Awaiting

Awaiting-p1Since it seems like I don’t have lots of things to do these days, I tried to watch a movie.

Based on a true story. 2014 short movie.

Ada satu movie Korea yang baru saja saya tonton. Ah, mungkin tidak cukup dikatakan movie karna sebenarnya ia hanya sebuah film pendek berdurasi kurang dari 30 menit. Tetapi mungkin karena ceritanya yang sangat menyentuh, sehingga film pendek ini ditayangkan di Hongkong International Film Festival dan juga Busan International Film Festival. Setahu saya keduanya adalah film festival yang cukup terkenal di dunia. Beberapa film pendek terbaik Indonesia juga pernah diputar di sana.

Judulnya “Awaiting”, namun judul Koreanya adalah “Minwoo sii oneun nal”, Hari di Mana Minwoo Datang. Film pendek ini menceritakan tentang seorang wanita bernama Yeonhee. Bagian unik dari cerita ini adalah cara menyajikan sosok Yeonhee yang sebenarnya berusia lebih dari 80 tahun, dalam seseorang yang masih muda yaitu Moon Chaewon. Well, yah saya tahu dia adalah salah seorang aktris Korea yang terkenal dengan aktingnya yang memukau. Setidaknya saya benar-benar merasa perasaan Yeonhee yang diperankan oleh mbak ini.

Yeonhee hidup dalam kesehariannya yang terus diulang, dengan jadwal yang sudah tersusun sedemikian rupa. Setiap harinya Yeonhee akan menerima telepon seorang perempuan bernama Sara, dari Amerika. Lalu beliau mulai merapikan tempat tidur mandi, sikat gigi, menyapu rumah, menyiram bunga, memasak, dan menunggu seseorang datang.

Di deretan foto-foto yang ada, terlihat foto Yeonhee dengan seorang laki-laki yang sepertinya adalah suaminya, diperankan oleh Go Soo. Sedangkan foto lainnya adalah foto seorang nenek-nenek dengan seorang wanita muda yang sepertinya adalah anaknya.

Sebelum memulai hari Yeonhee harus meminum pil. Setelah meminumnya, setidaknya Yeonhee harus mengingat satu kejadian. Jika ia meminumnya 6 kali sehari, maka setidaknya ia dapat mengingat 6 kejadian dalam sehari dan menuliskanya pada kertas yang selalu ia bawa ke mana-mana.

Sosok wanita ini terperangkap pada sebuah nama bernama Minwoo. Bahkan saat ke tempat makan yang menyediakan makanan Pyongyang (ibukota Korea Utara), Yeonhee selalu mengingat bagaimana Minwoo pasti merindukan masakan daerah mereka. Suatu saat, jika Minwoo datang, aku pasti akan membawanya ke sini.

Beliau lalu mengikuti kelas senam yang diikuti oleh nenek-nenek, namun hanya Yeonhee saja dan instrukturnya yang terlihat muda. Walaupun demikian, gerakannya memang terlihat kurang terkoordinasi. Lalu Yeonhee akan mengikuti kelas menyusun balok, hampir seperti anak-anak, dengan seorang nenek dan diinstruksikan oleh seorang dokter muda. Lalu beliau akan ke pasar, membeli ikan, membeli bunga dan duduk di pinggir jalan sambil memikirkan apa yang telah dilakukannya seharian. Yeonhee mulai menulis satu persatu lalu terakhir Minwoo.

Penyakitku semakin parah. Jika demikian, apakah aku juga akan melupakan Minwoo dari ingatanku?

Yeonhee ikut pulang dengan seorang bapak-bapak. Yeonhee berterimakasih karena sudah bersedia mengantarkan setiap kali beliau butuh tumpangan. Kemudian si bapak mulai menyinggung soal Minwoo, bagaimana seharusnya Yeonhee bisa saja menitipkan apa yang ingin dibelinya, dan akan diantarkan oleh bapak tadi ke rumah Yeonhee. Atau bisa saja membeli makanan masak. Namun Yeonhee, dengan senyumnya berkata,

“Minwoo pasti kelelahan dan lapar akhir-akhir ini. Dia tidak bisa memakan masakan siapa saja. Dia hanya bisa memakan masakanku. Aku harus menyiapkannya sebelum dia datang,” dan bapak tadi hanya melihat kasihan kepada sosok Yeonhee.

