Baayun Maulid di Banua Halat

 

Setiap bulan Rabi’ul Awwal, Banua Halat, sebuah desa kecil di daerah Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, selalu dipadati oleh ribuan orang yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan lima tahun belakangan ini, beberapa turis dari negara tetangga pun datang untuk menyaksikan sebuah tradisi yang telah turun temurun dilaksanakan oleh masyarakat setempat. Ada yang tau acara apa?

P1050998.JPG

Baayun maulid di Banua Halat, Kab. Tapin, Kalimantan Selatan

Ya, tidak lain dan tidak bukan adalah acara “baayun maulid”.

Baayun maulid berasal dari kata “ayun” yang diartikan “melakukan proses ayunan”. Sementara kata maulid berasal dari kata maulid (kelahiran) Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, baayun maulid diartikan sebagai kegiatan mengayun bayi atau anak sambil membaca syair maulid atau bersamaan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. Kegiatan ini biasa dilakukan pada tanggal 12 Rabiul Awwal atau bertepatan dengan tanggal lahir Rasulullah SAW[1].

Baayun maulid adalah sebuah tradisi yang telah dilakukan oleh masyarakat Banua Halat secara turun temurun.Tradisi ini hanya dilakukan setahun sekali, namun mendapatkan antusiasme luar biasa dari masyarakat Kalimantan Selatan itu sendiri. Kegiatan ini menjadi istimewa karena pesertanya tidak hanya ratusan, melainkan ribuan. Pada tahun 2008, jumlah peserta baayun ini mencetak rekor MURI dengan jumlah mencapai 1.544 orang.[2]

Tradisi ini merupakan sebuah budaya yang diturunkan oleh masyarakat yang menganut kepercayaan Kaharingan sebagai upacara pemberkatan yang dilakukan oleh bidan kepada bayi dan ibunya. Menurut tradisi asalnya, upacara baayun anak dilaksanakan dengan maksud agar keturunan mereka tidak mendapat gangguan dari roh-roh makhluk-makhluk halus, seperti hantu, jin, setan, siluman dan roh orang yang sudah meninggal atau hantu jadi-jadian. Mereka beranggapan bahwa jika anak mereka tidak diayun, akan mendapat gangguan dari makhluk-makhluk halus. Pelaksanaan yang masih murni dari tradisi baayun anak ini masih dilakukan oleh masyarakat Dayak Meratus.[3]

Untuk saat ini, dengan pengaruh masuknya Islam ke daerah Banua Halat, maka tujuan mengayun anak tersebut berubah. Sebagaimana pelaksanaannya yang disesuaikan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad, maka tujuan mengayun anak adalah agar mendapat syafa’at Rasulullah SAW. Tentunya, agar anak yang diayun dapat mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW dengan baik dan menjadi umat yang taat. Meskipun baayun ini tidak lagi menjadi sebuah kewajiban dalam keluarga ketika seorang anak lahir, masyarakat sekitar masih beranggapan bahwa tidak ‘afdhol’ jika anak mereka tidak pernah diayun di masjid saat perayaan maulid. Tradisi ini menjadi semacam agenda wajid setelah anak lahir, seperti acara tasmiah dan aqiqah yang biasa dilakukan oleh umat muslim saat anak mereka lahir.

Konsep dari baayun maulid ini sebenarnya sederhana, yaitu mengayunkan anak dalam ayunan saat syair-syair puji-pujian kepada Rasulullah SAW disenandungkan. Biasanya, orang-orang penting seperti bupati, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh adat, dan beberapa masyarakat akan memenuhi bagian dalam masjid. Di dalam masjid inilah kegiatan seperti ceramah dan sambutan di sampaikan serta syair-syair disenandungkan. Sedangkan ayunan-ayunan akan diletakkan di bagian halaman masjid yang cukup luas. Pelaksanaan baayun di sekitar masjid juga dimaksudkan agar hati anak yang diayun terpaut dengan masjid. Saat besar nanti, mereka diharapkan akan selalu melaksanakan sholat dan juga berjamaah di masjid.

