Diary Mahasiswa

Percayalah, Allah Tidak Akan Membuat Kecewa

Bagi saya, menjadi salah satu dari ribuan alumni Insan Cendekia adalah suatu anugerah. Sesuatu yang hanya sebatas angan bagi saya delapan tahun yang lalu.

*

Saya masih kelas lima SD ketika pertama kali mendengar nama Insan Cendekia. Tidak banyak yang saya ketahui saat itu. Saya hanya mengerti bahwa sekolah itu adalah sekolah yang bagus dari segi agama dan ilmu pengetahuan umumnya. Sekolah yang dibangun oleh Pak Habibie untuk menciptakan generasi masa depan yang menguasai IMTAQ dan IPTEK.

Keluarga saya tinggal di dalam sebuah flat besar dengan keluarga lain. Flat tersebut dibagi dua sehingga keluarga saya menempati dua buah ruangan untuk enam orang: orang tua dan saya empat bersaudara. Seorang kakak kelas dari keluarga yang tinggal bersama kami memutuskan untuk pulang ke Indonesia setelah menyelesaikan SMPnya di Sekolah Indonesia Riyadh, Saudi Arabia. Kakak tersebut berkeinginan untuk melanjutkan sekolahnya ke IC. Banyak pengetahuan tentang IC saya dapat dari kakak tersebut. Dari beberapa pembicaraan kakak dengan beberapa orang, saya mengerti sekali bahwa IC adalah sekolah yang luar biasa.

Terbersit di dalam hati saya untuk menyusul kakak tersebut nanti, lima tahun yang akan datang. Hal ini saya utarakan ketika mengantar kakak tersebut ke bandara. Ayah saya setuju, beliau meminta saya untuk belajar yang rajin agar dapat melanjutkan ke sana. Banyak sekali saingan bahkan ketika itu, lima tahun sebelum saya juga ikut bersaing. Kakak tersebut pasti sangat ingin masuk ke IC sehingga memutuskan untuk berpisah dengan keluarga.

Kabar kurang baiknya adalah kakak tersebut tidak diterima dengan alasan tidak berasal dari pondok pesantren. Isu yang beredar adalah mayoritas yang diterima adalah alumni pondok pesantren, anak-anak yang memiliki surat keterangan pernah tinggal di asrama.

Orang tua saya mencatat baik alasan kakak tersebut tidak diterima. Dengan beasiswa yang ditawarkan, orang tua sangat ingin saya sekolah di tempat yang baik tanpa harus membayar mahal. Keluarga saya bukan keluarga yang mempu membiayai sekolah anaknya jika SPPnya mencapai satu juta setiap bulan. Saya memiliki tiga adik saat itu yang juga membutuhkan biaya untuk menempuh sekolah.

Saya menyelesaikan SD di Sekolah Indonesia Riyadh. Sejak saat itu saya selalu mengatakan kepada siapa pun yang saya temui bahwa saya ingin masuk IC, sekolah yang dibangun oleh Pak Habibie. Berpikir bahwa semua orang mendukung, saya menjadi sangat bersemangat. Orang tua mengusulkan untuk masuk ke pondok pesantren selepas SD. Saat itu ibu saya belum memiliki keinginan untuk pulang ke Indonesia. Kami baru tinggal di Saudi Arabia kurang lebih tiga tahun. Akhirnya, orang tua memutuskan agar saya pulang ke Indonesia pertengahan kelas dua SMP. Saya menurut. Perpisahan yang amat menyedihkan bagi saya saat itu. Semua teman perempuan menangisi kepergian saya. Guru-guru saya yang sangat baik mendoakan saya dan berharap saya tetap mengontak teman-teman di Riyadh. Saya pasti sangat merindukan mereka.

Saya pulang ke Indonesia bersama ayah dan adik perempuan saya. Ibu dan tiga adik laki-laki saya akan tetap tinggal di Riyadh. Ayah dan adik hanya akan menemani saya di Indonesia selama dua minggu. Pukulan bagi saya untuk benar-benar berpisah dengan keluarga. Saya menangis ketika ayah mengajak saya mengantar barang ke rumah baru saya yaitu asrama. Ketika pertama datang ke sekolah itu saya sempat pusing karena duduk di sepeda motor selama lima belas menit. Saudi Arabia tidak menggunakan sepeda motor sebagai kendaraan umum. Transprtation lag? Padahal saya hanya lima tahun kurang pergi dari Indonesia.

