mengingatkanmu pada mimpimu, dan membuatmu bekerja keras karenanya.” Tetapi sayangnya, saya tidak sedang jatuh hati pada siapa pun, jadi yaaaa mungkin kalau nanti saya suka seseorang, bakal langsung saya ajak nikah. /lah?

Saya tidak pantas untuk memberi rating, tapi buat saya pribadi, kisah ini 8.5 dari 10. Mungkin saya banyak menonton drama Korea yang latar belakangnya kisah cinta segitiga, tetapi mungkin tidak ‘pure’ dan banyak embel-embel harta dan kekayaannya yang mana di drama ini hampir tidak ditonjolkan walaupun Shota ‘berada’. Jadinya, lebih mengena dan lebih dekat dengan kita sehari-hari. Disarankan anak SMP tidak menonton, dan berhubung tidak ada adegan yang ‘dewasa’, saya pikir drama ini cukup ‘aman’, ehehehe.

Mungkin sedikit ada feel serial “Reply” di drama ini, tapi dalam tataran yang lebih simple dan tidak banyak bolak-balik juga. Kita menebak siapa suaminya, tetapi tidak sampai jungkir balik saking kecewa sama endingnya bak Reply 1988. Oke? Oke, kalau ada pertanyaan tanyakan sajaa.

Rantau, 17 Juli 2016

Saya harus balik ke Banjarmasin lagi~~~

Abi Bagi Saya

Ada banyak hal yang mungkin baru saja saya20150816_182518 sadari setelah sering kali terpisah dengan orang tua. Salah satunya adalah punggung penuh arti abi, ayah saya tercinta. Setiap anak dengan ayah yang ditemuinya hampir setiap hari, walau tidak seharian, pasti memiliki persepsi dan pandangan berbeda mengenai sosok yang -umumnya- menjadi punggung tulang keluarga. Terutama mungkin saya, karena di keluarga kami hanya abi yang mencarikan nafkah untuk 6 anggota keluarga lainnya selain beliau.

Dalam keadaan apa pun, memang seharusnya kita bersyukur memiliki ayah yang punggungnya dapat kita tatap setiap hari. Melihat beliau berangkat kerja, bertaruh pengharapan pada hari yang akan memberikan sedikit bantuan untuk keluarga. Tempo hari, saat masih SD di Jakarta, saya biasa melihat punggung abi yang mengantarkan saya ke sekolah naik sepeda motor. Dilanjut punggung beliau yang menyetir mobil saat mengantar saya dan adik-adik ke sekolah saat di Riyadh. Saat masih kecil, tentunya saya punya banyak protes tentang abcdefg kepada orang tua, namun saat itu saya tahu saya beruntung. Saya masih punya ayah yang bisa dilihat punggung penuh kerja kerasnya setiap hari.

Jujur, setelah beberapa teman, orang dekat, keluarga, satu per satu ayahnya dipanggil oleh Allah SWT, saya banyak merenung. Bagaimana jika suatu saat abi dipanggil oleh Allah SWT? Seberapa siap saya, sebagai sulung, mendukung keluarga kami menuju apa yang pernah diharapkan oleh beliau? Bagaimana pun abi bukan milik kami, beliau hanyalah sosok di mana kami sebagai anak dititipkan. Beliau adalah hamba Allah dan suatu saat pasti akan kembali kepada-Nya.

Abi kami adalah semacam tipe-tipe ayah baik yang pernah ada di drama, hehe. Tipikal ayah humoris yang hampir selalu menyempatkan diri untuk berkumpul dan bercanda dengan anak-anaknya walaupun sejenak sebelum berangkat ke kantor dan sekilas menjelang tidur. Saya pikir bukan hanya abi kami, tetapi juga ayah beberapa saudara dan teman yang setelah 20 tahun menjadi anak beliau, saya baru sadar akan sikap beliau yang amat mencintai anak-anaknya. Abi kami adalah sosok yang ketika telah memulai perdebatan dengan ummi, akan lebih dulu tertawa agar tidak terlalu serius dan memulai pertengkaran. Kami hampir tidak akan melewati satu hari tanpa tersenyum atas lelucon abi, walau hanya dalam 40 hari, dari 365 atau 366 hari yang kami miliki.

Setelah semakin memahami karakter abi, saya melirik 3 adik laki-laki saya sambil berdo’a, semoga mereka juga menjadi ayah yang penyayang seperti abi memperlakukan mereka, terutama si bungsu. Semakin jauh, saya malah membayangkan beberapa sepupu laki-laki dan teman-teman laki-laki saya, membayangkan mereka menjadi ayah seperti apa nanti. Akankah mereka menjadi ayah yang perhatiannya ditunjukkan atau cool cool banget seperti seorang ayah yang saya tahu, hehehe.

Setidaknya saya yakin, ketika seorang ayah masih bersedia untuk menafkahi dan memutuskan untuk memenuhi kewajibannya untuk keluarga, maka sang ayah masih menyayangi keluarganya. Karena saya pribadi juga pernah menemui keluarga yang ayahnya sama sekali tidak mau memberikan nafkah untuk anak-anaknya sehingga biaya kuliah anak dan lain-lain menjadi tanggung jawab ibu. Padahal sang ayah adalah pegawai negeri dengan jabatan dan penghasilan yang lumayan.

Karena itu, saya hanya ingin mengajak untuk bersyukur. Yang ayahnya masih ada dan menyayangi sepenuh hati. Yang ayahnya sudah kembali ke sisi Allah, namun menyisakan kenangan sangat indah untuk dapat dilupakan karena kebaikan hati beliau. Yang ayahnya masih ada, namun mungkin hanya tidak tahu cara terbaik untuk menunjukkan kasih sayangnya pada anak-anaknya.

Saya ingin bersyukur, menyadari betapa Allah telah menitipkan saya dan adik-adik pada abi yang luar biasa perjuangannya sehingga si bungsu tidak lagi merasakan kekurangan susu untuk pertumbuhannya seperti awal-awal saya lahir ke dunia sebagai sulung. Alhamdulillah.

Saya ingin, terutama juga teman-teman yang terkadang masih sulit mencari kebaikan ayahnya, untuk me-list lagi apa yang telah dilakukan oleh ayah untuk mereka. Betapa bagi saya, tidak terhitung dan tak terbalas. Bahkan hal kecil seperti saat saya bangun tidur, lalu abi akan menarik dua tangan saya agar saya benar-benar terbangun. Atau seperti kemarin, abi membangunkan saya dan Aisyah dengan memukulkan guling ke arah kami sambil tertawa karena kami sudah tidur terlalu lama. Simple, tapi saya tahu saya bahagia. Walau bahagia itu sendiri tidak tahu bagaimana saya mendifinisikannya.