P1050996.JPG

Tempat acara baayun maulid berpusat

Sekitar 10 tahun yang lalu, bagian halaman masjid masih cukup untuk menampung peserta yang memang hanya anak-anak dan bayi beserta orang tua yang mengantar. Namun, zaman telah berubah. Banyak sekali remaja, orang dewasa, bahkan kakek dan nenek yang mengikuti acara ini. Banyak yang melakukannya karena nazar atau janji dan banyak pula yang mengikutinya hanya untuk memeriahkan acara atau sekedar merasakan sensasi baayun  bersama ribuan orang lainnya. Hal ini menyebabkan ayunan tidak lagi hanya berada di lapangan masjid, melainkan keluar masjid sampai ke jalan raya dan bahkan rumah masyarakat sekitar masjid.

Untuk ayunannya sendiri, selain memang terdiri dari beberapa lapis kain, ayunan juga dilengkapi dengan anyaman-anyaman buah ketupat dan janur. Terdapat beberapa kain yang juga dianyam sebagai hiasan untuk ayunan. Ayunan dipenuhi oleh hias-hiasan yang memperindah tampilan ayunan itu sendiri. Dan sampai saat ini, hiasan tersebut masih dibuat oleh masyarakat sekitar Masjid Keramat Banua Halat tersebut. Nah, bentuk dari ayunan dengan hiasan-hiasan ini, hampir masih sama dengan konsep ayunan yang digunakan oleh penganut kepercayaan Kaharingan.

P1060002.JPG

Bentuk ayunan yang disiapkan oleh panitia

Suatu ketika, saya pernah bertanya kepada seorang tokoh sejarah di Kabupaten Tapin mengenai tradisi baayun ini, Bapak Drs. H. Ahmad Gazali Usman. Saya menanyakan mengenai campur tangan agama Islam dalam tradisi baayun, mengingat kegiatan yang dilaksanakan bersamaan dengan hari lahir Nabi Muhammad. Apakah karena hal tersebut?

“Tidak, acara ini murni budaya. Agama Islam hanya masuk dan berusaha untuk tidak menghapus budaya yang telah ada. Agar kepercayaan terhadap roh-roh halus yang dapat mengganggu anak berubah, maka para pembawa Islam berusaha untuk menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Mungkin kelahiran Nabi Muhammad adalah waktu yang tepat, mengingat tradisi baayun ini juga dilaksanakan pada bayi yang baru lahir.”

Memang kenyataannya, jika mengikuti tradisi awal, maka akan banyak menyimpang dengan ajaran Islam yang sudah banyak dianut oleh masyarakat sekitar. Konsep bahwa ada roh-roh halus yang dapat mengganggu anak, sehingga anak harus diayun tidak lagi dapat diterima oleh masyarakat. Apalagi dengan sesajen yang dianggap dapat menenangkan roh-roh halus tersebut.

Saya juga berpikir akulturasi yang terjadi cukup sempurna. Dalam artian, niat dalam melakukan tradisi ini berubah kepada niat yang lebih baik, namun pelaksaannya dan juga fisik dari ayunannya masih mengikuti tradisi yang pernah ada. Sejujurnya saya salut dengan pembawa ajaran Islam ke daerah Banua Halat yang tidak berusaha untuk menghilangkan tradisi ini, namun membawanya kepada konsep pelaksanaan yang lebih baik.

Siapa sangka peserta tahun 2015 kemarin mencapai 4000 orang bahkan lebih? Berdasarkan penuturan beberapa masyarakat sekitar dan juga panitianya, pesertanya pun tidak hanya masyarakat Banua Halat, namun lebih banyak dari luar kota dan luar pulau Kalimantan ini sendiri. Beberapa masayarakat dari negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam bahkan datang untuk sekedar menyaksikan dan mengikuti acara baayun ini.

P1050994

Banyaknya masyarakat yang berpartisipasi dalam acara baayun maulid

Sampai saat ini saya tidak tahu persis apakah pesertanya masih lebih banyak dari penganut agama Islam atau pun ada juga dari penganut agama lain. Namun, lebih dari itu hal ini menunjukkan bahwa budaya yang tadinya kecil, dan hanya dilakukan dalam sebuah keluarga, dapat menjadi besar dan diikuti oleh lebih banyak orang. Dan juga sebuah budaya yang berasal dari kepercayaan lain, tidak lantas hilang karena kepercayaan masyarakatnya berubah.