Setidaknya saya senang karena lingkungan sekolah dipernuhi oleh tumbuhan, mulai pohon karet, pohon kelapa sampai rumput dan hutan. Saya sempat parno dan merekam hutan-hutan di pinggir jalan selama perjalanan dari bandara Syamsudin Noor di Banjarmasin sampai ke kota tempat saya tinggal, Rantau. Saya tidak tahu Indonesia seindah ini. Mungkin Jakarta berbeda, tetapi Kalimantan adalah daerah yang sangat indah. Terkagum-kagum saya, mengingat Saudi Arabia adalah negeri yang penuh padang pasir, yang jika dilihat dari atas pesawat hanya berwarna cokelat. Lain dengan pulau Kalimantan yang terlihat hijau dari atas. Hari-hari saya pasti akan menyenangkan. Tetapi inilah Kalimantan Selatan. Kota saya apalagi, belum semaju kota Banjarmasin pastinya. Saya mengeluhkan pelajaran yang sama sekali berbeda dengan di Sekolah Indonesia Riyadh. Ingin sekali saya pulang, tetapi keinginan masuk IC menahan saya. Orang tua kembali mengingatkan tujuan saya pulang ke Indonesia. Saya tersadar dari kebingungan.

Kasihan melihat saya seakan-akan terbelakang karena sekolah di kampung, ayah saya menawarkan saya kembali ke Saudi Arabia sebagai murid titipan selama tiga bulan. Saya baru tinggal di Indonesia selama sepuluh bulan. Orang tua dan empat adik kembali ke Indonesia untuk merayakan lebaran bersama di Indonesia. Tawaran dari ayah saya sanggupi. Saya harus mengejar ketertinggalan dari teman-teman di Saudi Arabia. Bagi saya saat itu, bekal saya tidak akan cukup jika saya mengandalkan belajar di kelas selama di kampung. Sekolah Indonesia Riyadh (SIR) mempunyai jadwal belajar yang lebih disiplin dibanding sekolah saya di kampung. Mungkin karena pondok pesantren saya memiliki MTs swasta sehingga belajar kami belum maksimal. Saya juga tidak bisa memungkiri bahwa MTs saya adalah MTs terbaik di kota itu. Tetapi saya masih merasa kurang.

Saya tetap menjadi murid kesayangan guru saya ketika kembali ke SIR. Teman-teman pun senang karena saya kembali. Saya ikuti pula bimbingan belajar setiap sore dan baru pulang ke rumah menjelang maghrib. Saat itu keluarga saya sudah pindah ke rumah yang jarak tempuhnya kurang lebih satu jam dari sekolah. Sampai di rumah pastinya sudah dalam keadaan menyedihkan. Bayang-bayang tentang IC menghantui sehingga saya tidak bisa hanya tenang di rumah. Saya berusaha belajar sebisa saya, tetap berusaha menjadi yang terbaik di kelas. Guru-guru masih terus menyemangati saya hingga pada waktunya saya harus kembali lagi ke Indonesia.

*

Saya merasa lebih siap saat itu. Kembali ke Indonesia berarti mulai mencari lebih lanjut cara mendaftar ke IC. Orang tua membantu doa karena tidak bisa membantu dalam banyak hal. Saya melakukan semuanya sendiri. Karena saya tinggal di asrama dan di rumah hanya ada kakek, saya pikir banyak kesulitan yang harus dilalui saat itu. Beruntung saya karena guru-guru di MTs mendukung keinginan saya untuk sekolah di IC. Beliau-beliau merasa bangga karena baru kali ini ada alumni MTs yang ingin melanjutkan ke luar Kalimantan. Wakil Kepala Madrasah juga mempersilakan saya untuk menggunakan komputer sekolah dan printer jika saya butuh mencetak surat keterangan apa pun. MTs kami tidak memiliki internet. Saya gunakan waktu pulang ke rumah setiap dua minggu sekali untuk ke warnet, mencari tahu tentang IC, mencari dokumen yang harus saya lengkapi. Bersyukur sekali saya karena seorang kakak sepupu tinggal di Jakarta sehingga bisa membantu untuk mengirimkan formulir pendaftaran yang tidak bisa saya cetak di sekolah. Kakak tersebut pula yang membantu saya untuk mengirimkan semua berkas pendaftaran saya ke IC.

