Bertemu Anak dengan ASD

autism

Enter a caption

Autism Spectrum Disorder.

Sejujurnya saya lagi sedih karena ditinggal Ummi balik ke Riyadh 1 April kemarin, tapi karena habis itu jalan ke SLB di Martapura, lumayan lah sedihnya hilang sedikit. Saya tidak berniat nulis sebenarnya, kecuali waktu tiba-tiba kemarin ngeliat beberapa orang memasang pp tentang memperingati Hari Kesadaran Autis Sedunia.

Kebetulan, selama 3 minggu saya dan teman-teman bolak-balik Martapura-Banjarmasin cuma buat ke SLB di sana. Dan kebetulan lagi, saya bertemu dua orang anak dengan Autism Spectrum Disorder yang kurang lebih kelihatan banget lah Autisnya. Dan lagi kebetulan, dua-duanya sempet nempel banget sama saya entah kenapa. Dibanding empat teman saya yang disibukkan dengan adik-adik yang mereka observasi, dua anak tadi sepertinya rada hobi ngerecokin saya yang lagi observasi anak dengan hambatan intelektual.

Saya pinginnya, habis baca ini temen-temen tahu bagaimana anak dengan Autis itu sebenarnya. Walaupun mereka berbeda, ada satu hal yang membuat mereka sama. Masalahnya, yang sering saya dengar adalah mereka terlihat punya dunia sendiri. Tidak salah memang, karena memang dari beberapa anak dengan Autis, mereka banyak yang sulit untuk keluar dari dunia yang mereka pahami sendiri. Kadang mereka disebut alien, karena bahasa mereka yang aneh misalnya. Pernah juga sampai dikira dukun, karena beberapa dari mereka biasa melakukan satu ritual yang berulang setiap kali bertemu sesuatu.

Saya bukan expert ya, jadi apa yang saya tulis hanya berdasarkan pengalaman saya selama berada di prodi PLB 2 tahun ini. Semua nama anak dalam tulisan ini adalah samaran.

DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-5) menjelaskan bahwa ASD memiliki karakteristik dengan kurangnya komunikasi sosial dan interaksi sosial. Selain itu, mereka juga memiliki bentuk yang berulang dan terbatas dari kebiasaan, minat, dan aktivitas. Nah kalau yang saya pelajari di kelas, intinya anak dengan ASD ini punya tiga hambatan: komunikasi, interaksi, dan perilaku. Hambatan komunikasi merujuk kepada sulitnya mereka berkomunikasi dengan orang lain, baik memahami atau menyampaikan sesuatu. Sementara hambatan interaksi lebih kepada kebiasaan mereka menyendiri, dan yang paling umum adalah mereka sulit untuk melakukan kontak mata. Terakhir, hambatan perilaku biasanya terlihat dari perilaku mereka yang repetitif, mengulang, seperti flapping (mengepakkan tangan) atau mengucapkan hal yang sama dalam beberapa waktu.

Mungkin teman-teman pernah mendengar tantrum, sebuah kondisi yang sering terjadi pada anak dengan Autis. Sebetulnya saya belum pernah bertemu anak yang sedang tantrum, tapi saya mendengar cerita dari beberapa guru di sekolah. Seorang anak pernah memukul gurunya saat sedang tantrum, bahkan pensil pernah dia tusukkan ke tangan gurunya. Tembus? Entah ya, saya juga tidak tahu kelanjutannya bagaimana. Untuk alasannya, secara medis mungkin teman-teman di kedokteran yang lebih ahli menjelaskan. Tetapi ini bisa terjadi tiba-tiba, misalnya anaknya sedang lelah atau frustasi banget karena sulit menyampaikan apa yang dia inginkan.

