Kakek dengan Kursi Roda itu

Kakek

Suatu ketika saya pulang dari menjenguk adik saya di Al Falah Banjarbaru. Seperti biasa, saya melewati Jalan Gatot menuju rumah sepupu, karena saya anggap lebih singkat dan padat, biar jadi kalimat yang efektif. Lah apa sih.

Jika melewati jalan di mana saya pernah nyium aspal tempo hari, sebenarnya saya deg deg ples aneh. Karena takut jatuh lagi. Sekitar 3 meter dari tempat kecelakaan saya dulu, saya melewati seorang kakek di kursi roda. Beliau menjalankan kuris roda entah dengan kaki, atau dengan tangan yang memutar roda di samping kanan-kiri beliau. Sepeda motor yang saya kendarai masih lumayan lambat karena takut jatuh lagi di belokan. Setelah memperhatikan beliau dari kaca spion, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti di tanah yang tidak di aspal di kiri jalan.

Saya berlari ke arah kakek tadi,

Kai pian handak ke mana?” tanya saya dalam Bahasa Banjar, mau ke mana Kek?

“Ke sana,” tunjuk kakek tersebut ke arah jalan lurus di depan kami. Samar-samar saya mendengar azan Isya. Saya pikir beliau ingin ke Masjid, tapi tengok kanan-kiri tidak ada masjid di sekitar kami.

Ulun antarakan Kai lah,” kata saya, biar saya antarkan, Kek.

Nah, kada usah, kada usah. Tarima kasih banar, tapi kada usah,” jawab beliau, tidak usah, tidak usah. Terima kasih banyak tapi tidak usah.

Saya terdiam sesaat sampil beliau tetap menolak untuk di antarkan. Beliau terus menolak dengan alasan beliau kuat saja. Saya tetap membujuk agar beliau bisa sampai lebih cepat, tetapi beliau tetap menolak.

Ayuha kai ai, ulun tarus lah,” akhirnya saya mengalah, ya sudah Kek, saya terus ya.

Kakek tersebut berterima kasih kembali dan saya berlari menuju motor saya. Sebenarnya saya ingin melihat kakek tersebut lewat di samping saya sebelum berangkat, tetapi sepertinya justru beliau yang menunggu agar saya pergi terlebih dahulu. Akhirnya saya memutuskan melewati jembatan lebih dulu.

Sambil melanjutkan perjalanan ke rumah, saya terus berpikir mengapa kakek tadi tidak ingin saya antar. Mungkin beliau tidak ingin merasa dikasihani, karena seringnya orang membantu karena kasihan. Tapi tidak ada yang salah dari rasa kasihan menurut saya, karena itu berarti seseorang masih mempunyai hati yang baik dan naluri untuk mebantu.

Lalu saya ingat perkataan asisten dosen yang mengajar Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus saat semester 1 dulu, bahwa jika kita melihat seorang anak tertatih berjalan sambil berpegang pada pagar tidak perlu kita membantu mereka karena merasa kasihan. Jika kita melihat seorang anak berusaha keras naik tangga karena kakinya lemah, tidak tidak harus membantu sesakit apa pun hati kita melihatnya. Karena itu bagian dari mereka belajar untuk mandiri. Jika kita terus membantu, mereka tidak akan mandiri sampai kapan pun.

Saya pikir mungkin kakek tadi demikian. Sudah merasa mampu dan tidak perlu bantuan dari siapa pun untuk menuju ke suatu tempat.

Namun saya ingat lagi Abi yang pernah saya temui setelah sholat Isya dulu. Pernah saya menawarkan beliau untuk naik ke motor yang saya bawa, tapi beliau menolak, hingga akhirnya saya pulang ke rumah sendiri. Saya pikir, mungkin tidak hanya langkah menuju masjid yang dihitung pahalanya, tapi juga saat pulang dari masjid. Tapi sayangnya saya sotoy, jadi mohon diabaikan.

Kakek yang saya temui mengenakan sarung dan kopiah saat itu sehingga saya beranggapan beliau ingin sholat. Pikir saya, beliau ingin memaknai setiap usaha yang beliau lakukan untuk mendorong kursi rodanya sendiri ke masjid. Pasti ada pahala berlipat ganda di baliknya. Hingga pada akhirnya saya mengalah, pasti beliau tidak ingin kehilangan pahala dari usaha yang beliau lakukan karena bantuan yang saya tawarkan.

Namun tidak lalu saya orang baik hanya karena ingin membantu seorang kakek. Setidaknya naluri PLB saya tergerak, namun tanpa mempertimbangkan perasaan di kakek tadi. Beliau mengajarkan saya untuk menghargai setiap usaha orang membangun dirinya sendiri. Bahwa tidak semua usaha, harus dengan bantuan orang lain. Karena walau sendiri, ada banyak hal yang masih bisa dilakukan.

Semoga beliau sehat dan selalu kuat mendorong kursi rodanya.

Sampai jumpa lagi Kakek.

Rumah Sepupu, Banjarmasin, Hujan, Mau pulkam

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s