Ketika berpikir dengan siapa harus pergi ke tempat tesnya nanti, oeang tua memberikan satu usulan. Bagaimana jika mengajak teman-teman di MTs untuk mendaftar ke IC bersama. Jadilah saya berpromosi kepada teman-teman yang memiliki posisi yang cukup baik di sekolah. Akhirnya enam orang teman saya menyusul ikut mendaftakan diri ke IC. Dengan nilai yang baik, saya pikir teman-teman juga berhak untuk sekolah di tempat yang jauh lebih baik. Setelah semua berkas terkumpul, saya kembali meminta kakak sepupu untuk mengirimkan berkas langsung ke IC. Alhamdulillah kami semua lulus seleksi berkas. Kami juga mendapatkan surat undangan untuk melakukan tes tertulis yang terletak di salah satu MAN di ibu kota. Hal ini jauh lebih baik. Guru Bahasa Indonesia bersedia menyetir mobil yang kami sewa, guru PKn juga ikut menemani kami ke Banjarmasin. Menjelang tes tertulis, saya berusaha untuk belajar meskipun rasanya kepala sudah hampir meledak. Saya tidak suka belajar terus-menerus, apalagi setelah Ujian Akhir Nasional telah berlalu.

Saya sempat menyesal karena malam sebelum tes tertulis saya dan teman-teman justru jalan-jalan ke mall dan makan di luar. Padahal mungkin lebih baik jika kami belajar. Ketika pulang ke wisma tempat kami menginap, gerbangnya sudah tertutup. Tepaksa akhirnya salah satu dari kami memanjat untuk meminta kunci kepada pemilik wisma di dalam. Saya ingat sekali rasa takut yang mampir ketika mencari pintu gerbang samping dalam kegelapan malam. Malam di Kalimantan cukup menyeramkan bagi saya. Teman-teman saya yang laki-laki justru tidak tidur untuk menyambut hari tes. Pagi sebelu tes pun kami tidak dapat menemukan penjual makanan. Ketika teman-teman menemukan makanan untuk sarapan, saya sudah gemetaran sehingga tidak sanggup untuk makan. Jadilah saya tes tanpa sarapan. Menganga smulut saya ketika melihat soal psikotes. Sungguh, saya tidak pernah mengerjakan soal seperti itu. Waktu yang diberikan cukup singkat sehingga mungkin saya terburu-buru mengerjakannya. Waktu istirahat tiba dan guru bahasa Indonesia saya terlihat khawatir kalau saya pingsan kerena tidak sarapan. Singkatnya waktu istirahat memaksa saya dan teman-teman untuk melakukan semuanya dengan cepat. Kami harus solat zuhur dan saya juga harus makan. Tes tertulis baru selesai sore hari. Itu pun sudah dipenuhi dengan rasa kantuk karena bingung dan tidak mengerti dengan soal yang diberikan. Setelah solat maghrib akhirnya kami pulang diantarkan ke rumah masing-masing dan saya ke asrama.

Waktu berjalan begitu lambat bagi saya saat itu. Rasa pesimis selalu muncul ketika mengingat bertapa saya tidak bisa mengerjakan soal-soal tes dengan baik. Terkadang rasa menyesal muncul. Di samping rasa pesimis yang saya dan teman-teman miliki, guru-guru tetap menyemangati saya. Saya pikir bahwa saya cukup berani dengan tidak mendaftar ke SMA manapun saat itu. Saat-saat sebelum pengumuman saya lalui dengan berdoa sepenuh hati kepada Allah SWT. Orang tua juga selalu menyemangati setiap kali menelpon dari Riyadh. Terkadang ayah juga menawarkan saya untuk kembali jika IC tidak menerima. Mungkin saya telah menyediakan cukup kesabaran untuk tidak merasa sakit hati jika tidak diterima.