Lewat tradisi baayun maulid ini, saya kembali berpikir bahwa Indonesia sebenarnya  memiliki banyak budaya luar biasa yang belum terekspos kepada dunia luar. Bahwa Indonesia memiliki nilai-nilai budaya yang seharusnya tidak lekang karena perubahan waktu. Hal ini tercermin dari bagaimana masyarakat sekitar Banua Halat berusaha untuk melestarikan budaya mengayun anak mereka yang diyakini dapat membawa kebaikan kepada anak di masa depan.

Selain dari nilai-nilai yang memang dipegang oleh masyarakatnya, bukankah menjadi hal baik pula bahwa budaya Indonesia dapat menjadi daya tarik wisatawan asing untuk berkunjung?

Sebagai informasi, tradisi baayun ini juga sebenarnya dilaksanakan oleh masayarakat Sampit (Kalimantan Tengah), di Tembilahan (Riau), Langkat (Sumatera Utara) bahkan di Pahang dan Selangor (Malaysia). Tradisi baayun anak yang berasal dari Banajr mengalami difusi ke luar Banjar, tetap hidup dan berkembang di wilayah komunitas suku Banjar yang sudah hidup turun-temurun di kawasan luar Banjar tersebut.[4]

Biarpun demikian, Banua Halat (tempat kelahiran saya) masih memegang rekor peserta terbanyak, yaitu 1500 anak-anak dan 3000 orang dewasa pada tahun 2015 kemarin.[5] Ini mengakibatkan jalanan di Banua Halat yang biasanya sepi menjadi ramai seketika. Hal ini membuat saya yang anak asli Banua halat menjadi bangga dengan masayarakatnya.

Walau pun sangat amat ramai, tangan takut kekurangan makanan karena biasanya penjual makanan di pinggir jalan cukup banyak. Selain itu, hampir setiap rumah di sekitar masjid akan membuka rumahnya untuk pengunjung dari mana pun mereka berasal. Tanpa dipungut biaya tentunya. Hanya untuk menyemarakkan acara yang semakin meriah.

Bagaimana? Tertarik untuk diayun?

Saya pribadi dan 4 orang adik, yang tidak semuanya lahir di Banua Halat pun sudah diayun. Anda kapan?

Banjarmasin, 29 Februari 2016

[1] Wajidi, Akulturasi Budaya Banjar di Banua Halat, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2011), hlm. 105-106

[2] Rusla, Peserta Baayun Maulid Pecahkan Rekor Baru (antaranews.com, 24 Februari 2010).

[3] Wajidi, op.cit., hlm. 109

[4] Emawati, Pembudayaan Ritual Baayun Anak di Sampit, Kalimantan Tengah (Tangerang: Young Progressive Muslim, 2015), hlm. 101

[5] Syahminan Alfarisi, Baayun Maulid di Banua Halat, Rantau Tapin (rri.co.id, 24 Desember 2015)

Advertisements

Lapindo Bisa Jadi Project Ara?

Saya rada ngaco bikin judulnya, tapi kira-kira itu yang ada di pikiran saya ketika pertama kali terpikir untuk membuat tulisan ini. Mungkin terkesan promosi karena memang saya membawa sebuah nama yang, walau masih asing, saya mengenalnya beberapa waktu yang lalu dari grup jaman MAN dahulu.

Jika bertanya mengapa saya banyak memposting akhir-akhir ini, karena saya merasa perlu membagi apa yang saya miliki. Walaupun tidak lebih dari catatan agar suatu saat bisa saya tatap kembali untuk bangun dari mimpi jangka panjang saya.

Akhir-akhir ini karena memang liburan panjang jadi saya menyempatkan diri untuk menengok televisi. Berhubung saya biasa terpaku dengan laptop selama kuliah berjalan, saya beranikan untuk menengok televisi saat ini. Ternyata banyak yang saya dapatkan, selain sinetron yang belakangan ini saya ikuti dan drama Korea yang tiba-tiba muncul di televisi daerah, saya juga menemukan sebuah berita yang mengupas lumpur Lapindo dan juga Ara, seorang pemudi dengan pemikiran luar biasa.