Ah yIMG_20150817_045505a, saya dan orang tua memang tinggal berjauhan. Saya di Banjarmasin, 3 adik di pondok,
sementara yang bungsu ikut orang tua di Riyadh, dan otomatis kami amat sangat jarang bertemu. Komunikasi hanya dilakukan lewat Line atau Whatsapp –bukan iklan–. Jika secara langsung, saya juga tidak pernah benar-benar bisa mengungkapkan betapa berterimakasihnya saya pada orang tua. Namun, lewat pesan saya pernah menulis terima-kasih ,yang sangat panjang seperti koran, kepada abi. Atas banyak hal tentunya. Lalu di akhir, beliau hanya menjawab, “Abi juga sayang ummi dan anak-anak abi,” dan saya menangis.

Ketika ada sesuatu yang mengganjal di kepala saya tentang orang tua, apalagi karena mereka sangat jauh, biasanya saya tidak akan mampu menyimpannya. Karena itu terkadang saya kembali mengirimkan koran pendek kepada orang tua, hehehe. Kita tidak pernah tahu sampai mana umur kita, apalagi dengan jarak yang jauh sehingga kehawatiran apa pun berlipat ganda jadinya. Setidaknya saya tidak ingin menyesal, bahwa jika Allah memanggil abi nanti, setidaknya beliau tahu perjuangan beliau tidak akan pernah sia-sia dan kasih sayang beliau dengan sadar kami nikmati. Dan kalau pun jika saya yang dipanggil Allah lebih dulu, saya sudah menyampaikan apa pun yang ingin saya ucapkan pada abi, pahlawan keluarga kami. Itu saja.

Rantau, 1-2 Juli 2016

Ano Hana: The Flower We Saw That Day

 

Hari ke-8 Ramadhan, maaf tulisan saya bukan tentang Ramadhan atau sebagainya.

Kira-kira setahun yang lalu, seorang teman SMA yang tahu kalau saya sempat ngegandrungin anime tiba-tiba ngechat saya, “Zah, lu masih suka nonton anime ga?” katanya. Well yah, sejujurnya sejak SMA saya jarang banget nonton anime. Tapi, hitung-hitung nostalgia masa kecil dan sebenernya masih belasan koleksi anime yang belum sempat saya tonton, saya menanggapi dengan bahagia pertanyaan ini. Walau akhirnya menjerumuskan saya pada tangis sepanjang animenya berjalan, hehehe.

Pertama, makasih banget buat temen saya yang ngasih tau anime ini (kalo lu baca tulisan ini, pasti lu sadar sendiri, wkwkkw). Gue terbuka dengan anime macam gini bro, hehehe.

anohana-opening-1.jpgAno Hana bercerita tentang 6 orang anak sekitar umur 7 tahun. Mereka berteman dengan baik, bermain bersama, bahkan semacam punya markas di tengah hutan. Sampai suatu ketika, karena konflik yang benar-benar sangat kecil, salah satu di antara mereka meninggal. Meninggal bukan karena konfliknya, tetapi karena jatuh ke sungai di hutan setelah konflik terjadi. Alhasil, lima orang yang tertinggal justru saling menjauh satu sama lain. 7 tahun kemudian, teman mereka yang meninggal ini tiba-tiba muncul di rumah salah seorang yang masih hidup. Bingung ketemu bingung, ternyata ada sesuatu yang harus dicapai dengan kembalinya ia di tengah-tengah mereka. Oh, cerita ini lebih fokus ke mereka yang sudah besar, bukan yang tini-wini-bitinya kok.

Ringkasnya gitu, tapi aslinya lebih dong. Walaupun air mata berkucur tiada habis saat nontonnya, paling ngga anime dan live-actionnya membuat saya lebih banyak merenung soal kehidupan. Soal teman, soal keluarga, kematian, dan kehidupan yang banyak teka-tekinya. Kadang saya berpikir berapa banyak teman baik yang menyayangi saya seperti tokoh utama yang meninggal di cerita Ano Hana ini. Lebih lagi, setidaknya saya tahu betapa kematian seseorang mungkin menyisakan luka tak terhapus untuk orang-orang di sekitarnya.

Anime, manga, atau live-action yang hampir ga ada bedanya kecuali castnya yang rada aneh ini recommend banget buat yang kangen mewek, hehe. Lebih asik animenya sih. Genrenya mungkin ngga romantis, tapi walaupun cuma sedikit, lewat anime ini saya pribadi jadi lebih memaknai artinya pertemanan walau saya ga punya temen masa kecil. Temen saya yang ngerekomendasiin ini ke saya bilang dia nangis lho, padahal dia cowok (duh maafin gue). Nah waktu saya tanya beberapa temen di kampus yang juga suka anime (walau mereka cuma ber4), ternyata satu dari mereka yang cowok juga nangis saking sedihnya. Oh, serial ini juga terkenal banget kok di Jepang, hehehe. OSTnya sesuatu banget, bikin kangen temen-temen masa sekolah.

Yap, sekian. Lain kali pingin banget nulis review manga lain yang akhirnya saya baca, padahal selama kuliah hampir ga pernah nengok komik lagi.

Oh, ade saya ngga nangis waktu nonton ini, padahal dia cewek. Katanya, “Aku rada ngga ngerti kak, dikasih subtitle bahasa Inggris.” Yah, kasian. Tapi dia bilang ceritanya bagus kok, sampe rela nonton sendirian. Bukan tipe penonton tunggal soalnya ni anak.

Insya Allah ngga rugi nontonnya, selama Anda tidak menganggap demikian. Oke?

Banjarmasin, 13 Juni 2016

Aku, Kita, dan Masa Lalu yang Pernah Ada

Waa, orang tua saya dateng dari Arab Saudi Alhamdulillah~~~

Walau jadi kurir juga akhirnya bolak-balik pasar 4-5 kali karena katanya saya lebih tau pasar di Rantau di banding 6 anggota keluarga yang lain, haha.

Menjadi 20 (2)

Rasanya sudah lama sekali sejak saya merasa ditegur oleh banyak hal. Walau sepele, hanya karena sebuah drama tentang mimpi yang harus dikejar, tiba-tiba saya merasa harus memikirkan sekian banyak hal dalam hidup ini. Berharap bahwa mimpi yang kita cari benar memang ada di masa depan kita, atau suatu saat terbentur dengan kenyataan bahwa ada banyak hal yang tidak bisa kita tembus nantinya.

Belajar dari orang terdekat, yang sudah bisa menghasilkan uang sendiri bahkan tanpa meminta sepeser pun dari orang tuanya, saya sempat tercenung. Umurnya sama dengan saya, kuliah di jurusan keguruan juga, tetapi dia cemerlang dengan usahanya mencari penghidupan bahkan tanpa gelar sarjana. Impiannya tidak muluk-muluk, hanya keliling dunia saja.

Lalu tiba-tiba saya merasa ditegur, diminta berkaca atas banyak hal yang sudah saya lakukan hampir 20 tahun ini. Adakah saya pernah bermanfaat untuk orang lain? Ataukah selama ini telah menjadi beban tak tertanggungkan bagi orang tua? Entah, tidak tahu pasti. Mungkin yang jelas hanya kenyataan bahwa saya bingung, berkutat mencari sesuatu yang bisa, mampu, dan memang bakat yang saya bawa sejak lahir.

