Saya dan Dosen Penyandang Tunanetra

Since I’m doing this, at least I need to do my best right here.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat bingung dengan diri saya sendiri. Entah soal program studi yang saya pilih saat ini ternyata jauh melenceng dari minat atau bakat saya, atau memang diri saya yang butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan program studi ini.

PLB, Pendidikan Luar Biasa.

Suatu ketika HIMA PLB FKIP UNLAM, seperti yang pernah saya posting di facebook mengenai Hari Disabilitas Internasional, kami menyelenggarakan kegiatan jalan santai. Semoga suatu saat nanti saya bisa berbagi lebih soal jalan santai kemarin. Pada hari berikutnya, dengan rekomendasi dari ketua prodi untuk menyenggarakan sebuah kuliah umum untuk semua mahasiswa PLB, baik yang reguler atau pun proyek.

Ah ya, saya tidak tahu soal prodi atau jurusan lain, tetapi PLB memiliki kelas proyek yang diisi oleh guru-guru yang mendapatkan beasiswa untuk mengajar sebagai GPK atau Guru Pendamping Khusus.

7 Desember 2015, seorang Professor dari UPI datang ke kampus kami. Beliau adalah narasumber utama kami, Bapak Didi Tarsidi. Sejujurnya saya lupa title beliau, tetapi beliau adalah dosennya dosen-dosen kami di PLB. Jadi saya yakin beliau telah melampaui sekian jenjang pendidikan untuk menjadi diri beliau saat ini.

Kami terperangah.

Saya belum pernah bertemu seseorang penyandang disabilitas yang memang benar-benar sukses dan mandiri dalam hidupnya. Karena itu saya cukup terpana, terkejut, terharu, dan bahagia melihat beliau dengan kacamata hitamdan tongkat masuk ke Aula PLB. Sebelumnya saya akan minta maaf pada Bapak Didi Taridi jika kemudian ada kata-kata saya yang meninggung beliau.

Beliau tunanetra sudah hampir 50 tahun, dengan kehilangan penglihatan sempurna atau totally blindness. Pak Didi menyatakan bahwa beliau masih ingat warna merah, warna biru langit, wajah ayahnya, wajah ibunya, karena beliau kehilangan kemampuan melihatnya sejak berumur 5 tahun. Beliau terkena penyakit campak dan terlambat dibawa ke rumah sakit karena hidup di kampung. Bagian menyedihkannya adalah ibu beliau merasa bersalah karena justru membawa beliau keliling dukun, bidan, mantri atau apa pun di kampung, bukan segera langsung membawa beliau ke rumah sakit.

Setelah beliau sembuh dari penyakit campaknya, Pak Didi dikirim ke sebuah sekolah berasrama yang memberikan pelayanan lebih untuk penyandang disabilitas. Setelah sekian tahun, Pak Didi tidak pernah dijenguk oleh orang tuanya karena dianggap beliau telah menjadi milik negara sehingga tidak boleh dikunjungi oleh orang tua. Walau sebenarnya tidak demikian, hanya salah paham.

Baik, singkat cerita Pak Didi banyak mengisahkan bagaimana beliau menjadi guru Bahasa Indonesia untuk orang asing, usaha beliau meminta untuk dibacakan buku oleh orang lain, dan aksesibilitas yang sangat terbatas saat itu. Beliau hidup dalam keterbatasan tanpa membutuhkan rasa kasihan dari orang lain. Meskipun sesekali beliau tetap menghargai pemberian orang lain, karena mungkin mereka ingin beramal atau sekedar membantu.

Saya sempat meneteskan air mata sementara beliau bercerita tentang bagaimana teknologi sangat amat membantu beliau. Seorang kakak tingkat kami justru menangis sekali ketika mendapatkan kesempatan untuk memberikan pertanyaan kepada beliau. Keadaannya cukup mengharukan, karena nama beliau sering disebut-sebut oleh dosen-dosen kami dan saat itu adalah kali pertama kami bertemu dengan beliau.