Yeonhee akan pulang dan memasak, lalu menunggu Minwoo datang. Keadaan utara dan selatan sedang tegang, ia berjanji jika Minwoo datang, ia tidak akan membiarkanya melewati perbatasan lagi. Beliau menunggu bahkan sampai teridur. Yeonhee bermimpi Minwoo pulang ke rumah, namun saat dipeluk justru darah keluar dari punggung Minwoo (yang masih tidak diketahui siapa). Setelah dua kali bermimpi, seperti ditumpuk mimpinya, barulah Yeonhee terbangun. Hari sudah pagi, dan di meja masih ada makanan yang ditutup dengan tudung makanan atau apa saya lupa namanya.

Suatu pagi dua orang datang, menyatakan bahwa besok pagi mereka akan membawa Yeonhee ke Pyongyang. Yeonhee seakan bingung dan tidak mengerti apa yang tengah dibicarakan. Kemudian salah satu dari mereka menyebutkan nama Minwoo.

“Kim Minwoo. Anda tahu Kim Minwoo kan? Beliau masih hidup. Kami akan menjemputmu besok pagi jam 6,”

Yeonhee kemudian membaca sebuah surat yang menunjukkan bahwa Kim Minwoo yang berusia 86 tahun telah diketahui identitas aslinya dan masih hidup. Beliau kemudian mendapatkan telepon dari Sara, menyebutkan bahwa penantian beliau selama 60 tahun akhirnya sampai.

“Ingat Yeonhee, namanya Minwoo, dia adalah suami pertamamu. Cinta ayahku bertepuk sebelah tangan tetapi ia malah meninggalkan kita lebih cepat. Di kepalamu hanya ada Minwoo sehingga kau melupakan ayah dan aku. Aku sampai hampir tuli karena kau menyebutnya setiap hari. Namun akhirnya kau dapat menemuinya besok, penantianmu selama 60 tahun tidak sia-sia,”

“Kau tidak perlu bertanya siapa namanya. Catat apa yang ingin kau katakan dan jangan kaku. Aku yakin dia pun merindukanmu. Seandaiknya aku adalah anaknya, kau pasti akan lebih menyukaiku. Seandainya aku terlihat seperti Minwoo pasti kau akan lebih mencintaiku,”

Pada titik ini saya paham Sara adalah anak Yeonhee, namun memanggil ibunya dengan namanya. Sara adalah anak dari pernikahan kedua Yeonhee. Namun demikian, di pikiran Yeonhee hanya ada Minwoo dan ialah yang menyebabkan Yeonhee tidak tinggal dengan Sara serta tidak pernah meninggalkan rumah yang ditempatinya.

Setelah itu berubahlah wajah Moon Chaewon menjadi nenek Son Sook saat melihat ke cermin, bahwa itulah gambaran dirinya sebenarnya. Setelah banyak memasak akhirnya beliau berada di dalam sebuah bus sebagai Yeonhee muda yang bergantian dengan Yeonhee 60 tahun kemudian. Ia berusaha tersenyum mengingat akan bertemu dengan Minwoo lagi.

Namun dua orang yang sebelumnya datang ke rumah Yeonhee mengatakan, bahwa setelah bernegosiasi dengan tentara Pyongyang mereka memutuskan pertemuan keluarga hari itu tidak dapat dilakukan. Lalu terlihat banyak nenek dan kakek di dalam bus yang menangis. Yeonhee tidak dapat menerima sehingga meminta turun dan pintu bus dibukakan.

Yeonhee berjalan menuju tentara yang menjaga perbatasan. Sambil membawa bekal makanan di tangannya ia berkata, “Tidak bisakah kalian membiarkan aku saja masuk? aAu harus menyerahkan ini kepada Minwoo. Aku hanya akan mengantarkan ikan dan sup ini. Bisakah? Atau setidaknya tolong ambil ini dan serahkan kepada Minwoo. Aku mohon, serahkan ini kepada Minwoo,”

Tentara yang melihat Yeonhee terlihat merasa kasihan. Dua orang sebelumnya berusaha untuk mencegah dan mengatakan bahwa lain kali mereka akan membiarkannya masuk. Bekal yang dibawa Yeonhee tumpah. Ia dipaksa untuk kembali masuk ke dalam bus. Yeonhee berusaha untuk tetap memaksa namun tidak cukup memiliki kekuatan.