Berita tentang lumpur Lapindo saya dapatkan sangat terlambat, mengingat saya menghabiskan masa kecil saya di luar negeri sejak tahun 2005. Setelah kembali ke Indonesia tahun 2010, baru saya mengetahui berita tentang lumpur yang muncul dan bahkan dianggap sebagai bencana alam. Tetapi saya tidak membicarakan tentang bagaimana lumpurnya bisa keluar karena saya bukan orang geografi apalagi geologi. Semoga tidak ada yang membaca ini karena mencari sumber tentang lumpur Lapindo ya.

Kenyataan bahwa perusahaan yang sama akan melakukan pengeboran di tempat yang berjarak sekitar 2,5 km dari semburan lumpur lapindo yang ada saat ini memang sangat memberatkan hati. Saya jadi ikut menangis melihat seorang korban yang sedih karena telah 10 tahun kehilangan rumahnya akibat lumpur Lapindo.  Melihat beliau, saya merasa bahwa negeri ini masih butuh banyak tangan untuk tersingsing lengannya. Mungkin masa saya dan teman-teman yang lain sudah hampir datang.

Belum ada yang bisa memastikan bahwa pengeboran yang akan dilakukan kemudian tidak akan mengulang insiden yang sama dengan lumpur Lapindo. Tetapi perusahaan tersebut telah mengantongi izin dari pemerintah pusat maupun daerah sehingga merasa berhak untuk melakukan pengeboran. Selain itu, pemerintah juga –seperti yang saya lihat dari wawancara di tv- bersikeras untuk melanjutkan pengeboran padahal masyarakat banyak sekali yang melakukan penolakan. Satu hal yang saya catat dari orang nomor 2 negeri ini adalah, “Pemerintah menalangi perusahaan untuk mengganti kerugian. Untuk membayarnya, perusahaan butuh uang. Dari mana mereka akan mendapatkan uang jika tidak dengan melakukan pengeboran?”. Mungkin perkataan beliau tidak persis demikian tapi ini mernarik.

Saya mengambil kesimpulan memang belum ada yang bisa memastikan apakah pengeboran akan dilanjutkan atau tidak, walaupun Menteri ESDM meyakinkan bahwaproses menuju pengeboran masih jauh.

Oke, itu satu.

Saya mengganti channel yang saya tonton, tiba-tiba muncul seorang gadis cantik yang saya kenal lewat grup, Ara. Maafkan karena saya lupa nama lengkapnya, setidaknya dia lebih muda umurnya daripada saya. Pertama kalinya saya melihat dia di televisi, gadis yang terkenal dengan Moo’s Projectnya dalam membangun kampung yang ditinggalinya. Sosoknya sangat menginspirasi karena masih muda dan memiliki pemikiran yang luar biasa. Bahkan host dalam program itu saja memuji kecerdasan Ara.

Ara memaparkan bahwa saat ini travel and learning menjadi fokusnya. Ia belajar kepada banyak orang, namun langsung memikirkan apa yang dapat ia berikan kepada orang lain dengan pengetahuan yang telah diperolehnya. Contoh simpelnya tadi begini, Ara belajar jazz dari Trio Lestari, lalu Ara akan langsung memikirkan membuat sebuah charity jazz concert untuk membersihkan sungai. Waw, luar biasa bukan? Saya juga kagum, hehe.

Seorang host bertanya, dapat dari mana semua orang yang akan berperan dalam project tersebut? Ara menjawab, “Jika murid siap, maka guru akan datang.”

Waw, saya mah apa Ra.

Sebelumnya saya sempat merasa kecil, kecil, kecil, kecill sekali, jika mendengar cerita tentang seorang pemuda atau pemudi sukses seperti Ara. Tapi otak saya kini berpikir sebaliknya, seharusnya saya kagum dan bangga dengan adanya orang-orang seperti Ara dan saudara-saudarinya di negeri ini. Orang tua Ara pasti hebat sekali sehingga membawa tiga anaknya menjadi pribadi yang mandiri. Boleh dong Ara, ortunya dibagi-bagi. Bukan dibagi beneran sih, dibagi ilmunya maksudnya. Siapa tau menginspirasi pasangan-pasangan muda ataupun yang tidak lagi muda di negeri ini. Iya kan ya?

As my fond of Ara grow, I came to think: what if Ara tried to make a project for people who are the victims of Lapindo?

Itu yang saya pikir. I mean, she has lots of ideas in her head. So, I hope someday she would think a lot about people in this country, especially victims of Lapindo’s mud. Am I said it right? Oh idk.