Di saat seperti ini entah kenapa saya merasa tidak bisa fokus dengan apa pun yang saya lakukan. Belajar, berorganisasi, bertugas, atau bahkan mengajar kecil-kecilan untuk menambah uang jajan yang kian hari terlihat semakin tak terjangkau besarannya. Apa mungkin saya sedang lelah? Yaa, kemungkinannya demikian. Tetapi menjadi sosok yang hampir 20 tahun tanpa sesuatu yang benar-benar saya inginkan untuk masa depan, rasanya saya sedang tersesat.

Adakah menjadi guru adalah impian saya, sehingga bahkan saya harus bertengkar dengan teman sejurusan atas hal sesepele tugas yang harus dishare? Adakah menjadi guru adalah tujuan saya, hingga menginginkan pendidikan di negeri ini terbebas dari kebobrokan yang entah di sebelah mana bisa dicegah? Adakah menjadi guru adalah impian saya, hingga meninggalkan satu hal yang sangat ingin saya lakukan untuk berbakti pada orang tua?

Mungkin yang membaca juga tidak jauh beda, berpikir apa yang harus dilakukan sementara orang tua, tanpa pernah pamrih bekerja siang dan malam untuk mencukupi kebutuhan. Di saat melankolis seperti ini, saya selalu teringat Abi yang di negeri petro dolar sana bekerja membantu TKW. Ah, abi tidak pernah mengeluh soal pekerjaan yang mungkin dulu tidak pernah sedikit pun terbersit di hati beliau.

Aaa, yaa, bahkan detik saya menulis ini barulah saya paham. Orang tua selalu ingin terbaik untuk anaknya, karena mereka titipan mungkin. Saya yakin, untuk saat ini orang tua belum memerlukan saya yang bisa menghasilkan uang banyak. Saat ini, orang tua hanya ingin saya belajar, belajar, dan belajar. Dan lebih daripada mendapatkan hasil yang tidak akan habis tujuh turunan, orang tua akan lebih bahagia jika dengan perjalanan yang saya tempuh, ada yang bisa saya berikan untuk orang lain.

Toh orang tua saya berjuang mati-matian sejak berkeluarga. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari penghidupan. Berhutang sana-sini untuk mencukupi kebutuhan. Mulai saat ini setidaknya saya harus bisa berjuang mati-matian. Mungkin, bahkan di jalan yang tidak saya pilih sendiri.

Banjarmasin, 18 Mei 2016

Mareeeeee

Bertemu Anak dengan ASD

autism

Enter a caption

Autism Spectrum Disorder.

Sejujurnya saya lagi sedih karena ditinggal Ummi balik ke Riyadh 1 April kemarin, tapi karena habis itu jalan ke SLB di Martapura, lumayan lah sedihnya hilang sedikit. Saya tidak berniat nulis sebenarnya, kecuali waktu tiba-tiba kemarin ngeliat beberapa orang memasang pp tentang memperingati Hari Kesadaran Autis Sedunia.

Kebetulan, selama 3 minggu saya dan teman-teman bolak-balik Martapura-Banjarmasin cuma buat ke SLB di sana. Dan kebetulan lagi, saya bertemu dua orang anak dengan Autism Spectrum Disorder yang kurang lebih kelihatan banget lah Autisnya. Dan lagi kebetulan, dua-duanya sempet nempel banget sama saya entah kenapa. Dibanding empat teman saya yang disibukkan dengan adik-adik yang mereka observasi, dua anak tadi sepertinya rada hobi ngerecokin saya yang lagi observasi anak dengan hambatan intelektual.

Saya pinginnya, habis baca ini temen-temen tahu bagaimana anak dengan Autis itu sebenarnya. Walaupun mereka berbeda, ada satu hal yang membuat mereka sama. Masalahnya, yang sering saya dengar adalah mereka terlihat punya dunia sendiri. Tidak salah memang, karena memang dari beberapa anak dengan Autis, mereka banyak yang sulit untuk keluar dari dunia yang mereka pahami sendiri. Kadang mereka disebut alien, karena bahasa mereka yang aneh misalnya. Pernah juga sampai dikira dukun, karena beberapa dari mereka biasa melakukan satu ritual yang berulang setiap kali bertemu sesuatu.

Saya bukan expert ya, jadi apa yang saya tulis hanya berdasarkan pengalaman saya selama berada di prodi PLB 2 tahun ini. Semua nama anak dalam tulisan ini adalah samaran.

DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-5) menjelaskan bahwa ASD memiliki karakteristik dengan kurangnya komunikasi sosial dan interaksi sosial. Selain itu, mereka juga memiliki bentuk yang berulang dan terbatas dari kebiasaan, minat, dan aktivitas. Nah kalau yang saya pelajari di kelas, intinya anak dengan ASD ini punya tiga hambatan: komunikasi, interaksi, dan perilaku. Hambatan komunikasi merujuk kepada sulitnya mereka berkomunikasi dengan orang lain, baik memahami atau menyampaikan sesuatu. Sementara hambatan interaksi lebih kepada kebiasaan mereka menyendiri, dan yang paling umum adalah mereka sulit untuk melakukan kontak mata. Terakhir, hambatan perilaku biasanya terlihat dari perilaku mereka yang repetitif, mengulang, seperti flapping (mengepakkan tangan) atau mengucapkan hal yang sama dalam beberapa waktu.

Mungkin teman-teman pernah mendengar tantrum, sebuah kondisi yang sering terjadi pada anak dengan Autis. Sebetulnya saya belum pernah bertemu anak yang sedang tantrum, tapi saya mendengar cerita dari beberapa guru di sekolah. Seorang anak pernah memukul gurunya saat sedang tantrum, bahkan pensil pernah dia tusukkan ke tangan gurunya. Tembus? Entah ya, saya juga tidak tahu kelanjutannya bagaimana. Untuk alasannya, secara medis mungkin teman-teman di kedokteran yang lebih ahli menjelaskan. Tetapi ini bisa terjadi tiba-tiba, misalnya anaknya sedang lelah atau frustasi banget karena sulit menyampaikan apa yang dia inginkan.

Saya pikir awalnya, anak dengan Autis adalah pribadi yang berbahaya karena sering tantrum. Ternyata tidak, mereka sebenarnya pribadi yang baik, yang tenang saat bertemu. Anak yang menusuk tangan gurunya dengan persil di atas, waktu saya dan teman-teman termui di kelas sebenarnya dia baik. “Halo ka,” katanya setelah diminta oleh Guru Bantu Khusus (GBK)nya menyapa kami. Terlihat si anak tadi sedang menggambar kotak dengan bantuan penggaris di buku gambar, yang ternyata hampir dari awal sampai akhir hanya kotak yang terlihat. Padahal teman-teman sekelasnya sedang mengerjakan tugas LKS di meja masing-masing. Tapi si anak tadi bahkan tidak menatap kami, dan langsung kembali menggambar kotak yang sama setelah menengok ke arah kami sesaat. Satu yang kami pahami saat itu, kontak mata sulit, perilaku dan minat yang berulang.