Pak Didi juga menunjukkan bagaimana cara beliau menggunakan laptop, handphone, dan cara mudah membaca angka yang tertera pada uang atau membaca buku. Semuanya mudah saat ini, dan beliau sudah sangat banyak membantu menerjemahkan buku-buku asing yang sangat berguna bagi dunia PLB.

“Bagi seorang tunanetra sangat normal untuk belajar hidup sebagaimana orang pada umumnya.”

Penyandang tunanetra bukan berarti tidak mandiri, namun mereka mempunyai cara sendiri untuk mengurus diri. Mereka adalah orang normal di tempat mereka biasa tinggal, belajar, beraktivitas, namun adalah seorang yang sangat membutuhkan bantuan di tempat yang baru. Tidak semua tunanetra butuh untuk dituntun di tempat yang “biasa” untuk mereka, namun membantu adalah kewajiban kita di tempat yang belum pernah mereka kunjungi.

Alat elektronik sudah banyak yang diciptakan untuk mengakomodasi kebutuhan mereka, walaupun masih banyak fasilitas yang berlu dimodifikasi agar “akses”untuk mereka. Mereka bisa menggunakan laptop, handphone, reading box, atau alat lain, namun jalan raya masih banyak yang belum menyediakan akses untuk mereka.

Saya belajar banyak dari Pak Didi. Ketabahan, kesabaran, ketekunan, sehingga beliau menjadi seseorang yang sangat menjadi panutan di dunia. Beliau adalah pejuang hak-hak disabilitas, sekaligus penyandang disabilitas itu sendiri.

Menjadi kecil saya berhadapan dengan beliau. 20 tahun hidup dengan mata awas belum banyak yang bisa saya lakukan untuk masyarakat. Tidak lalu saya merasa yakin bisa menebar manfaat dengan menjalani sisa hidup sebagai penyandang tunanetra. Ya ngga gitu juga sih.

Bapak Didi Tarsidi adalah contoh pasti seseorang yang dapat melampaui keterbatasannya menjadi seseorang yang amat berharga bagi banyak orang. Jika banyak orang masih merasa terbatas dengan apa yang ia miliki saat ini, mengeluh akan keadaan, setidaknya kita bisa menengok beliau. Seterbatas apa pun keadaan kita, adalah pasti Allah menyertakan keleluasaan di belakangnya.

Pak Didi Tarsidi membuka mata kami untuk melihat lebih luas, bahwa ada banyak hal yang masih bisa kita lakukan dengan keterbatasan yang kita miliki. Bukan mengeluh atas keadaan, tapi melampaui keadaan jauh di depannya, mengusahakan lebih baik, menjadi pribadi yang lebih sempurna, mengusahakan segala peluang yang ada.

Siapa tau jodoh datang karena semua usaha yang telah dilakukan untuk menjadikan diri lebih baik. Wakakak, semoga ya.

Saya berharap bisa bertemu Pak Didi lagi, sehingga bisa bertanya lebih banyak tentang beliau.

Berhubung kemarin saya divisi acara yang tidak sempat foto dengan beliau, saya sertakan foto yang saya ambil dari salah satu situs di internet saja ya. Ini adalah foto beliau dengan salah satu kakak tingkat saya di PLB.

Ka Elysa maafin gue make foto lu Kak.

12356476_1712203432342480_1570140994_n

Di akhir tulisan saya merasa lebih baik mengingat 6 dan 7 Desember tahun lalu. Saat ini mungkin saya tengah ragu dengan apa yang saya lakukan, mengapa saya memilih kuliah di prodi ini, mengapa saya memilih menjadi guru, dan segala mengapa yang muncul di kepala saya. Mungkin ini hanya esensi menjadi pemuda, merasa bingung harus menjadi apa untuk melakukan apa atau sebaliknya. Setidaknya saya punya waktu berusaha lebih baik di jalan ini, menjadi seseorang yang pernah dengan berapi-api memotivasi masa lalu saya.

Untuk teman-teman yang juga tengah merasa bimbang dengan hidupnya. SEMANGAT‼P

Salam Luar Biasa!

*maafkan jika typo membludak

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s