Bagi saya saat itu yang penting adalah berdoa. Saya gantungkan semua harapan kepada yang Mahakuasa. Saya sungguh amat sangat ingin sekolah di IC. Saya butuh beasiswa di IC. Saya ingin mendapatkan pendidikan yang jauh lebih baik. Saya berdoa di setiap sujud terakhir solat, berharap bahwa IC adalah yang terbaik untuk saya. Ibadah-ibadah yang sempat absen ketika hidup di asrama coba saya bangun kembali. Saya masih tidak bisa solat tahajud. Akhirnya saya mencoba konsisten solat dhuha dan solat hajat. Ketika kakek saya puasa sunah Senin dan Kamis, saya juga ikut. Betapa saya merasa tidak ada lagi yang saya harapkan kecuali bisa sekolah di IC. Saya mencoba merubah doa. Harapan saya adalah bisa sekolah di mana saya bisa meringankan beban orang tua, di mana pun itu. Selalu saya selipkan doa diakhir bahwa IClah yang Allah pilihkan. Orang tua dan guru-guru serta keluarga juga menyemangati. Saya sempat terharu, tidak menyangka dukungan orang-orang tercinta begitu besar.

Ketika hari pengumuman, saya masih di rumah dan melakukan rutinitas seperti biasa. Setelah solat dhuha, saya berencana untuk pergi ke warnet melihat hasilnya. Pengumannya masih terbuka sehingga siapa pun bisa melihatnya. Kakek saya sudah bertanya sejak pagi tentang hasilnya. Saya katakan bahwa saya belum tahu. Seorang teman dari Kalimantan Timur yang saya temui ketika tes kemarin mengirimkan pesan selamat karena saya diterima. Bingung saya. Nama saya panjang dengan hanya satu kata. Tidak percaya, saya tanya apakah dia tahu nama lengkap saya. Dia tahu, FATHIMATUZZAHRA, demikian ia tulis. Saya bersyukur tiada henti. Kakek yang baru selesai mencuci baju bertanya ada apa. Saya diterima. Kakek juga ikut senang. Satu lagi cucunya akan merantau untuk belajar. Sujud syukur saya di kamar, menangis. Betapa saya menyadari bahwa pertolongan Allah itu ada dan nyata. Tidak ada sedikit pun kebohongan di dalamnya. Saya masih menangis ketika mengabari orang tua. Di balik bahagia yang ayah saya rasakan, beliau meminta saya untuk mengecek berkas yang harus saya kumpulkan lagi. Saya menurut dan mengucapkan terima kasih banyak kepada orang tua.

Hari-hari selanjutnya adalah persiapan menyambut kehidupan baru saya di IC. Allah Mahatahu dan tidak pernah melesat memberikan apa yang hambaNya pinta. Saya amat menyadari hal itu dan bertekad untuk melakukan semuanya sebaik usaha saya untuk masuk ke IC. Sedikit pun saya tidak pernah menyesali kehidupan di IC dan selalu bersyukur atas apa yang saya dapatkan.

Kini saya adalah alumni dan telah diterima di jurusan Pendidikan Luar Biasa di FKIP UNLAM, Kalimantan Selatan. Kembalinya saya ke Kalimantan tidak lain adalah permintaan orang tua. Sisi positifnya pastilah kemungkinan untuk membangun Kalimantan Selatan yang masih memiliki banyak kekurangan. Allah tidak pernah salah menempatkan hambaNya dalam suatu posisi. Jika tidak baik, pastilah ada jalan yang jauh lebih baik. Meyakini bahwa semuanya hanya milik Allah dan menggantungkan harapan hanya kepada Allah adalah jalan terbaik yang saya miliki selama hidup saya.

Ketika kita mengharapkan sesuatu, carilah alasan tepat mengapa menginginkannya. Jika baik, Allah pasti mengabulkannya. Masuk ke IC adalah keputusan Allah. Tidak ada satu manusia pun yang dapat memberikan kita jalan kecuali Tuhan yang Mahabesar. Percayalah, jika bukan IC pun, jalan yang lebih baik pasti terbuka lebar untuk kita semua. Semangat!

Banjarmasin, 4 Juni 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s