Menjadi 20 (2)

Rasanya sudah lama sekali sejak saya merasa ditegur oleh banyak hal. Walau sepele, hanya karena sebuah drama tentang mimpi yang harus dikejar, tiba-tiba saya merasa harus memikirkan sekian banyak hal dalam hidup ini. Berharap bahwa mimpi yang kita cari benar memang ada di masa depan kita, atau suatu saat terbentur dengan kenyataan bahwa ada banyak hal yang tidak bisa kita tembus nantinya.

Belajar dari orang terdekat, yang sudah bisa menghasilkan uang sendiri bahkan tanpa meminta sepeser pun dari orang tuanya, saya sempat tercenung. Umurnya sama dengan saya, kuliah di jurusan keguruan juga, tetapi dia cemerlang dengan usahanya mencari penghidupan bahkan tanpa gelar sarjana. Impiannya tidak muluk-muluk, hanya keliling dunia saja.

Lalu tiba-tiba saya merasa ditegur, diminta berkaca atas banyak hal yang sudah saya lakukan hampir 20 tahun ini. Adakah saya pernah bermanfaat untuk orang lain? Ataukah selama ini telah menjadi beban tak tertanggungkan bagi orang tua? Entah, tidak tahu pasti. Mungkin yang jelas hanya kenyataan bahwa saya bingung, berkutat mencari sesuatu yang bisa, mampu, dan memang bakat yang saya bawa sejak lahir.

Di saat seperti ini entah kenapa saya merasa tidak bisa fokus dengan apa pun yang saya lakukan. Belajar, berorganisasi, bertugas, atau bahkan mengajar kecil-kecilan untuk menambah uang jajan yang kian hari terlihat semakin tak terjangkau besarannya. Apa mungkin saya sedang lelah? Yaa, kemungkinannya demikian. Tetapi menjadi sosok yang hampir 20 tahun tanpa sesuatu yang benar-benar saya inginkan untuk masa depan, rasanya saya sedang tersesat.

Adakah menjadi guru adalah impian saya, sehingga bahkan saya harus bertengkar dengan teman sejurusan atas hal sesepele tugas yang harus dishare? Adakah menjadi guru adalah tujuan saya, hingga menginginkan pendidikan di negeri ini terbebas dari kebobrokan yang entah di sebelah mana bisa dicegah? Adakah menjadi guru adalah impian saya, hingga meninggalkan satu hal yang sangat ingin saya lakukan untuk berbakti pada orang tua?

Mungkin yang membaca juga tidak jauh beda, berpikir apa yang harus dilakukan sementara orang tua, tanpa pernah pamrih bekerja siang dan malam untuk mencukupi kebutuhan. Di saat melankolis seperti ini, saya selalu teringat Abi yang di negeri petro dolar sana bekerja membantu TKW. Ah, abi tidak pernah mengeluh soal pekerjaan yang mungkin dulu tidak pernah sedikit pun terbersit di hati beliau.

Aaa, yaa, bahkan detik saya menulis ini barulah saya paham. Orang tua selalu ingin terbaik untuk anaknya, karena mereka titipan mungkin. Saya yakin, untuk saat ini orang tua belum memerlukan saya yang bisa menghasilkan uang banyak. Saat ini, orang tua hanya ingin saya belajar, belajar, dan belajar. Dan lebih daripada mendapatkan hasil yang tidak akan habis tujuh turunan, orang tua akan lebih bahagia jika dengan perjalanan yang saya tempuh, ada yang bisa saya berikan untuk orang lain.

Toh orang tua saya berjuang mati-matian sejak berkeluarga. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari penghidupan. Berhutang sana-sini untuk mencukupi kebutuhan. Mulai saat ini setidaknya saya harus bisa berjuang mati-matian. Mungkin, bahkan di jalan yang tidak saya pilih sendiri.

Banjarmasin, 18 Mei 2016

Mareeeeee

Advertisements

5 thoughts on “Menjadi 20 (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s