Di saat yang lain, kami melakukan asesmen, semacam cara menghimpun informasi potensi dan hambatan anak luar biasa. Kebetulan tugas kelompok kami adalah melakukan asesmen kepada anak dengan Autis. Jadilah kami bertemu seorang anak tampan kelas 2 SD yang sangat pendiam, Jo. Tapi dia bisa melakukan kontak mata dengan sangat baik. Sedikit banyak dia mengerti apa yang kami minta, mengikuti apa yang kami lakukan, bisa membaca dan mengenal warna dengan baik. Ah ya, hanya saja Jo sangat pendiam. Bahkan selama 2 jam kami bertemu, hanya satu-dua kata yang muncul dari mulutnya. Satu hal yang membekas di ingatan saya saat itu, anak ini ternyata sensitif dengan es. Saat teman saya, Aulia Zahra, mengeluarkan es dari kantongnya untuk memastikan apakah indera perasanya, atau kulitnya berfungsi dengan baik, Jo justru langsung lari ke luar ruangan. GBK yang mendampinginya sampai harus lari untuk mengejarnya. Butuh lebih dari 15 menit sampai Jo akhirnya mau masuk ke ruangan lagi. Teman saya sampai harus membuang esnya dan asesmen tentang persepsi indera perasa kami sampai pada kesimpulan bahwa Jo mungkin memiliki trauma dengan es. Ternyata memang Jo tidak pernah diperboehkan orangtuanya untuk minum air es dan entah apa yang membuatnya sampai harus lari saat mendengar kata ‘es’.

Seminggu yang lalu, di Martapura saya bertemu dengan Li, anak perempuan yang lucu. Neneknya menjelaskan kepada saya bahwa Li adalah anak yang diperaktif berdasarkan penuturan dokter. Saat bertemu dengannya, saya pikir Li memang hiperaktif karena hampir tidak bisa diam. Saya mungkin tidak berhak untuk menyebutkan hal ini, tetapi perilaku Li amat sangat berulang saat bertemu dengan saya. Berdasarkan yang saya pelajari ya, anak dengan hiperaktif umumnya tetap dapat melakukan kontak mata, dan mendengar dengan baik saat namanya dipanggil. Hanya saja mereka sulit fokus dan mudah terdistraksi. Tetapi Li berbeda, saya berusaha memanggilnya beberapa kali tetapi dia tidak menoleh. Saya memintanya untuk senam seperti yang lain, Li justru mengganggu temannya. Satu hal yang membuat saya merasa Li memiliki ASD adalah pertanyaannya yang berulang.

Saat itu memang anak-anak sedang senam. Sementara anak-anak dengan tunarungu bahkan mengikuti guru di depan untuk senam, Li tidak. Dia asik berputar di belakang, sampai akhirnya saya menghampirinya dan memintanya untuk senam. Kebetulan hari itu, kelompok kami terdiri dari 4 orang perempuan dan 1 orang laki-laki. Awalnya, saat melihat teman saya yang laki-laki, Li bertanya “Ka, itu Bapak siapa?”, “Bapak Aldy, saya jawab.” Sekali. “Kaa, kita jalan-jalan sii naah,” ajaknya dalam bahasa Banjar. Saya bilang kita sedang senam, senam dulu baru jalan. Sekali dia mengajak saya berputar di tempat, Li kembali bertanya hal yang sama, “Ka, itu Bapak siapa?” dan saya kembali menjawabnya. Saya pikir mungkin ingatan Li kurang baik, sehingga harus bertanya hal yang sama dalam waktu berdekatan.

Tiga kali. Lima kali. Delapan kali. Sepuluh kali. Saya mulai bingung. Bahkan setelah senam selesai dan saya sedang mendorong kursi roda seorang anak, Li kembali menghampiri saya dan bertanya hal yang sama, “Ka, itu Bapak siapa?” dan saya tetap menjawab hal yang sama. Saya sudah mengelilingi sekolah saat istirahat sampai Li datang lagi kepada saya dan bertanya dengan pertanyaan yang sama. 13 kali, 15 kali, saya mulai bingung. Aldy yang ditanya sejak tadi hanya senyum-senyum tidak jelas melihatnya. Repetitif. Rasanya saya ditanya dan menjawab lebih dari 20 pertanyaan yang sama hari itu: “Ka, itu Bapak siapa?”, “Bapak Aldy.” Ternyata Li memiliki seorang kakak laki-laki seumuran kami, ujar neneknya. Karena itu mungkin Li bertanya hal yang sama berkali-kali. Ah ya, Li juga hampir tidak bisa melakukan kontak mata. Dia bertanya kepada saya, tetapi Li justru melihat ke arah lain.

Saya sudah terlalu banyak menulis. Hehe.

Terkhir, An, anak laki-laki dengan Autis kelas 5 SD. An baik sebenarnya, hanya saja seperti yang lain, dia repetitif sekali. Saya mengajaknya berfoto bersama, sekali. Lalu dia meminta untuk difoto sendiri. Dua kali. Tiga kali. Lima kali. Sampai akhirnya dia pulang. Banyak sekali foto An di hape saya, hehe. Keesokan harinya An menjadi anak yang paling sulit diminta untuk berbaris saat pramuka. Tetapi An anak yang menyenangkan, memanggil kami dengan sebutan “Ibu.” Geks.

Oh ya, memang ada anak dengan Autism yang punya kepintaran luar biasa, disebut anak dengan Asperger’s Syndrome, tapi saya belum pernah bertemu dengan mereka. Lain kali kalau saya bertemu dengan mereka, Insya Allah saya share lagi.

Intinya memang mereka memiliki hambatan yang sulit untuk dicegah. Tidak ada yang bisa disalahkan akan perilaku Autis mereka. Terkadang saya merasa putus asa dengan prodi saya, berpikir bahwa sebenarnya tidak ada yang bisa saya lakukan untuk mengembalikan anak-anak ini seperti anak “normal” menurut kebanyakan orang. Walau pada akhirnya manjadi normal tidaklah terlalu penting, karena semua manusia pasti akan mati. Saya hanya berharap, semoga apa yang dikatakan dosen-dosen saya benar bahwa seiring usia mereka bertambah, pola pikir mereka pun akan jauh lebih baik. Dan hal ini, tidak lain harus didukung oleh lingkungan anak termasuk sekolah.

Saya jadi teringat penuturan seorang Ibu dari anak dengan hambatan intelektual, “Saya cuma pingin Zahra, supaya anak saya mandiri. Bahkan saya ngga bisa berpikir bagaimana dia nantinya kalau saya meninggal,” dan detik itu, saya sangat ingin menangis.

Oh ya, menurut saya, menjadikan kata “Autis” sebagai ejekan di antara temen-temen yang sebenarnya tidak punya ciri-ciri Autis itu tidak benar. Ini konyol, karena bahkan untuk anak Autis sendiri, saya yakin mereka tidak pernah ingin terlahir demikian. Awalnya saya santai saja dengan ejekan yang beberapa kali saya dengar ini, tetapi ternyata menyakitkan setelah menyelam ke dunia PLB. Bayangkan jika orang tua si anak mendengar, sungguh tidak manusiawi sekali.