Ada banyak bus di belakang bus Yeonhee. Pertemuan keluarga kedua negara kali itu batal. Setidaknya saat itu ada sekitar 70.000 orang Korea yang salah diletakkan di Pyongyang yang masih hidup. Diperkirakan dalam lima tahun jumlah mereka akan berkurang sampai 30.000.

Di akhir cerita diperlihatkan bagaimana Minwoo mengambil topi dan berangkat dari rumah. Ia bilang akan kembali pada hari Sabtu, Yeonhee tidak perlu menunggu lama. Yeonhee berusaha mengantar Minwoo sambil berjalan, lalu disuruh masuk ke rumah.

“Aku akan pergi dan kembali nanti,” ucapnya saat itu.

Selesai.

Wah, sebenarnya filmnya hanya 26 menit tapi saya menulisnya sepanjang jalan kenangan. Hahaha. Walau tanpa menonton filmnya secara lengkap, pertama kali melihat adegan di perbatasan saya menangis. Setidaknya itulah yang dirasakan masyarakat Korea setelah perang terjadi beberapa tahun yang lalu.

Tidak perlu lah ya saya menyebutkan keadaan di Palestina, Suriah, Iran, Iraq, dan negara-negara Timur Tengah atau negara lain yang sedang dalam keadaan genting karena peperangan. Walau saya yakin, ceritanya akan jauh lebih sedih dan saya akan menangis siang malam karena tidak sanggup dengan kesedihan tanpa akhir masyarakat di sana.

Saya belajar bahwa peperangan hanya akan membuat lebih banyak orang menderita. Seakan merasakan apa yang dirasakan Yeonhee, menanti seseorang yang entah meninggal atau masih hidup selama 60 tahun. Ah, cinta seperti apa yang membuat seseorang dapat menunggu selama itu?

Berat sekali rasanya jika harus seperti Yeonhee, terkurung dalam bayangan masa lalu tentang cinta dan suami pertamanya. Bahkan tidak tergerak dengan suami kedua yang melahirkan anak bernama Sara. Melakukan hal yang sama setiap hari, memikirkan hal yang sama setiap hari, Minwoo, hanya Minwoo. Lalu ketika memiliki kemungkinan untuk bertemu, tetapi justru…

Ah, dalam keadaan demikian ingin sekalinya menyalahkan seseorang. Tapi siapa? Pemerintah? Bahkan seujung jari menghilangkan kesedihan pun tidak mungkin.

Walaupun demikian mungkin kisah cinta seperti ini akan sulit ditemukan jaman sekarang. Cinta sejati. Cinta selamanya. Well, yah walaupun ngga romantis-romantis banget, tapi lumayanlah untuk meningkatkan rasa cinta pada pasangan *duh. Pasangan hidup ya, bukan pasangan sementara aka pacar. Ha.

Yang ngga suka film mellow yang usah nonton. Cautionnya itu aja sih. Dan susah dicari sebenernya.

 

Rantau, 23.43

Am I searching for you?

Saya dan Dosen Penyandang Tunanetra

Since I’m doing this, at least I need to do my best right here.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat bingung dengan diri saya sendiri. Entah soal program studi yang saya pilih saat ini ternyata jauh melenceng dari minat atau bakat saya, atau memang diri saya yang butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan program studi ini.

PLB, Pendidikan Luar Biasa.

Suatu ketika HIMA PLB FKIP UNLAM, seperti yang pernah saya posting di facebook mengenai Hari Disabilitas Internasional, kami menyelenggarakan kegiatan jalan santai. Semoga suatu saat nanti saya bisa berbagi lebih soal jalan santai kemarin. Pada hari berikutnya, dengan rekomendasi dari ketua prodi untuk menyenggarakan sebuah kuliah umum untuk semua mahasiswa PLB, baik yang reguler atau pun proyek.

Ah ya, saya tidak tahu soal prodi atau jurusan lain, tetapi PLB memiliki kelas proyek yang diisi oleh guru-guru yang mendapatkan beasiswa untuk mengajar sebagai GPK atau Guru Pendamping Khusus.

7 Desember 2015, seorang Professor dari UPI datang ke kampus kami. Beliau adalah narasumber utama kami, Bapak Didi Tarsidi. Sejujurnya saya lupa title beliau, tetapi beliau adalah dosennya dosen-dosen kami di PLB. Jadi saya yakin beliau telah melampaui sekian jenjang pendidikan untuk menjadi diri beliau saat ini.