Saya pikir awalnya, anak dengan Autis adalah pribadi yang berbahaya karena sering tantrum. Ternyata tidak, mereka sebenarnya pribadi yang baik, yang tenang saat bertemu. Anak yang menusuk tangan gurunya dengan persil di atas, waktu saya dan teman-teman termui di kelas sebenarnya dia baik. “Halo ka,” katanya setelah diminta oleh Guru Bantu Khusus (GBK)nya menyapa kami. Terlihat si anak tadi sedang menggambar kotak dengan bantuan penggaris di buku gambar, yang ternyata hampir dari awal sampai akhir hanya kotak yang terlihat. Padahal teman-teman sekelasnya sedang mengerjakan tugas LKS di meja masing-masing. Tapi si anak tadi bahkan tidak menatap kami, dan langsung kembali menggambar kotak yang sama setelah menengok ke arah kami sesaat. Satu yang kami pahami saat itu, kontak mata sulit, perilaku dan minat yang berulang.

Di saat yang lain, kami melakukan asesmen, semacam cara menghimpun informasi potensi dan hambatan anak luar biasa. Kebetulan tugas kelompok kami adalah melakukan asesmen kepada anak dengan Autis. Jadilah kami bertemu seorang anak tampan kelas 2 SD yang sangat pendiam, Jo. Tapi dia bisa melakukan kontak mata dengan sangat baik. Sedikit banyak dia mengerti apa yang kami minta, mengikuti apa yang kami lakukan, bisa membaca dan mengenal warna dengan baik. Ah ya, hanya saja Jo sangat pendiam. Bahkan selama 2 jam kami bertemu, hanya satu-dua kata yang muncul dari mulutnya. Satu hal yang membekas di ingatan saya saat itu, anak ini ternyata sensitif dengan es. Saat teman saya, Aulia Zahra, mengeluarkan es dari kantongnya untuk memastikan apakah indera perasanya, atau kulitnya berfungsi dengan baik, Jo justru langsung lari ke luar ruangan. GBK yang mendampinginya sampai harus lari untuk mengejarnya. Butuh lebih dari 15 menit sampai Jo akhirnya mau masuk ke ruangan lagi. Teman saya sampai harus membuang esnya dan asesmen tentang persepsi indera perasa kami sampai pada kesimpulan bahwa Jo mungkin memiliki trauma dengan es. Ternyata memang Jo tidak pernah diperboehkan orangtuanya untuk minum air es dan entah apa yang membuatnya sampai harus lari saat mendengar kata ‘es’.

Seminggu yang lalu, di Martapura saya bertemu dengan Li, anak perempuan yang lucu. Neneknya menjelaskan kepada saya bahwa Li adalah anak yang diperaktif berdasarkan penuturan dokter. Saat bertemu dengannya, saya pikir Li memang hiperaktif karena hampir tidak bisa diam. Saya mungkin tidak berhak untuk menyebutkan hal ini, tetapi perilaku Li amat sangat berulang saat bertemu dengan saya. Berdasarkan yang saya pelajari ya, anak dengan hiperaktif umumnya tetap dapat melakukan kontak mata, dan mendengar dengan baik saat namanya dipanggil. Hanya saja mereka sulit fokus dan mudah terdistraksi. Tetapi Li berbeda, saya berusaha memanggilnya beberapa kali tetapi dia tidak menoleh. Saya memintanya untuk senam seperti yang lain, Li justru mengganggu temannya. Satu hal yang membuat saya merasa Li memiliki ASD adalah pertanyaannya yang berulang.

Saat itu memang anak-anak sedang senam. Sementara anak-anak dengan tunarungu bahkan mengikuti guru di depan untuk senam, Li tidak. Dia asik berputar di belakang, sampai akhirnya saya menghampirinya dan memintanya untuk senam. Kebetulan hari itu, kelompok kami terdiri dari 4 orang perempuan dan 1 orang laki-laki. Awalnya, saat melihat teman saya yang laki-laki, Li bertanya “Ka, itu Bapak siapa?”, “Bapak Aldy, saya jawab.” Sekali. “Kaa, kita jalan-jalan sii naah,” ajaknya dalam bahasa Banjar. Saya bilang kita sedang senam, senam dulu baru jalan. Sekali dia mengajak saya berputar di tempat, Li kembali bertanya hal yang sama, “Ka, itu Bapak siapa?” dan saya kembali menjawabnya. Saya pikir mungkin ingatan Li kurang baik, sehingga harus bertanya hal yang sama dalam waktu berdekatan.