 

Banjarmasin, 3 April 2016

Siang, di rumah rada ribut.

Cerita Masa Lalu

rain.jpg

Heavy Downpour — Image by © Anthony Redpath/Corbis

Kali ini biarkan saya bergurau tentang masa lalu. Walau tidak pantas untuk disebut sangat ‘lalu’ karena baru hanya setahun berlalu. Ah, saya bukan pengamat walau saya mengamati, dan tidak akan bicara soal politik dan demokrasi walau saya menggunakan hak saya untuk berbicara. Tidak juga bicara tentang ekonomi, karena saya hanya konsumen. Jangan ditanggapi serius ya. Saya hanya bergurau kali ini, berkisah tentang masa lalu yang ternyata masih butuh waktu untuk dapat terhapus, diterima, dan dimaafkan.

22 Maret setahun yang lalu, saya mencatatnya sebagai hari yang amat menyedihkan. Karena seumur hidup, saya tidak pernah menangis dari pagi sampai menjelang siang, keluar dari rumah dan mendapati diri saya kembali terjerembab dalam tangisan tak berujung. Bukan karena tiba-tiba negara kita kembali dijajah, atau tiba-tiba harga diri saya direnggut walau yaaaa mungkin hanya berselisih arti sedikit saja.

Tangisan itu berulang. Sekali, dua kali, tiga kali, bahkan jika saya sedikit saja teringat hari itu maka dada saya akan sesak dan kembali menangis. Cengeng saya, dan entah kenapa kenangan itu hampir selalu pedih jika saya mengingatnya.

Tidak banyak yang tau, kecuali orang tua, kerabat dan seorang teman dekat yang tiada henti mendengar keluhan karena hal yang sama, kejadian yang sama, kepedihan yang sama, derita yang sama. Dan bahkan ketika susah itu bertambah dan sampai ke ujungnya, saya menemukan diri saya menangis di bawah deras hujan, sambil menyetir sepeda motor menghampiri Ummi.

Saya paham sekali bahwa semua orang merasakan kepedihan, memiliki masalahya masing-masing, dan berusaha mati-matian memaafkan, melupakan, dan menerimanya dengan lapang hati. Kegalauan dan kebimbangan yang saya rasakan selama ini mungkin tidak seujung upil jika dibandingkan dengan kepedihan yang dirasakan saudara-saudari sesama Muslim di Palestina, Syiria, dan daerah sekitarnya. Tentu saja tidak, bahkan saya tidak akan pernah berani membandingkan apalagi dengan sadar saya paham, penderitaan saya bukan apa-apa.

Saya sempat mengaduh, menyelipkan do’a berkali-kali, berharap penyakit hati yang saya miliki terhapus seketika. Berharap Allah berbaik hati menyusunkan keberanian dan kebesaran hati untuk bisa menerima sebagaimana Ia yang Pemaaf. Tetapi saya manusia, dan Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika tidak mereka yang berusaha mengubahnya sendiri.

Sibuk dengan kuliah, tersita waktu oleh organisasi, saya berharap saya lupa. Dengan nada aktifitas yang tinggi, saya pikir semuanya akan berlalu seperti waktu yang membantu sambil berpacu. Walau ternyata saya salah. Bahkan setelah sekeras-kerasnya Ummi dan Abi meminta saya berhenti, melupakan, melepaskan, menerima, masih tidak bisa. Saya butuh lebih dari dorongan, lebih dari support orang sekitar untuk bisa melepaskan kesedihan. Saya butuh keinginan, keinginan untuk menerima, keinginan untuk melepaskan, keinginan untuk mengakui, dan keinginan untuk dengan tulus memaafkan.

Bodoh. Saya paham sedikit banyak sebenarnya saya gila. Gila dengan ketidakbiasaan, gila dengan ketiba-tibaan, gila dengan kenyataan bahwa saya percaya saya tidak salah. Setahun ini saya paham bahwa saya pengecut, lari dari semuanya tanpa bisa memperbaiki. Lari bahkan tanpa sedikit pun menoleh ke belakang, mengintip apa yang telah berubah selama setahun ini. Saya pengecut papan atas, ahli lari dari segala masalah dengan cara saya sendiri.

Sayangnya saya tidak butuh simpati. Dan bersyukur, Allah membuat saya menemukan akhir sebuah novel yang buru-buru saya selesaikan.

Ketahuilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau memenangkan seluruh pertempuran.”  (Tere-Liye, Pulang)

“Kita cukup mengalahkan diri sendiri.” (Tere-Liye, Pulang)

Saya tertegun. Belum pernah saya membaca novel tiba-tiba merasa digertak untuk berubah. Mengubah diri sendiri, mengubah perasaan, dan kemudian mengubah kenyataan yang saya percayai.

Belum bulat hati saya ketika kemudian, saya kembali membaca buku dengan pengarang yang sama. Memantapkan hati saya bahwa bukan melupakan yang menjadi penting, tetapi menerima.

Tetapi sesungguhnya, bukan melupakan yang menjadi masalahnya. Tetapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia bisa melupakan. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan bisa melupakan.” (Tere-Liye, Hujan)

Tiba-tiba saya merasa ditampar. Seiring dengan lembar-lembar yang hampir mendekati ujungnya, saya tau kepedihan saya tiba-tiba menguap. Rasa marah, sedih, benci, perih, kesal, dan semua itu menemukan tempat aslinya yang bukan di hati saya. Seketika saya merasa lupa, bahwa setahun yang lalu, saya pernah gundah dan terjatuh di posisi terburuk saya setelah 18 tahun hidup di muka bumi.

Saya berharap semuanya selesai. Tetapi memang dunia bukan tempat istirahat– suatu ketika Ummi mengingatkan. Ya, pada akhirnya saya memilih menerima, memeluk erat seperti Lail akan kenangannya tentang Esok dan hujan. Dan yakin bahwa seiring waktu berlalu, rasa risih yang tersisa akan luruh. Setidaknya saya berharap demikian. Saya mengalahkan ego yang saya pegang, seperti Bujang mengalahkan dirinya sendiri.

Pada akhirnya saya hanya manusia, lagi. Dan persoalan yang kita hadapi tidak habis kecuali maut menghampiri. Karena ternyata harga yang harus saya bayar untuk menerima semua kenangan itu sangat mahal. Membuat saya sadar ternyata kembali terjatuh pada lubang yang sama, alasan di balik kejadian 22 Maret setahun silam.

Kenyataannya memang saya tidak dibiarkan untuk melupakan, karena saya kehilangan sesuatu yang saya perjuangkan habis-habisan setahun yang lalu. Dengan tangis, dengan sepi, dengan gundah yang terus mengusik. Dan saya, tidak boleh lelah. Itu saja.

Sore dengan backsound rintik hujan di Banjarmasin, 23 Maret 2016

Abi, akhirnya kaka berani.