Kami terperangah.

Saya belum pernah bertemu seseorang penyandang disabilitas yang memang benar-benar sukses dan mandiri dalam hidupnya. Karena itu saya cukup terpana, terkejut, terharu, dan bahagia melihat beliau dengan kacamata hitamdan tongkat masuk ke Aula PLB. Sebelumnya saya akan minta maaf pada Bapak Didi Taridi jika kemudian ada kata-kata saya yang meninggung beliau.

Beliau tunanetra sudah hampir 50 tahun, dengan kehilangan penglihatan sempurna atau totally blindness. Pak Didi menyatakan bahwa beliau masih ingat warna merah, warna biru langit, wajah ayahnya, wajah ibunya, karena beliau kehilangan kemampuan melihatnya sejak berumur 5 tahun. Beliau terkena penyakit campak dan terlambat dibawa ke rumah sakit karena hidup di kampung. Bagian menyedihkannya adalah ibu beliau merasa bersalah karena justru membawa beliau keliling dukun, bidan, mantri atau apa pun di kampung, bukan segera langsung membawa beliau ke rumah sakit.

Setelah beliau sembuh dari penyakit campaknya, Pak Didi dikirim ke sebuah sekolah berasrama yang memberikan pelayanan lebih untuk penyandang disabilitas. Setelah sekian tahun, Pak Didi tidak pernah dijenguk oleh orang tuanya karena dianggap beliau telah menjadi milik negara sehingga tidak boleh dikunjungi oleh orang tua. Walau sebenarnya tidak demikian, hanya salah paham.

Baik, singkat cerita Pak Didi banyak mengisahkan bagaimana beliau menjadi guru Bahasa Indonesia untuk orang asing, usaha beliau meminta untuk dibacakan buku oleh orang lain, dan aksesibilitas yang sangat terbatas saat itu. Beliau hidup dalam keterbatasan tanpa membutuhkan rasa kasihan dari orang lain. Meskipun sesekali beliau tetap menghargai pemberian orang lain, karena mungkin mereka ingin beramal atau sekedar membantu.

Saya sempat meneteskan air mata sementara beliau bercerita tentang bagaimana teknologi sangat amat membantu beliau. Seorang kakak tingkat kami justru menangis sekali ketika mendapatkan kesempatan untuk memberikan pertanyaan kepada beliau. Keadaannya cukup mengharukan, karena nama beliau sering disebut-sebut oleh dosen-dosen kami dan saat itu adalah kali pertama kami bertemu dengan beliau.

Pak Didi juga menunjukkan bagaimana cara beliau menggunakan laptop, handphone, dan cara mudah membaca angka yang tertera pada uang atau membaca buku. Semuanya mudah saat ini, dan beliau sudah sangat banyak membantu menerjemahkan buku-buku asing yang sangat berguna bagi dunia PLB.

“Bagi seorang tunanetra sangat normal untuk belajar hidup sebagaimana orang pada umumnya.”

Penyandang tunanetra bukan berarti tidak mandiri, namun mereka mempunyai cara sendiri untuk mengurus diri. Mereka adalah orang normal di tempat mereka biasa tinggal, belajar, beraktivitas, namun adalah seorang yang sangat membutuhkan bantuan di tempat yang baru. Tidak semua tunanetra butuh untuk dituntun di tempat yang “biasa” untuk mereka, namun membantu adalah kewajiban kita di tempat yang belum pernah mereka kunjungi.

Alat elektronik sudah banyak yang diciptakan untuk mengakomodasi kebutuhan mereka, walaupun masih banyak fasilitas yang berlu dimodifikasi agar “akses”untuk mereka. Mereka bisa menggunakan laptop, handphone, reading box, atau alat lain, namun jalan raya masih banyak yang belum menyediakan akses untuk mereka.

Saya belajar banyak dari Pak Didi. Ketabahan, kesabaran, ketekunan, sehingga beliau menjadi seseorang yang sangat menjadi panutan di dunia. Beliau adalah pejuang hak-hak disabilitas, sekaligus penyandang disabilitas itu sendiri.

Menjadi kecil saya berhadapan dengan beliau. 20 tahun hidup dengan mata awas belum banyak yang bisa saya lakukan untuk masyarakat. Tidak lalu saya merasa yakin bisa menebar manfaat dengan menjalani sisa hidup sebagai penyandang tunanetra. Ya ngga gitu juga sih.