Saya pikir tidak semua orang memang seberuntung Ara memiliki orang tua luar biasa sehingga anaknya tumbuh dengan sangat cerdas. Tetapi lebih beruntung lagi kita, jika orang tua Ara mau membantu orang tua lain di negeri ini dalam mendidik anak-anaknya. Akan sangat lebih baik lagi, jika Ara mengajak beberapa pemuda-pemudi di negeri ini untuk belajar sepertinya. Menjadikan mereka teman dan belajar bersama Ara.

Tapi itu hanya mimpi.

Untuk saat ini mimpi. Saya sangat berharap bisa bertemu Ara dan bersama teman pemuda-pemudi Indonesia lain merumuskan masa depan terbaik untuk negeri ini. Mungkin di lauhul mahfuzh sudah tercatatat akan menjadi seperti apa Indonesia di masa depan, tetapi bukankah Allah berfirman bahwa tidak akan Allah merubah suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengusahakannya?

“Selama tidak ada pajak mimpi, maka bermimpilah sepuasnya,” kata Ara.

“Tetapi jangan bermimpi terus. Mulailah dari hal kecil. The first one is the hardest, but it’s the most important step,” ujar Raisa malam tadi.

Banjarmasin, past midnight 00.50

I want to think about you, but give up. It’s better to think about this nation’s people, so I can grow stronger to get hurt later.

Menjadi 20 (1)

 

201

Oke, sebelumnya, umur saya belum 20. Menjelang 20 tepatnya. 7 Agustus nanti baru 20, kali aja ada yang rajin ngasih hadiah. Lah, promosi jadinya.

There is this thing, I’m having lots of worry these days.

Ngapain hidup?

Buat apa hidup?

Mau jadi apa hidup?

Selama ini ngapain aja hidup?

WHY AM I ALIVE?

Bingung.

Hal ini lebih parah lagi kalau ngeliat temen sendiri udah sukses memenangkan sebuah kejuaraan. Atau pergi ke suatu negara untuk mewakili Indonesia dalam suatu ajang. Konteksnya mungkin bukan soal mereka menang, dapat uang, dapat penghargaan, bisa keluar negeri. Bukan, bukan itu tentunya. Tetapi lebih kepada kagum, karena mereka telah menemukan ‘minat’ dan juga mungkin sebenarnya adalah ‘bakat’ mereka.

Tapi kata teman baik saya bingung itu tanda berpikir. Yang ngga baik itu kalau sudah tidak peduli.

Ah ya..

Berpikir, saya terlalu banyak berpikir akhir-akhir ini.

Suatu ketika saya mengendarai motor menuju sebuah toko buku favorit saya. Seperti biasa, hobi saya membeli buku memang harus dipenuhi setiap bulan. Atau setidaknya ketika sedang bosan, membaca buku-buku walau hanya sinopsisnya membantu saya menghilangkan pikiran yang terlalu mumet. Lalu di jalan saya melewati seseorang yang membawa gerobak sampah. Tiba-tiba motor saya berjalan lambat. 40 km/jam. 30 km/jam. 20 km/jam. Kadang malah berhenti.

Merenung.

Seberapa penting saya membaca buku sampai ‘harus’ saya beli bukunya?

Kalau sudah dibeli dan dibaca, lalu untuk apa?

Tidakkah bapak itu lebih butuh uang yang saya punya untuk beli buku?

Lalu untuk apa saya beli buku?

Walaupun saya lelah bertanya pada diri sendiri, pada akhirnya saya melanjutkan perjalanan ke toko buku tersebut. Hati saya mungkin tenang karena berhasil membeli buku yang saya incar. Tetapi hati saya yang lain perih, kenapa saya harus beli buku?

Lalu akhirnya saya cuma duduk-duduk bingung di rumah.

Tapi tak apa, mungkin diri saya sedang mencari jawaban atas banyak hal yang tiba-tiba jadi pertanyaan seperti di atas. Pada dasarnya semua orang mungkin berpikiran tidak jauh berbeda dengan apa yang saya pikirkan. Lebih banyak merenung membuat saya lebih merencanakan banyak hal. Terutama saat belanja.

Ya, saat mengeluarkan uang yang masih di’ulurkan’ oleh orang tua saya.

Banjarmasin, when night is too dark to see anylight.

22.26