Baayun Maulid di Banua Halat

 

Setiap bulan Rabi’ul Awwal, Banua Halat, sebuah desa kecil di daerah Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, selalu dipadati oleh ribuan orang yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan lima tahun belakangan ini, beberapa turis dari negara tetangga pun datang untuk menyaksikan sebuah tradisi yang telah turun temurun dilaksanakan oleh masyarakat setempat. Ada yang tau acara apa?

P1050998.JPG

Baayun maulid di Banua Halat, Kab. Tapin, Kalimantan Selatan

Ya, tidak lain dan tidak bukan adalah acara “baayun maulid”.

Baayun maulid berasal dari kata “ayun” yang diartikan “melakukan proses ayunan”. Sementara kata maulid berasal dari kata maulid (kelahiran) Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, baayun maulid diartikan sebagai kegiatan mengayun bayi atau anak sambil membaca syair maulid atau bersamaan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. Kegiatan ini biasa dilakukan pada tanggal 12 Rabiul Awwal atau bertepatan dengan tanggal lahir Rasulullah SAW[1].

Baayun maulid adalah sebuah tradisi yang telah dilakukan oleh masyarakat Banua Halat secara turun temurun.Tradisi ini hanya dilakukan setahun sekali, namun mendapatkan antusiasme luar biasa dari masyarakat Kalimantan Selatan itu sendiri. Kegiatan ini menjadi istimewa karena pesertanya tidak hanya ratusan, melainkan ribuan. Pada tahun 2008, jumlah peserta baayun ini mencetak rekor MURI dengan jumlah mencapai 1.544 orang.[2]

Tradisi ini merupakan sebuah budaya yang diturunkan oleh masyarakat yang menganut kepercayaan Kaharingan sebagai upacara pemberkatan yang dilakukan oleh bidan kepada bayi dan ibunya. Menurut tradisi asalnya, upacara baayun anak dilaksanakan dengan maksud agar keturunan mereka tidak mendapat gangguan dari roh-roh makhluk-makhluk halus, seperti hantu, jin, setan, siluman dan roh orang yang sudah meninggal atau hantu jadi-jadian. Mereka beranggapan bahwa jika anak mereka tidak diayun, akan mendapat gangguan dari makhluk-makhluk halus. Pelaksanaan yang masih murni dari tradisi baayun anak ini masih dilakukan oleh masyarakat Dayak Meratus.[3]

Untuk saat ini, dengan pengaruh masuknya Islam ke daerah Banua Halat, maka tujuan mengayun anak tersebut berubah. Sebagaimana pelaksanaannya yang disesuaikan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad, maka tujuan mengayun anak adalah agar mendapat syafa’at Rasulullah SAW. Tentunya, agar anak yang diayun dapat mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW dengan baik dan menjadi umat yang taat. Meskipun baayun ini tidak lagi menjadi sebuah kewajiban dalam keluarga ketika seorang anak lahir, masyarakat sekitar masih beranggapan bahwa tidak ‘afdhol’ jika anak mereka tidak pernah diayun di masjid saat perayaan maulid. Tradisi ini menjadi semacam agenda wajid setelah anak lahir, seperti acara tasmiah dan aqiqah yang biasa dilakukan oleh umat muslim saat anak mereka lahir.

Konsep dari baayun maulid ini sebenarnya sederhana, yaitu mengayunkan anak dalam ayunan saat syair-syair puji-pujian kepada Rasulullah SAW disenandungkan. Biasanya, orang-orang penting seperti bupati, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh adat, dan beberapa masyarakat akan memenuhi bagian dalam masjid. Di dalam masjid inilah kegiatan seperti ceramah dan sambutan di sampaikan serta syair-syair disenandungkan. Sedangkan ayunan-ayunan akan diletakkan di bagian halaman masjid yang cukup luas. Pelaksanaan baayun di sekitar masjid juga dimaksudkan agar hati anak yang diayun terpaut dengan masjid. Saat besar nanti, mereka diharapkan akan selalu melaksanakan sholat dan juga berjamaah di masjid.

P1050996.JPG

Tempat acara baayun maulid berpusat

Sekitar 10 tahun yang lalu, bagian halaman masjid masih cukup untuk menampung peserta yang memang hanya anak-anak dan bayi beserta orang tua yang mengantar. Namun, zaman telah berubah. Banyak sekali remaja, orang dewasa, bahkan kakek dan nenek yang mengikuti acara ini. Banyak yang melakukannya karena nazar atau janji dan banyak pula yang mengikutinya hanya untuk memeriahkan acara atau sekedar merasakan sensasi baayun  bersama ribuan orang lainnya. Hal ini menyebabkan ayunan tidak lagi hanya berada di lapangan masjid, melainkan keluar masjid sampai ke jalan raya dan bahkan rumah masyarakat sekitar masjid.

Untuk ayunannya sendiri, selain memang terdiri dari beberapa lapis kain, ayunan juga dilengkapi dengan anyaman-anyaman buah ketupat dan janur. Terdapat beberapa kain yang juga dianyam sebagai hiasan untuk ayunan. Ayunan dipenuhi oleh hias-hiasan yang memperindah tampilan ayunan itu sendiri. Dan sampai saat ini, hiasan tersebut masih dibuat oleh masyarakat sekitar Masjid Keramat Banua Halat tersebut. Nah, bentuk dari ayunan dengan hiasan-hiasan ini, hampir masih sama dengan konsep ayunan yang digunakan oleh penganut kepercayaan Kaharingan.

P1060002.JPG

Bentuk ayunan yang disiapkan oleh panitia

Suatu ketika, saya pernah bertanya kepada seorang tokoh sejarah di Kabupaten Tapin mengenai tradisi baayun ini, Bapak Drs. H. Ahmad Gazali Usman. Saya menanyakan mengenai campur tangan agama Islam dalam tradisi baayun, mengingat kegiatan yang dilaksanakan bersamaan dengan hari lahir Nabi Muhammad. Apakah karena hal tersebut?

“Tidak, acara ini murni budaya. Agama Islam hanya masuk dan berusaha untuk tidak menghapus budaya yang telah ada. Agar kepercayaan terhadap roh-roh halus yang dapat mengganggu anak berubah, maka para pembawa Islam berusaha untuk menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Mungkin kelahiran Nabi Muhammad adalah waktu yang tepat, mengingat tradisi baayun ini juga dilaksanakan pada bayi yang baru lahir.”

Memang kenyataannya, jika mengikuti tradisi awal, maka akan banyak menyimpang dengan ajaran Islam yang sudah banyak dianut oleh masyarakat sekitar. Konsep bahwa ada roh-roh halus yang dapat mengganggu anak, sehingga anak harus diayun tidak lagi dapat diterima oleh masyarakat. Apalagi dengan sesajen yang dianggap dapat menenangkan roh-roh halus tersebut.

Saya juga berpikir akulturasi yang terjadi cukup sempurna. Dalam artian, niat dalam melakukan tradisi ini berubah kepada niat yang lebih baik, namun pelaksaannya dan juga fisik dari ayunannya masih mengikuti tradisi yang pernah ada. Sejujurnya saya salut dengan pembawa ajaran Islam ke daerah Banua Halat yang tidak berusaha untuk menghilangkan tradisi ini, namun membawanya kepada konsep pelaksanaan yang lebih baik.