Bapak Didi Tarsidi adalah contoh pasti seseorang yang dapat melampaui keterbatasannya menjadi seseorang yang amat berharga bagi banyak orang. Jika banyak orang masih merasa terbatas dengan apa yang ia miliki saat ini, mengeluh akan keadaan, setidaknya kita bisa menengok beliau. Seterbatas apa pun keadaan kita, adalah pasti Allah menyertakan keleluasaan di belakangnya.

Pak Didi Tarsidi membuka mata kami untuk melihat lebih luas, bahwa ada banyak hal yang masih bisa kita lakukan dengan keterbatasan yang kita miliki. Bukan mengeluh atas keadaan, tapi melampaui keadaan jauh di depannya, mengusahakan lebih baik, menjadi pribadi yang lebih sempurna, mengusahakan segala peluang yang ada.

Siapa tau jodoh datang karena semua usaha yang telah dilakukan untuk menjadikan diri lebih baik. Wakakak, semoga ya.

Saya berharap bisa bertemu Pak Didi lagi, sehingga bisa bertanya lebih banyak tentang beliau.

Berhubung kemarin saya divisi acara yang tidak sempat foto dengan beliau, saya sertakan foto yang saya ambil dari salah satu situs di internet saja ya. Ini adalah foto beliau dengan salah satu kakak tingkat saya di PLB.

Ka Elysa maafin gue make foto lu Kak.

12356476_1712203432342480_1570140994_n

Di akhir tulisan saya merasa lebih baik mengingat 6 dan 7 Desember tahun lalu. Saat ini mungkin saya tengah ragu dengan apa yang saya lakukan, mengapa saya memilih kuliah di prodi ini, mengapa saya memilih menjadi guru, dan segala mengapa yang muncul di kepala saya. Mungkin ini hanya esensi menjadi pemuda, merasa bingung harus menjadi apa untuk melakukan apa atau sebaliknya. Setidaknya saya punya waktu berusaha lebih baik di jalan ini, menjadi seseorang yang pernah dengan berapi-api memotivasi masa lalu saya.

Untuk teman-teman yang juga tengah merasa bimbang dengan hidupnya. SEMANGAT‼P

Salam Luar Biasa!

*maafkan jika typo membludak

 

Kakek dengan Kursi Roda itu

Kakek

Suatu ketika saya pulang dari menjenguk adik saya di Al Falah Banjarbaru. Seperti biasa, saya melewati Jalan Gatot menuju rumah sepupu, karena saya anggap lebih singkat dan padat, biar jadi kalimat yang efektif. Lah apa sih.

Jika melewati jalan di mana saya pernah nyium aspal tempo hari, sebenarnya saya deg deg ples aneh. Karena takut jatuh lagi. Sekitar 3 meter dari tempat kecelakaan saya dulu, saya melewati seorang kakek di kursi roda. Beliau menjalankan kuris roda entah dengan kaki, atau dengan tangan yang memutar roda di samping kanan-kiri beliau. Sepeda motor yang saya kendarai masih lumayan lambat karena takut jatuh lagi di belokan. Setelah memperhatikan beliau dari kaca spion, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti di tanah yang tidak di aspal di kiri jalan.

Saya berlari ke arah kakek tadi,

Kai pian handak ke mana?” tanya saya dalam Bahasa Banjar, mau ke mana Kek?

“Ke sana,” tunjuk kakek tersebut ke arah jalan lurus di depan kami. Samar-samar saya mendengar azan Isya. Saya pikir beliau ingin ke Masjid, tapi tengok kanan-kiri tidak ada masjid di sekitar kami.

Ulun antarakan Kai lah,” kata saya, biar saya antarkan, Kek.

Nah, kada usah, kada usah. Tarima kasih banar, tapi kada usah,” jawab beliau, tidak usah, tidak usah. Terima kasih banyak tapi tidak usah.

Saya terdiam sesaat sampil beliau tetap menolak untuk di antarkan. Beliau terus menolak dengan alasan beliau kuat saja. Saya tetap membujuk agar beliau bisa sampai lebih cepat, tetapi beliau tetap menolak.

Ayuha kai ai, ulun tarus lah,” akhirnya saya mengalah, ya sudah Kek, saya terus ya.