Tiga kali. Lima kali. Delapan kali. Sepuluh kali. Saya mulai bingung. Bahkan setelah senam selesai dan saya sedang mendorong kursi roda seorang anak, Li kembali menghampiri saya dan bertanya hal yang sama, “Ka, itu Bapak siapa?” dan saya tetap menjawab hal yang sama. Saya sudah mengelilingi sekolah saat istirahat sampai Li datang lagi kepada saya dan bertanya dengan pertanyaan yang sama. 13 kali, 15 kali, saya mulai bingung. Aldy yang ditanya sejak tadi hanya senyum-senyum tidak jelas melihatnya. Repetitif. Rasanya saya ditanya dan menjawab lebih dari 20 pertanyaan yang sama hari itu: “Ka, itu Bapak siapa?”, “Bapak Aldy.” Ternyata Li memiliki seorang kakak laki-laki seumuran kami, ujar neneknya. Karena itu mungkin Li bertanya hal yang sama berkali-kali. Ah ya, Li juga hampir tidak bisa melakukan kontak mata. Dia bertanya kepada saya, tetapi Li justru melihat ke arah lain.

Saya sudah terlalu banyak menulis. Hehe.

Terkhir, An, anak laki-laki dengan Autis kelas 5 SD. An baik sebenarnya, hanya saja seperti yang lain, dia repetitif sekali. Saya mengajaknya berfoto bersama, sekali. Lalu dia meminta untuk difoto sendiri. Dua kali. Tiga kali. Lima kali. Sampai akhirnya dia pulang. Banyak sekali foto An di hape saya, hehe. Keesokan harinya An menjadi anak yang paling sulit diminta untuk berbaris saat pramuka. Tetapi An anak yang menyenangkan, memanggil kami dengan sebutan “Ibu.” Geks.

Oh ya, memang ada anak dengan Autism yang punya kepintaran luar biasa, disebut anak dengan Asperger’s Syndrome, tapi saya belum pernah bertemu dengan mereka. Lain kali kalau saya bertemu dengan mereka, Insya Allah saya share lagi.

Intinya memang mereka memiliki hambatan yang sulit untuk dicegah. Tidak ada yang bisa disalahkan akan perilaku Autis mereka. Terkadang saya merasa putus asa dengan prodi saya, berpikir bahwa sebenarnya tidak ada yang bisa saya lakukan untuk mengembalikan anak-anak ini seperti anak “normal” menurut kebanyakan orang. Walau pada akhirnya manjadi normal tidaklah terlalu penting, karena semua manusia pasti akan mati. Saya hanya berharap, semoga apa yang dikatakan dosen-dosen saya benar bahwa seiring usia mereka bertambah, pola pikir mereka pun akan jauh lebih baik. Dan hal ini, tidak lain harus didukung oleh lingkungan anak termasuk sekolah.

Saya jadi teringat penuturan seorang Ibu dari anak dengan hambatan intelektual, “Saya cuma pingin Zahra, supaya anak saya mandiri. Bahkan saya ngga bisa berpikir bagaimana dia nantinya kalau saya meninggal,” dan detik itu, saya sangat ingin menangis.

Oh ya, menurut saya, menjadikan kata “Autis” sebagai ejekan di antara temen-temen yang sebenarnya tidak punya ciri-ciri Autis itu tidak benar. Ini konyol, karena bahkan untuk anak Autis sendiri, saya yakin mereka tidak pernah ingin terlahir demikian. Awalnya saya santai saja dengan ejekan yang beberapa kali saya dengar ini, tetapi ternyata menyakitkan setelah menyelam ke dunia PLB. Bayangkan jika orang tua si anak mendengar, sungguh tidak manusiawi sekali.

 

Banjarmasin, 3 April 2016

Siang, di rumah rada ribut.

Advertisements