Siapa sangka peserta tahun 2015 kemarin mencapai 4000 orang bahkan lebih? Berdasarkan penuturan beberapa masyarakat sekitar dan juga panitianya, pesertanya pun tidak hanya masyarakat Banua Halat, namun lebih banyak dari luar kota dan luar pulau Kalimantan ini sendiri. Beberapa masayarakat dari negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam bahkan datang untuk sekedar menyaksikan dan mengikuti acara baayun ini.

P1050994

Banyaknya masyarakat yang berpartisipasi dalam acara baayun maulid

Sampai saat ini saya tidak tahu persis apakah pesertanya masih lebih banyak dari penganut agama Islam atau pun ada juga dari penganut agama lain. Namun, lebih dari itu hal ini menunjukkan bahwa budaya yang tadinya kecil, dan hanya dilakukan dalam sebuah keluarga, dapat menjadi besar dan diikuti oleh lebih banyak orang. Dan juga sebuah budaya yang berasal dari kepercayaan lain, tidak lantas hilang karena kepercayaan masyarakatnya berubah.

Lewat tradisi baayun maulid ini, saya kembali berpikir bahwa Indonesia sebenarnya  memiliki banyak budaya luar biasa yang belum terekspos kepada dunia luar. Bahwa Indonesia memiliki nilai-nilai budaya yang seharusnya tidak lekang karena perubahan waktu. Hal ini tercermin dari bagaimana masyarakat sekitar Banua Halat berusaha untuk melestarikan budaya mengayun anak mereka yang diyakini dapat membawa kebaikan kepada anak di masa depan.

Selain dari nilai-nilai yang memang dipegang oleh masyarakatnya, bukankah menjadi hal baik pula bahwa budaya Indonesia dapat menjadi daya tarik wisatawan asing untuk berkunjung?

Sebagai informasi, tradisi baayun ini juga sebenarnya dilaksanakan oleh masayarakat Sampit (Kalimantan Tengah), di Tembilahan (Riau), Langkat (Sumatera Utara) bahkan di Pahang dan Selangor (Malaysia). Tradisi baayun anak yang berasal dari Banajr mengalami difusi ke luar Banjar, tetap hidup dan berkembang di wilayah komunitas suku Banjar yang sudah hidup turun-temurun di kawasan luar Banjar tersebut.[4]

Biarpun demikian, Banua Halat (tempat kelahiran saya) masih memegang rekor peserta terbanyak, yaitu 1500 anak-anak dan 3000 orang dewasa pada tahun 2015 kemarin.[5] Ini mengakibatkan jalanan di Banua Halat yang biasanya sepi menjadi ramai seketika. Hal ini membuat saya yang anak asli Banua halat menjadi bangga dengan masayarakatnya.

Walau pun sangat amat ramai, tangan takut kekurangan makanan karena biasanya penjual makanan di pinggir jalan cukup banyak. Selain itu, hampir setiap rumah di sekitar masjid akan membuka rumahnya untuk pengunjung dari mana pun mereka berasal. Tanpa dipungut biaya tentunya. Hanya untuk menyemarakkan acara yang semakin meriah.

Bagaimana? Tertarik untuk diayun?

Saya pribadi dan 4 orang adik, yang tidak semuanya lahir di Banua Halat pun sudah diayun. Anda kapan?

Banjarmasin, 29 Februari 2016

[1] Wajidi, Akulturasi Budaya Banjar di Banua Halat, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2011), hlm. 105-106

[2] Rusla, Peserta Baayun Maulid Pecahkan Rekor Baru (antaranews.com, 24 Februari 2010).

[3] Wajidi, op.cit., hlm. 109

[4] Emawati, Pembudayaan Ritual Baayun Anak di Sampit, Kalimantan Tengah (Tangerang: Young Progressive Muslim, 2015), hlm. 101

[5] Syahminan Alfarisi, Baayun Maulid di Banua Halat, Rantau Tapin (rri.co.id, 24 Desember 2015)

Lapindo Bisa Jadi Project Ara?

Saya rada ngaco bikin judulnya, tapi kira-kira itu yang ada di pikiran saya ketika pertama kali terpikir untuk membuat tulisan ini. Mungkin terkesan promosi karena memang saya membawa sebuah nama yang, walau masih asing, saya mengenalnya beberapa waktu yang lalu dari grup jaman MAN dahulu.

Jika bertanya mengapa saya banyak memposting akhir-akhir ini, karena saya merasa perlu membagi apa yang saya miliki. Walaupun tidak lebih dari catatan agar suatu saat bisa saya tatap kembali untuk bangun dari mimpi jangka panjang saya.

Akhir-akhir ini karena memang liburan panjang jadi saya menyempatkan diri untuk menengok televisi. Berhubung saya biasa terpaku dengan laptop selama kuliah berjalan, saya beranikan untuk menengok televisi saat ini. Ternyata banyak yang saya dapatkan, selain sinetron yang belakangan ini saya ikuti dan drama Korea yang tiba-tiba muncul di televisi daerah, saya juga menemukan sebuah berita yang mengupas lumpur Lapindo dan juga Ara, seorang pemudi dengan pemikiran luar biasa.

Berita tentang lumpur Lapindo saya dapatkan sangat terlambat, mengingat saya menghabiskan masa kecil saya di luar negeri sejak tahun 2005. Setelah kembali ke Indonesia tahun 2010, baru saya mengetahui berita tentang lumpur yang muncul dan bahkan dianggap sebagai bencana alam. Tetapi saya tidak membicarakan tentang bagaimana lumpurnya bisa keluar karena saya bukan orang geografi apalagi geologi. Semoga tidak ada yang membaca ini karena mencari sumber tentang lumpur Lapindo ya.

Kenyataan bahwa perusahaan yang sama akan melakukan pengeboran di tempat yang berjarak sekitar 2,5 km dari semburan lumpur lapindo yang ada saat ini memang sangat memberatkan hati. Saya jadi ikut menangis melihat seorang korban yang sedih karena telah 10 tahun kehilangan rumahnya akibat lumpur Lapindo.  Melihat beliau, saya merasa bahwa negeri ini masih butuh banyak tangan untuk tersingsing lengannya. Mungkin masa saya dan teman-teman yang lain sudah hampir datang.

Belum ada yang bisa memastikan bahwa pengeboran yang akan dilakukan kemudian tidak akan mengulang insiden yang sama dengan lumpur Lapindo. Tetapi perusahaan tersebut telah mengantongi izin dari pemerintah pusat maupun daerah sehingga merasa berhak untuk melakukan pengeboran. Selain itu, pemerintah juga –seperti yang saya lihat dari wawancara di tv- bersikeras untuk melanjutkan pengeboran padahal masyarakat banyak sekali yang melakukan penolakan. Satu hal yang saya catat dari orang nomor 2 negeri ini adalah, “Pemerintah menalangi perusahaan untuk mengganti kerugian. Untuk membayarnya, perusahaan butuh uang. Dari mana mereka akan mendapatkan uang jika tidak dengan melakukan pengeboran?”. Mungkin perkataan beliau tidak persis demikian tapi ini mernarik.