Kakek tersebut berterima kasih kembali dan saya berlari menuju motor saya. Sebenarnya saya ingin melihat kakek tersebut lewat di samping saya sebelum berangkat, tetapi sepertinya justru beliau yang menunggu agar saya pergi terlebih dahulu. Akhirnya saya memutuskan melewati jembatan lebih dulu.

Sambil melanjutkan perjalanan ke rumah, saya terus berpikir mengapa kakek tadi tidak ingin saya antar. Mungkin beliau tidak ingin merasa dikasihani, karena seringnya orang membantu karena kasihan. Tapi tidak ada yang salah dari rasa kasihan menurut saya, karena itu berarti seseorang masih mempunyai hati yang baik dan naluri untuk mebantu.

Lalu saya ingat perkataan asisten dosen yang mengajar Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus saat semester 1 dulu, bahwa jika kita melihat seorang anak tertatih berjalan sambil berpegang pada pagar tidak perlu kita membantu mereka karena merasa kasihan. Jika kita melihat seorang anak berusaha keras naik tangga karena kakinya lemah, tidak tidak harus membantu sesakit apa pun hati kita melihatnya. Karena itu bagian dari mereka belajar untuk mandiri. Jika kita terus membantu, mereka tidak akan mandiri sampai kapan pun.

Saya pikir mungkin kakek tadi demikian. Sudah merasa mampu dan tidak perlu bantuan dari siapa pun untuk menuju ke suatu tempat.

Namun saya ingat lagi Abi yang pernah saya temui setelah sholat Isya dulu. Pernah saya menawarkan beliau untuk naik ke motor yang saya bawa, tapi beliau menolak, hingga akhirnya saya pulang ke rumah sendiri. Saya pikir, mungkin tidak hanya langkah menuju masjid yang dihitung pahalanya, tapi juga saat pulang dari masjid. Tapi sayangnya saya sotoy, jadi mohon diabaikan.

Kakek yang saya temui mengenakan sarung dan kopiah saat itu sehingga saya beranggapan beliau ingin sholat. Pikir saya, beliau ingin memaknai setiap usaha yang beliau lakukan untuk mendorong kursi rodanya sendiri ke masjid. Pasti ada pahala berlipat ganda di baliknya. Hingga pada akhirnya saya mengalah, pasti beliau tidak ingin kehilangan pahala dari usaha yang beliau lakukan karena bantuan yang saya tawarkan.

Namun tidak lalu saya orang baik hanya karena ingin membantu seorang kakek. Setidaknya naluri PLB saya tergerak, namun tanpa mempertimbangkan perasaan di kakek tadi. Beliau mengajarkan saya untuk menghargai setiap usaha orang membangun dirinya sendiri. Bahwa tidak semua usaha, harus dengan bantuan orang lain. Karena walau sendiri, ada banyak hal yang masih bisa dilakukan.

Semoga beliau sehat dan selalu kuat mendorong kursi rodanya.

Sampai jumpa lagi Kakek.

Rumah Sepupu, Banjarmasin, Hujan, Mau pulkam

 

Mencari diri

Saya terduduk di bagian belakang ruangan mencari sesuatu yang benar-benar milik saya, sesuatu yang ingin saya lakukan.
Masa depan, mengapa begitu rumit untuk dirumuskan, setidaknya bagi saya. Terduduk lamaaa di kamar tanpa berbuat apa pun menjadi sesuatu yang kini lebih banyak dilakukan. Mungkin karena liburan, tapi entah. Dunia membuat segalanya berputar.
Saya jadi paham mengapa beberapa pemuda memilih narkoba dan miras jika melihat keadaan saya saat ini. Oh, bukan berarti saya ingin mendekatinya. Tapi cukup paham mengapa seakan tak ada hal yang cukup menyenangkan untuk dilakukan, tidak ada bakat, tidak ada harapan.
Walau saya tidak separah itu, Alhamdulillah.

Mencari diri.
Seakan jauh dan tak kan bertemu, kau kucari.
Walau kini aku bangkit dan menjadi diri lain sesaat. Agar jalan yang ‘pernah’ kupilih dan menjadi jelmaan palsu masa depan tanpa beban.
Aku mencari dirimu, diriku sendiri.
Bahkan dalam lelah yang aku ciptakan tanpa tau ada apa, dalam rebah yang entah kapan berpulang.