Cerita Masa Lalu

rain.jpg

Heavy Downpour — Image by © Anthony Redpath/Corbis

Kali ini biarkan saya bergurau tentang masa lalu. Walau tidak pantas untuk disebut sangat ‘lalu’ karena baru hanya setahun berlalu. Ah, saya bukan pengamat walau saya mengamati, dan tidak akan bicara soal politik dan demokrasi walau saya menggunakan hak saya untuk berbicara. Tidak juga bicara tentang ekonomi, karena saya hanya konsumen. Jangan ditanggapi serius ya. Saya hanya bergurau kali ini, berkisah tentang masa lalu yang ternyata masih butuh waktu untuk dapat terhapus, diterima, dan dimaafkan.

22 Maret setahun yang lalu, saya mencatatnya sebagai hari yang amat menyedihkan. Karena seumur hidup, saya tidak pernah menangis dari pagi sampai menjelang siang, keluar dari rumah dan mendapati diri saya kembali terjerembab dalam tangisan tak berujung. Bukan karena tiba-tiba negara kita kembali dijajah, atau tiba-tiba harga diri saya direnggut walau yaaaa mungkin hanya berselisih arti sedikit saja.

Tangisan itu berulang. Sekali, dua kali, tiga kali, bahkan jika saya sedikit saja teringat hari itu maka dada saya akan sesak dan kembali menangis. Cengeng saya, dan entah kenapa kenangan itu hampir selalu pedih jika saya mengingatnya.

Tidak banyak yang tau, kecuali orang tua, kerabat dan seorang teman dekat yang tiada henti mendengar keluhan karena hal yang sama, kejadian yang sama, kepedihan yang sama, derita yang sama. Dan bahkan ketika susah itu bertambah dan sampai ke ujungnya, saya menemukan diri saya menangis di bawah deras hujan, sambil menyetir sepeda motor menghampiri Ummi.

Saya paham sekali bahwa semua orang merasakan kepedihan, memiliki masalahya masing-masing, dan berusaha mati-matian memaafkan, melupakan, dan menerimanya dengan lapang hati. Kegalauan dan kebimbangan yang saya rasakan selama ini mungkin tidak seujung upil jika dibandingkan dengan kepedihan yang dirasakan saudara-saudari sesama Muslim di Palestina, Syiria, dan daerah sekitarnya. Tentu saja tidak, bahkan saya tidak akan pernah berani membandingkan apalagi dengan sadar saya paham, penderitaan saya bukan apa-apa.

Saya sempat mengaduh, menyelipkan do’a berkali-kali, berharap penyakit hati yang saya miliki terhapus seketika. Berharap Allah berbaik hati menyusunkan keberanian dan kebesaran hati untuk bisa menerima sebagaimana Ia yang Pemaaf. Tetapi saya manusia, dan Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika tidak mereka yang berusaha mengubahnya sendiri.

Sibuk dengan kuliah, tersita waktu oleh organisasi, saya berharap saya lupa. Dengan nada aktifitas yang tinggi, saya pikir semuanya akan berlalu seperti waktu yang membantu sambil berpacu. Walau ternyata saya salah. Bahkan setelah sekeras-kerasnya Ummi dan Abi meminta saya berhenti, melupakan, melepaskan, menerima, masih tidak bisa. Saya butuh lebih dari dorongan, lebih dari support orang sekitar untuk bisa melepaskan kesedihan. Saya butuh keinginan, keinginan untuk menerima, keinginan untuk melepaskan, keinginan untuk mengakui, dan keinginan untuk dengan tulus memaafkan.

Bodoh. Saya paham sedikit banyak sebenarnya saya gila. Gila dengan ketidakbiasaan, gila dengan ketiba-tibaan, gila dengan kenyataan bahwa saya percaya saya tidak salah. Setahun ini saya paham bahwa saya pengecut, lari dari semuanya tanpa bisa memperbaiki. Lari bahkan tanpa sedikit pun menoleh ke belakang, mengintip apa yang telah berubah selama setahun ini. Saya pengecut papan atas, ahli lari dari segala masalah dengan cara saya sendiri.

Sayangnya saya tidak butuh simpati. Dan bersyukur, Allah membuat saya menemukan akhir sebuah novel yang buru-buru saya selesaikan.

Ketahuilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau memenangkan seluruh pertempuran.”  (Tere-Liye, Pulang)

“Kita cukup mengalahkan diri sendiri.” (Tere-Liye, Pulang)

Saya tertegun. Belum pernah saya membaca novel tiba-tiba merasa digertak untuk berubah. Mengubah diri sendiri, mengubah perasaan, dan kemudian mengubah kenyataan yang saya percayai.

Belum bulat hati saya ketika kemudian, saya kembali membaca buku dengan pengarang yang sama. Memantapkan hati saya bahwa bukan melupakan yang menjadi penting, tetapi menerima.

Tetapi sesungguhnya, bukan melupakan yang menjadi masalahnya. Tetapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia bisa melupakan. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan bisa melupakan.” (Tere-Liye, Hujan)

Tiba-tiba saya merasa ditampar. Seiring dengan lembar-lembar yang hampir mendekati ujungnya, saya tau kepedihan saya tiba-tiba menguap. Rasa marah, sedih, benci, perih, kesal, dan semua itu menemukan tempat aslinya yang bukan di hati saya. Seketika saya merasa lupa, bahwa setahun yang lalu, saya pernah gundah dan terjatuh di posisi terburuk saya setelah 18 tahun hidup di muka bumi.

Saya berharap semuanya selesai. Tetapi memang dunia bukan tempat istirahat– suatu ketika Ummi mengingatkan. Ya, pada akhirnya saya memilih menerima, memeluk erat seperti Lail akan kenangannya tentang Esok dan hujan. Dan yakin bahwa seiring waktu berlalu, rasa risih yang tersisa akan luruh. Setidaknya saya berharap demikian. Saya mengalahkan ego yang saya pegang, seperti Bujang mengalahkan dirinya sendiri.

Pada akhirnya saya hanya manusia, lagi. Dan persoalan yang kita hadapi tidak habis kecuali maut menghampiri. Karena ternyata harga yang harus saya bayar untuk menerima semua kenangan itu sangat mahal. Membuat saya sadar ternyata kembali terjatuh pada lubang yang sama, alasan di balik kejadian 22 Maret setahun silam.

Kenyataannya memang saya tidak dibiarkan untuk melupakan, karena saya kehilangan sesuatu yang saya perjuangkan habis-habisan setahun yang lalu. Dengan tangis, dengan sepi, dengan gundah yang terus mengusik. Dan saya, tidak boleh lelah. Itu saja.

Sore dengan backsound rintik hujan di Banjarmasin, 23 Maret 2016

Abi, akhirnya kaka berani.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s