Saya mengambil kesimpulan memang belum ada yang bisa memastikan apakah pengeboran akan dilanjutkan atau tidak, walaupun Menteri ESDM meyakinkan bahwaproses menuju pengeboran masih jauh.

Oke, itu satu.

Saya mengganti channel yang saya tonton, tiba-tiba muncul seorang gadis cantik yang saya kenal lewat grup, Ara. Maafkan karena saya lupa nama lengkapnya, setidaknya dia lebih muda umurnya daripada saya. Pertama kalinya saya melihat dia di televisi, gadis yang terkenal dengan Moo’s Projectnya dalam membangun kampung yang ditinggalinya. Sosoknya sangat menginspirasi karena masih muda dan memiliki pemikiran yang luar biasa. Bahkan host dalam program itu saja memuji kecerdasan Ara.

Ara memaparkan bahwa saat ini travel and learning menjadi fokusnya. Ia belajar kepada banyak orang, namun langsung memikirkan apa yang dapat ia berikan kepada orang lain dengan pengetahuan yang telah diperolehnya. Contoh simpelnya tadi begini, Ara belajar jazz dari Trio Lestari, lalu Ara akan langsung memikirkan membuat sebuah charity jazz concert untuk membersihkan sungai. Waw, luar biasa bukan? Saya juga kagum, hehe.

Seorang host bertanya, dapat dari mana semua orang yang akan berperan dalam project tersebut? Ara menjawab, “Jika murid siap, maka guru akan datang.”

Waw, saya mah apa Ra.

Sebelumnya saya sempat merasa kecil, kecil, kecil, kecill sekali, jika mendengar cerita tentang seorang pemuda atau pemudi sukses seperti Ara. Tapi otak saya kini berpikir sebaliknya, seharusnya saya kagum dan bangga dengan adanya orang-orang seperti Ara dan saudara-saudarinya di negeri ini. Orang tua Ara pasti hebat sekali sehingga membawa tiga anaknya menjadi pribadi yang mandiri. Boleh dong Ara, ortunya dibagi-bagi. Bukan dibagi beneran sih, dibagi ilmunya maksudnya. Siapa tau menginspirasi pasangan-pasangan muda ataupun yang tidak lagi muda di negeri ini. Iya kan ya?

As my fond of Ara grow, I came to think: what if Ara tried to make a project for people who are the victims of Lapindo?

Itu yang saya pikir. I mean, she has lots of ideas in her head. So, I hope someday she would think a lot about people in this country, especially victims of Lapindo’s mud. Am I said it right? Oh idk.

Saya pikir tidak semua orang memang seberuntung Ara memiliki orang tua luar biasa sehingga anaknya tumbuh dengan sangat cerdas. Tetapi lebih beruntung lagi kita, jika orang tua Ara mau membantu orang tua lain di negeri ini dalam mendidik anak-anaknya. Akan sangat lebih baik lagi, jika Ara mengajak beberapa pemuda-pemudi di negeri ini untuk belajar sepertinya. Menjadikan mereka teman dan belajar bersama Ara.

Tapi itu hanya mimpi.

Untuk saat ini mimpi. Saya sangat berharap bisa bertemu Ara dan bersama teman pemuda-pemudi Indonesia lain merumuskan masa depan terbaik untuk negeri ini. Mungkin di lauhul mahfuzh sudah tercatatat akan menjadi seperti apa Indonesia di masa depan, tetapi bukankah Allah berfirman bahwa tidak akan Allah merubah suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengusahakannya?

“Selama tidak ada pajak mimpi, maka bermimpilah sepuasnya,” kata Ara.

“Tetapi jangan bermimpi terus. Mulailah dari hal kecil. The first one is the hardest, but it’s the most important step,” ujar Raisa malam tadi.

Banjarmasin, past midnight 00.50

I want to think about you, but give up. It’s better to think about this nation’s people, so I can grow stronger to get hurt later.

Menjadi 20 (1)

 

201

Oke, sebelumnya, umur saya belum 20. Menjelang 20 tepatnya. 7 Agustus nanti baru 20, kali aja ada yang rajin ngasih hadiah. Lah, promosi jadinya.

There is this thing, I’m having lots of worry these days.

Ngapain hidup?

Buat apa hidup?

Mau jadi apa hidup?

Selama ini ngapain aja hidup?

WHY AM I ALIVE?

Bingung.

Hal ini lebih parah lagi kalau ngeliat temen sendiri udah sukses memenangkan sebuah kejuaraan. Atau pergi ke suatu negara untuk mewakili Indonesia dalam suatu ajang. Konteksnya mungkin bukan soal mereka menang, dapat uang, dapat penghargaan, bisa keluar negeri. Bukan, bukan itu tentunya. Tetapi lebih kepada kagum, karena mereka telah menemukan ‘minat’ dan juga mungkin sebenarnya adalah ‘bakat’ mereka.

Tapi kata teman baik saya bingung itu tanda berpikir. Yang ngga baik itu kalau sudah tidak peduli.

Ah ya..

Berpikir, saya terlalu banyak berpikir akhir-akhir ini.

Suatu ketika saya mengendarai motor menuju sebuah toko buku favorit saya. Seperti biasa, hobi saya membeli buku memang harus dipenuhi setiap bulan. Atau setidaknya ketika sedang bosan, membaca buku-buku walau hanya sinopsisnya membantu saya menghilangkan pikiran yang terlalu mumet. Lalu di jalan saya melewati seseorang yang membawa gerobak sampah. Tiba-tiba motor saya berjalan lambat. 40 km/jam. 30 km/jam. 20 km/jam. Kadang malah berhenti.

Merenung.

Seberapa penting saya membaca buku sampai ‘harus’ saya beli bukunya?

Kalau sudah dibeli dan dibaca, lalu untuk apa?

Tidakkah bapak itu lebih butuh uang yang saya punya untuk beli buku?

Lalu untuk apa saya beli buku?

Walaupun saya lelah bertanya pada diri sendiri, pada akhirnya saya melanjutkan perjalanan ke toko buku tersebut. Hati saya mungkin tenang karena berhasil membeli buku yang saya incar. Tetapi hati saya yang lain perih, kenapa saya harus beli buku?

Lalu akhirnya saya cuma duduk-duduk bingung di rumah.

Tapi tak apa, mungkin diri saya sedang mencari jawaban atas banyak hal yang tiba-tiba jadi pertanyaan seperti di atas. Pada dasarnya semua orang mungkin berpikiran tidak jauh berbeda dengan apa yang saya pikirkan. Lebih banyak merenung membuat saya lebih merencanakan banyak hal. Terutama saat belanja.

Ya, saat mengeluarkan uang yang masih di’ulurkan’ oleh orang tua saya.

Banjarmasin, when night is too dark to see anylight.

22.26